Tasawuf: Sejarah, Pengertian, Tokoh-tokohnya dan Tujuan Tasawuf

Tasawuf

Isi dari artikel ini ditulis oleh SOFYAN SUHERMAN.Terima kasih untuk sofyan yang telah menginzinkan isi artikel ini untuk dibagian ke publik. Semoga ilmunya bermanfaat.


# PENGERTIAN TASAWUF

Tasawuf menurut bahasa diambil dari kata shafa yang artinya bersih atau suci, sedangkan menurut istilah adalah tindakan membersihkan diri dari semua kotoran yang ada di dalam hati, seperti takabur, hasud, cinta dunia, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, ilmu tasawuf  juga sering disebut ilmu tazkiyyatun nufus yang artinya ilmu pembersih jiwa. 

Dr.Zaki Mubarak dalam kitabnya At-Tasawwuful Islami fil Adabi wal Akhlaq secara panjang lebar menjelaskan sejarah dan asal perkataan tasawwuf. 
Tentang asal-usul kata “sufi” itu sendiri terdapat perbedaan pendapat. Diantaranya ada yang manganggap bahwa secara lahiriah sebutan tersebut hanya semacam gelar, sebab dalam bahasa arab tidak terdapat akar katanya. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa kata “sufi” berasal dari shafa (bening). Ada yang berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata shafwun yang juga berarti bening. 

Sementara yang lain menganggap kata “sufi” itu berasal dari shaff, atau “barisan pertama dihadapan Allah”. Yang lainnya mengatakan bahwa kata tersebut dinisbatkan kepada Ahlu Suffah, sekelompok kaum Muhajirin dan Anshor yang miskin yang tinggal didalam sebuah ruangan disisi masjid Rasulullah SAW. Mereka yang tinggal didalam ruangan tersebut dikenal tekun beribadah. Menurut pendapat yang lain berasal dari sifat. 

Sementara pendapat berikutnya mengaggap kata itu berasal dari nama seorang penjaga Ka’bah di zaman jahiliah, yaitu Suffah ibnu Murrah. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa kata “sufi” tersebut berasal dari kata Yunani, sophia, yang berarti “kebijakan”. 

Namun kajian ilmiah membuktikan bahwa semua pendapat diatas kurang tepat. Yang lebih tepat ialah kata sufi (shufi) berasal dari shuf  atau bulu domba. Dikatakan “tashawwafa ar-rajul”, kau laki-laki memakai wol. Pada masa awal asketisisme, pakaian bulu domba adalah simbol para hamba Allah yang asketis. Para sufi sendiri banyak berpendapat seperti ini, diantaranya yaitu, As-sarraj Ath-Thusi dalam karyanya, Al-Luma. Pendapat ini dikokohkan Ibnu Khaldun dan lain-lain. (At-Taftazani, 1985, hlm. 21)

Berdasarkan beberapa pengertian dan sumber diatas dapat disimpulkan bahwa tasawuf sendiri masih menjadi perdebatan tentang asal-usul perkataanya, apakah kata tersebut berasal dari kata shafa yang artinya bersih atau suci, atau berasal dari kata shopia yang berarti “kebijakan” di dalam bahasa Yunani, atau dari sebutan gelar bagi seorang yang sholeh pada zaman jahiliah, atau dari kata sufi (shufi) berasal dari shuf yang berarti bulu domba. 

Namun, meski banyak perdebatan tentang asal-usul kata tasawuf itu sendiri, kebanyakan ahli sufi berpendapat bahwa, tasawuf itu berarti bersih atau tindakan membersihkan diri (tazkiyyatun nufus) dari pertipuan dunia dan senantiasa menghiasi diri dengan musyahadah kepada dzat Allah Rabbul ‘izzati.

# TOKOH-TOKOH TASAWUF YANG BERPENGARUH DI DUNIA

Terdapat banyak tokoh-tokoh tasawuf yang berpengaruh di dunia, diantaranya:
  1. Syaikh ‘Abdul Qodir Al-Jilani
  2. Syaikh Abi Hasan Ali As-Syadzili
  3. Syaikh Abu Yazid Al-Busthomi
  4. Syaikh Hasan Al-bashri
  5. Syaikh Abu Hamid Muhamad bin Muhamad Al-Ghozali

Dari beberapa tokoh-tokoh tasawuf tersebut, Syaikh Abdul Qodir adalah tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Beliau bernama Abu Muhamad ‘Abdul Qodir bin Abu Shalih ‘Abdullah bin Janki Dust bin Muhamad bin Dawud bin Musa bin ‘Abdullah bin al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Tholib. Beliau adalah seorang guru spiritual, pemimpin, dan orang yang mengenal Allah, pemimpin para wali, dan penghidup agama dan sunnah. 

Beliau lahir pada pertengahan bulan Ramadhan tahun 471 H di daerah Jilan. Di sana beliau melewati masa mudanya hingga berusia 18 tahun, kemudian beliau pindah ke Baghdad pada tahun 488 H hingga akhir hayatnya. 

Beliau terlahir dari keluarga yang amat akrab dengan ilmu dan karomah. Beliau menyadari bahwa menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat islam, baik laki-laki maupun perempuan, sehingga beliau merasa bahwa beliau harus bersegera dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan menguasi suatu ilmu dengan cara mendatangi tokoh-tokoh ulama pada masanya. 

Syaikh Abdul Qodir memulai pembelajaranya dengan mempelajari Al-Qur’an kepada beberapa orang guru, diantaranya adalah Abu Al-Wafa’ ‘Ali bin ‘Aqil Al-Hambali. Sedangkan ilmu hadits beliau pelajari dari para ahli hadits di masanya, seperti Abu Ghalib Muhamad bin Al-Hasan Al-Balaqolani dan lainya. Beliau juga belajar fiqih kepada para ulama dan para ahli fiqih terkrmuka di zamanya, seperti Abu Sa’ad Al-Mukharrimi yang memberinya “jubah tambalan” sebagai simbol bagi para penempuh jalan spiritual yang mulia. Beliau belajar sastra dan bahasa arab kepada Abu Zakariyya Yahya bin ‘Ali At-Tibrizi, dan belajar ilmu tarekat kepada Syaikh Hammad Ad-Dabbas. 

Dengan demikian, beliau menguasai ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu bahasa, dan sastra Arab. Beliau jua adalah salah satu pendiri tarekat Mu’tabarah yang ada di dunia umumnya dan khususnya yang ada di Indonesia, yaitu Tarekat Qodiriah. Selain Syaikh ‘Abdul Qodir Al-Jilani, masih banyak tokoh-tokoh sufi yang terkemuka lainya yang tidak mungkin dapat dirangkum di dalam pembahasan materi yang singkat ini. 

Berdasarkan kisah di atas dapat diambil beberapa pelajaran dan teladan yang baik dari tokoh-tokoh tasawuf tersebut, seperti Syaikh ‘Abdul Qodir Al-Jilani yaitu, sebagai seorang muslim dan muslimat kita sudah sepatutnya meneladani kesungguhan beliau dalam belajar dan menuntut ilmu untuk menghasilkan pengetahuan yang akan menuntun kita semua kepada  jalan keridhaan Allah dan jalan keselamatan dunia dan akherat. 

Di samping akan mendapatkan keridha’an Allah dan keselamatan dari-Nya, seorang yang memiliki ilmu juga akan diangkat derajatnya melebihi orang-orang yang tidak memiliki ilmu serta akan diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, seperti firman Allah berikut ini:

# MAKNA TASAWUF

Tasawuf tidak berarti tindakan pelarian diri dari kenyataan hidup, sebagaimana yang seringkali dituduhkan oleh sebagian dari mereka yang antipati terhadap tasawuf, akan tetapi tasawuf adalah sebuah tindakan untuk mempersenjati seseorang dengan nilai-nilai rohaniah yang akan menegakanya di saat dirinya sedang dihadapkan kepada masalah duniawi yang senantiasa menghampiri dirinya, sehingga dengan tasawuf tersebut seseorang dapat mengendalikan dirinya dari terlalu cinta dan terlena oleh keindahan dunia yang sifatnya hanya sementara. 

Menurut tasawuf, kehidupan ini adalah sekedar sarana, bukan sebagai tujuan, maka hendaklah seseorang mengambil apa yang diperlukannya serta janganlah terperangkap dalam perbudakan cinta harta, pangkat, dan semua hal yang bersifat duniawi. Dengan semua itu barulah manusia dapat sepenuhnya bebas dari nafsu dan syahwatnya, sehingga hasratnya pun terbebaskan. (Dr. Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi At-Taftazani, hlm. Viii: 1985)

Berdasarkan penjabaran di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, tasawuf itu bermakna sebuah tindakan untuk membentengi manusia dari cinta dunia dan tidak terperangkap di dalamnya. Seperti pesan Allah di dalam ayat-ayat-Nya di bawah ini yang artinya:
Dan adapun  orang-orang  yang  takut kepada  kebesaran Tuhannya  dan menahan diri dari keinginan hawa  nafsunya, Maka Sesungguhnya  syurgalah tempat  tinggal(nya). (QS. An-Naazi’aat: 40 – 41)
Dan aku tidak  membebaskan  diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya  nafsu itu selalu menyuruh kepada  kejahatan, kecuali nafsu yang  diberi rahmat  oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf: 53) 
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan  menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang  yang paling mulia diantara kamu  disisi Allah ialah orang  yang paling  taqwa diantara  kamu. Sesungguhnya  Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Al-Hujurat: 13)

# TUJUAN TASAWUF

Imam Al-Ghazali beranggapan bahwa ilmu tasawuf itu ialah tuntunan yang dapat mengantarkan manusia kepada mengenal Tuhan (Allah) dengan sebenar-benarnya (Ma’rifat). Oleh karena itu, jalan tarekat yang sebaik-baiknya_ dengan akhlak yang sebaik-baiknya_ jauh lebih baik daripada pengetahuan dan hikmah semata, karena segala ilmu dan kelakuan sufi yang merupakan batin itu terambil dari rahasia kenabian, dan tidak ada lagi cahaya yang lebih benar di belakang rahasia kenabian tersebut.

Inilah maksudnya bahwa ulama-ulama itu merupakan ahli waris nabi-nabi, karena yang diamalkan ialah ilmu-ilmu yang diperolehnya sebagai pusaka dari nabi-nabi tersebut. Seluruh ilmu sufi mengandung dzikir dan pujian terhadap Allah, sari dan tujuan daripada semua ilmu. Nabi muhamad SAW pernah ditanya oleh sahabat Ali bin Abi Thalib, yang menanyakan, “Manakah jalan yang sedekat-dekatnya menuju Allah, semudah-mudahnya, dan sebaik-sebaiknya bagi hamba-Nya?” Nabi SAW menjawab, “Zikir, menyebut dan mengingat Allah.”

 Oleh karena tujuan dari pada ilmu tasawuf itu tidak lain adalah membawa manusia setingkat demi setingkat kepada Tuhanya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali di dalam kitab minhajul ‘abidin miliknya.

Sejatinya ilmu tasawuf itu adalah ilmu yang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan di zaman Nabi-nabi sebelum beliau, tidak seperti yang dituduhkan oleh sebagian mereka yang anti terhadap tasawuf, yang mengatakan bahwa tasawuf adalah bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi SAW, dan Nabi tidak pernah mengajarkan tasawuf kepada para sahabat.

Namun, ternyata pendapat seperti itu salah besar, karena tasawuf itu sudah ada sejak zaman Nabi SAW juga zaman Nabi-nabi sebelumnya, bahkan di dalam Al-Qur’an pun banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan ilmu tasawuf.

Tasawuf juga bisa berarti akhlak yang baik atau mulia (aklaqul karimah), karena pada dasarnya tasawuf itu adalah sebuah tindakan untuk mencari keridha’an Allah dengan cara menjadikan tiap anggota tubuh, sikap, dan perilaku bisa mendatangkan keridha’an Allah dengan cara memperbaiki dan menjadikan semua itu baik dan bersih di hadapan-Nya. Maka, diperlukan sebuah cara atau tindakan untuk mengaplikasikan itu semua, yang disebut dengan ilmu “tasawuf”.

# AKHLAK TASAWUF

Akhlak adalah ibarat dari dasar-dasar ilmu untuk mengetahui perilaku hati dan panca indra, dari sisi baik dan buruknya. Sedangkan tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui tingkah laku diri (hati) dan sifat-sifatnya yang terpuji maupun tercela.

Akhlak dan Tasawuf adalah dua kata yang berbeda, akan tetapi memiliki makna yang sama, yaitu “perbuatan yang baik” atau “berbuat baik” kepada Allah, yang sering disebut dengan istilah hablu minallah, dan juga kepada sesama makhluk Allah, yang sering disebut dengan istilah hablu minannaas. Karena, keduanya sangat penting dan berkaitan erat untuk seseorang yang ingin mendapatkan keridha’an Allah serta selamat dunia dan akhirat. Jika ada seseorang yang baik di dalam hubunganya terhadap Allah saja, akan tetapi hubunganya kepada sesama makhluk-Nya (manusia) tidak baik, maka dapat dipastikan bahwa ia tidak akan mendapat keridha’an Allah juga keselamatan dari-Nya, begitu pula sebaliknya, jika ada seseorang yang hanya baik kepada sesama manusia, akan tetapi kurang baik kepada Allah, maka ia pun tidak akan mendapat keridha’an Allah dan keselamatan dari-Nya.

Maka, penting bagi seseorang yang ingin mendapatkan keridha’an dan keselamatan dari-Nya untuk menyelaraskan antara keduanya, yaitu hablu minallah dan hablu minannaas. Akhlak berkaitan dengan hubungan ke sesama manusia, sedangkan Tasawuf berkaitan erat dengan hubungan kepada Allah. Akhlak adalah perbuatan baik yang dapat dilihat oleh kasad mata lahiriah, sedangkan Tasawuf adalah perbuatan yang hanya dapat dilihat oleh Allah yang Maha mengetahui yang lahir juga yang bathin, karena berada di dalam hati.

Dari keterangan di atas dapat disimpulan bahwa, akhlak dan tasawuf adalah dua kata, namun memiliki makna dan tujuan yang sama, yaitu menjadikan manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada Tuhan-nya dan kepada sesama manusia untuk suatu tujuan utama, yaitu mendapatkan keridha’an dari Tuhan-nya (Allah).

# AKHLAK TASAWUF NABI MUHAMAD SAW

Ketahuilah, bahwa, sebaik-baik akhlak adalah akhlak Nabi Muhamad SAW. Sehingga dikatakan bahwa, akhlak itu adalah Muhamad, dan Muhamad itu adalah akhlak atau suri tauladan yang baik uswatun hasanah, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT di dalam Al-Qur’an yang memiliki arti:

dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(QS. Al-Qalam:4)
Sesungguhnya  telah  ada  pada (diri) Rasulullah itu  suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)
Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang muslim mengambil dan menjadikan Nabi Muhamad SAW sebagai suri tauladan atau contoh yang baik bagi dirinya serta dapat menularkan hal tersebut kepada sesama manusia, dan inilah maksud dari apa yang Allah isyaratkan di dalam ayat-ayat-Nya berikut ini:
dan Dia (tidak pula) Termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.(17) mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan(18).(QS. Al-Balad: 17-18)

# SEJARAH MASUKNYA TASAWUF KE INDONESIA

Jika kita berbicara tentang sejarah masuknya tasawuf ke Indonesia, hal ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah awal masuknya agama islam ke indonesia yang dilakukan oleh para ulama yang sholeh, ada juga yang berpendapat bahwa masuknya islam ke Indonesia melalui para pedagang arab dan gujarat yang berdagang sambil mensyi’arkan agama islam di Indonesia. 

Selepas dari masih banyaknya perdebatan tentang teori masuknya islam ke Indonesia, sejarah membuktikan bahwa menyebarnya agama islam di Indonesia sampai saat ini, itu berkat jasa-jasa dari para ulama shaleh, terutama mereka yang terkenal dengan sebutan “wali sembilan” atau “walisongo” yang ada di pulau Jawa. Dari mereka inilah islam dapat menyebar luas di Indonesia sampai saat ini. 

Metode atau cara walisongo menyebar luaskan islam di Indonesia adalah dengan berbagai cara, diantaranya ada yang menyebarkanya dengan kesenian alat musik, seperti yang dilakukan oleh Rd. Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), ada juga yang menggunakan toleransi beragama, seperti yang dilakukan oleh Rd. Ja’far Shadiq (Sunan Qudus), dan lain-lain. 

Dari semua metode dakwah tersebut, nilai-nilai pokok yang diajarkan oleh walisongo pada saat itu adalah “akhlak” dan “tasawuf” sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi SAW dan sesuai dengan tujuan Allah mengutus Nabi Muhamad SAW ke muka bumi, yaitu untuk menyempurnakan akhlak manusia supaya manusia memiliki akhlak yang mulia akhlaqul karimah, berdasarkan hadits Nabi SAW, yang artinya: “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan  (manusia supaya memiliki) akhlak yang mulia”. Sejatinya akhlak tasawuf sudah diajarkan oleh Nabi SAW pada 14 abad yang lalu, kemudian dilanjutkan oleh sahabat, kemudian dilanjutkan oleh ulama-ulama sampai saat ini. 

Maka, muncul sebuah pertanyaan, setelah Nabi SAW, kemudian sahabat, kemudian ulama-ulama, siapakah yang akan menjaga dan memelihara apa yang sudah diajarkan oleh mereka para pendahulu tersebut.? Inilah tugas umat islam untuk menjaga dan memelihara itu semua.


# TOKOH-TOKOH TASAWUF DI INDONESIA

Disamping dari walisongo, banyak pula tokoh-tokoh tasawuf yang bermunculan selepas walisongo, yang ilmu dan pemikiranya masih hidup dan digunakan sebagai bahan penelitian serta rujukan dalam mengenal dan mendalami tasawuf, diantaranya adalah:
  • Hamzah Al-Fansuri
Hamzah Al-Fansuri lahir di kota Barus, yang zaman dahulu orang Arab sering menyebutnya dengan sebutan “Fansur”.
Itulah kenapa beliau memakai nama Al-Fansuri (Barus) di belakang namanya. Kota Fansur (Barus) terletak di pantai barat Provinsi Sumatra Utara, di antara Singkil dan Sibolga. Hamzah Al-Fansuri wafat pada tahun 1630, meski demikian, para pengikutnya tidak mengetahui secara persis pada tahun berapakah Hamzah Al-Fansuri wafat. Beliau adalah salah satu dari tokoh tasawuf yang banyak mengeluarkan  karya ilmiah di bidang tasawuf, di antaranya adalah: 
  1. Asrorul ‘Arifin Fi Bayani ‘Ilmis Suluk Wat Tauhid
  2. 'Asyiqin Al-Muhtadi
  3. Dan lain-lain 
Selain karya ilmiah di bidang tasawuf, beliau juga banyak mengeluarkan pemikiran-pemikiran-nya di bidang tasawuf, akan tetapi kebanyakan dari pemikiran beliau dipengaruhi oleh faham wihdatul wujud-nya Ibnu ‘Arobi, seperti pemikiran dan pemahamannya tentang hakikat wujud dan penciptaanya.

Menurutnya, hakikat wujud itu satu, walaupun kelihatanya banyak, dan semua benda itu hanyalah manifestasi dari Dzat yang hakiki yang disebut dengan Al-Haqq Ta’ala.

  • Syamsudin Al-Sumatrani
Syamsudin Al-Sumatrani adalah salah satu tokoh tasawuf terkemuka di Aceh. Beliau adalah murid dari Hamzah Al-Fansuri yang mengajarkan faham wujudiyah. Beliau hidup pada masa kesultanan Aceh (1606-1637M). Dalam pemikiran tasawufnya, Syamsudin Al-Sumatrani mengajarkan martabat tujuh dan sifat dua puluh Tuhan (Allah).

Konsep martabat tujuh mengajarkan bahwa,segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta, termasuk manusia, adalah aspek lahir dari hakikat  Yang Tunggal, yaitu Tuhan. Tuhan sebagai yang mutlak tidak dapat dikenal baik oleh akal, indera maupun khayal. Tuhan baru dapat dikenal sesudah bertajalli sebanyak tujuh martabat, sehingga tercipta alam semesta beserta isinya, termasuk manusia, sebagai aspek lahir dari Tuhan. 

Menurut Abdul Rahim Yunus, cara penggambaran ini menunjukan bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang tidak berbentuk, tidak terbatas, dan tidak terhingga. Di sisi lain pemikiran tersebut menunjukan keterbatasan dan keragaman wujud yang tampak.
Di antar ajaranya adalah bahwa Tuhan saja yang wujud. Hal ini didasarkan pada ayat Al-Qur’an berikut yang artinya:
Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin[1452]; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.

Konsep martabat tujuh cenderung berhubungan dengan tanazul dalam tasawuf. Tanazul diertikan sebagai turunya Wujud dengan penyingkapan Tuhan, dari keghaiban ke alam kenampakan melalui berbagai tingkat perwujudan. Teori ini menggambarkan bahwa manusia sebagai makhluk sempurna merupakan pancaran dari Wujud yang Sejati, yang menurunkan Wujud-wujud-Nya dari alam rohani ke alam materi dalam bentuk manifestasi wujud secara gradasi wujud. Proses penurunan wujud ini dalam referensi sufi dinamakan dengan tanazzul, yang dikenal dengan bentuk penyingkapan diri atau tajalli.
  • Nurudin Al-Raniri
Namanya adalah Nur Al-Din Muhammad bin ‘Ali bin hasanji bin Muhammad al-Raniri. Silsilah keturunan Al-Raniri berasal dari Indonesia, keturunan Arab. Disebut Al-Raniri karena beliau lahir  di daerah Ranir (Rander) yang terletak dekat Gujarat (India) pada tahun yang belum diketahui pasti. Dan meninggal dunia pada 22 Dzulhijjah 1096 H/21 September 1658 M di India.

Nurudin Al-Raniri banyak menghasilkan tulisan. Di antara buku yang ditulis oleh beliau, ada tulisan yang khusus untuk mengecam atau mengkafirkan penganut ajaran Syamsudin dan Hamzah Fansuri. Ini karena kedua orang tersebut dikategorikan sebagai penganut paham Wahdat al-wujud. Pada masa itu sedang panasnya polemik di masyarakat mengenai ajaran kedua sufi ini, bahkan ada yang menganggap keduanya sesat. Ini ditolak dengan tegas oleh Nuruddin al-Raniri.

Pemikiran Nuruddin al-Raniri dapat dikategorikan menjadi lima bagian, yaitu:
  • Pertama, tentang tuhan. Pendiriannya dalam masalah ketuhanan pada umumnya bersifat kompromis. Ia berupaya menyatukan paham mutakallimin dengan paham para sufi yang diwakili Ibn ‘Arabi. Ia berpendapat bahwa ungkapan “wujud Allah dan Alam Esa” berarti alam ini merupakan sisi lahiriah dari hakikatnya yang batin yaitu Allah, sebagaimana yang dimaksud Ibn ‘Arabi. Namun, ungkapan itu pada hakikatnya adalah bahwa alam ini tidak ada. Yang ada hanyalah wujud Allah Yang Esa. Jadi, tidak dapat dikatakan bahwa alam ini berbeda atau bersatu dengan Allah.
  • Kedua, tentang alam. Pandangannya bahwa alam ini diciptakan Allah melalu tajalli. Ia menolak teori ¬al-faidh (emanasi) al-Farabi karena akan membawa kepada pengakuan bahwa alam ini qadim sehingga dapat jatuh kepada kemusyrikan. Alam dan falak, menurutnya, meripakan wadah tajalli asma dan sifat Allah dalam bentuk yang kongkret. Sifat ilmu bertajalli pada alam akal, nama rahman bertajalli pada arsy; nama Rahim bertajalli pada kursy; nama Raziq bertajalli pada falak ketujuh; dan seterusnya.
  • Ketiga, tentang manusia, merupakan makhluk Allah yang paling sempurna di dunia ini. Sebab, manusia merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya. Juga, karena ia merupakan mazhhar (tempat kenyataan asma dan sifat Allah paling lengkap dan menyeluruh). Konsep insan kamil, katanya, pada dasarnya hampir sama dengan apa yang telah digariskan Ibn ‘Arabi.
  • Keempat, tentang Wujudiyyah, menurutnya inti ajaran Wujudiyyah berpusat pada wahdah al wujud, yang disalahartikan kaum wujudiyyah dengan arti kemanunggalan Allah dengan alam. Menurutnya, pendapat Hamzah al-Fansuri tentang wahdat al-wujud dapat membawa kepada kekafiran. Bagi al-Raniri bahwa jika benar Tuhan dan makhluk hakikatnya satu, maka dapat dikatakan bahwa manusia adalah Tuhan dan Tuhan adalah manusia, maka jadilah seluruh makhluk itu adalah Tuhan. Semua yang dilakukan manusia, baik buruk atau baik, Allah turut serta melakukannya. Jika demikian, maka manusia mempunyai sifat-sifat Tuhan.
  • Kelima, tentang hubungan syariat dan hakikat. Pemiisahan antara syariat dan hakikat, menurut al-Raniri, merupakan sesuatu yang tidak benar. Kelihatannya, al-Raniri, sangat menekankan syariat sebagai landasan esensial dalam tasawauf (hakikat).
Kesimpulan dari Sejarah Dan Tokoh Tasawuf di Indonesia adalah:
  1. Tasawuf adalah suatu tindakan untuk membentengi seseorang dari pertipuan dunia.
  2. Tasawuf adalah suatu jalan thoriqoh untuk mendapatkan keridha’an Allah.
  3. Akhlak tasawuf merupakan perilaku Nabi Muhamad SAW yang harus ditiru dan diteladani oleh setiap individu manusia.
  4. Akhlak tasawuf adalah sesuatu yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhamad SAW dan bukan sesuatu yang baru bid’ah.
  5. Masuknya tasawuf ke Indonesia atas dasar toleransi dan keindahan akhlak yang diajarkan oleh para ulama terdahulu, sehingga mampu menyebar luas di Indonesia.
  6. Berkembangnya tasawuf di Indonesia tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh tasawuf dan pemikiran-pemikiranya.
  7. Banyaknya faham dan pemikiran tokoh-tokoh tasawuf tidak lantas menjadikan perpecahan di antara mereka, hal ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan persatuan umat seperti yang diajarkan Nabi Muhamad SAW.

Baca Juga: 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al – Qur’an
  2. Al – Hadits   
  3. Hasanah Amalia, 2013.Kamus Besar Bahasa Arab .Pustaka Widyatama. Yogyakarta
  4. Hinduan A Thoriq, 1996. Pemahaman Keimanan Dalam Islam. Sinar Baru
  5. Algensindo. Bandung
  6. Sirr al-asra’r wa Muzhhir al – Anwar fi ma Yahtaju ilaihi al – Abrar karya asy –
  7. Syaikh Abdul Qadir Jailani, ditahqiq Oleh Khalid Muhammad Adnan as 
  8. Zar’i, dkk, Dar Ibnu al – Qayyim dan Dar as – Sanabil, Damaskus 1993 M.
  9. Titian Mahabbah Sahara publishers. Jakarta. 2003 M
  10. Simon Hasanu, 2007. Misteri syekh siti  jenar. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
  11. Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Muhamad Syatha Ad-Dimyathi, kifayatul atqiya wa manhajil asyfiya, Daar Al – kitab Al – Islmi An – Nabhan. Surabaya
  12. Hafizh Hasan Al – Mas’udi, taysyirul kholaq, Al – ‘Alawiyah. Semarang
  13. Imam Al – Ghazali, minhajul ‘abidin. Daar Al – Ilmi. Surabaya
  14. http://www.sarjanaku/sejarah dan tokoh tasawuf di Indonesia.com

Related Posts

Tasawuf: Sejarah, Pengertian, Tokoh-tokohnya dan Tujuan Tasawuf
4/ 5
Oleh