Contoh soal UTS Tentang Al-quran

al-qur'an

BAB I: Pengertian al – Qur’an

1.Jelaskan pengertian al – Qur’an.?

Jawab:
Al – Qur’an menurut bahasa ialah diambil dari kata dasar qoro’a –
yaqro’u – qur’anan yang artinya membaca, menjelaskan atau bacaan.
Sedangkan menurut istilah adalah “ Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW yang mengandung mu’jizat dengan wasilah / pelantaraan Jibril a.s secara mutawatir yang bernilai pahala apabila kita membacanya, yang ditulis pada mushaf, mulai dari awal surat al – Fatihah sampai  akhir surat an - Naas”

2.Al – Qur’an memiliki sifat-sifat yang khusus yang membedakan antara al – Qur’an dengan kitab-kitab lainnya, yang ditanyakan adalah, apa saja sifat-sifat tersebut dan jelaskan.?

Jawab:
Sifat-sifat al – Qur’an yang khusus dan yang membedakan al – Qur’an
dengan kitab-kitab selainnya, di antaranya adalah:

  • Al – Mu’jiz, artinya yang mengandung mukjizat.
  • Al – Mutawatir, artinya yang memilik banyak saksi pada saat turunnya al – Qur’an.
  • Al – Mahfuzh, artinya yang terpelihara keshahihannya sampai hari akhir / qiyamah.



3.Al – Qur’an memiliki beberapa nama, di antaranya adalah al – Furqon yang artinya Pembeda / Pemisah, pertanyannya adalah, kenapa al – Qur’an disebut al – Furqon dan berikan alasan dan dalil naqli-nya.?

Jawab:

  • Pertama,  karena Allah sendiri-lah yang menamai al – Furqon, seperti firman Allah dalam surat al – Furqon ayat 1.
  • Kedua, karena ia memisahkan antara yang benar dengan yang salah dan yang dengan yang bathil.

4.Kenapa al – Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dengan menggunakan bahasa Arab dan tidak menggunakan bahasa lainnya, serta apakah ada ayat al – Qur’an yang menggunakan selain bahasa Arab, jelaskan dan sebutkan contoh-contohnya.?

Jawab:

  1. Karena terdapat firman Allah yang menjelaskan tentang hal tersebut dalam surat al – Zukhruf ayat 1-3 dan surat al – Syu’ara’ ayat 193-195.
  2. Terdapat bahasa selain bahasa arab dalam al – Qur’an, seperti:
  • Istibroq, dari bahsa Yunani.
  • Sijjil, dari bahasa Persia.
  • Shirath, dari bahasa Romawi.


5.Apa hakikat  al – Qur’an menurut Para Mutakallimin.?

Jawab;
Menurut Para Mutakallimin, hakikat dari al – Qur’an adalah “Makna yang berdiri pada Dzat Allah”, hal ini sejalan dengan pendapat Al – Ghazali yang  berpendapat bahwa hakikat al – Qur’an adalah “Kalam yang berdiri pada Dzat Allah”.

BAB II: Proses turunnya (wahyu) al – Qur’an

1.Apakah yang dimaksud dengan wahyu.?

Jawab:
Wahyu menurut bahasa ialah isyarat yang cepat dengan tangan dan sesuatu isyarat yang dilakukan bukan dengan tangan, sedangkan menurut istilah ialah sebutan bagi sesuatu yang dituangkan dengan cara cepat dari Allah ke dalam dada Nabi-nabi-Nya, sebagaimana dipergunakan juga untuk lafazh al – Qur’an.

2.Bagaiman cara-cara wahyu turun kepada Nabi Muhamad SAW.?

Jawab:

  1. Mimpi
  2. Dihembuskan langsung ke dalam jiwa
  3. Berupa gemerincing lonceng yang keras.
  4. Berupa Malaikat yang menyerupai laki-laki dalam rupa Dihyah ibn Khalifah, seorang yang sangat elok rupanya, kemudian menyampaikan wahyu kepada Nabi SAW.
  5. Jibril memperlihatkan dirinya kepada Nabi dalam rupa aslinya yang memiliki 600 sayap. 
  6. Allah berbicara kepada Nabi SAW dari belakang hijab, baik dalam keadaan sadar, seperti peristiwa Isro Mi’roj, maupun keadaan tidur, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At – Turmudzi dari Mu’adz.
  7. Isrofil turun membawa beberapa kalimat wahyu, sebelum Jibril datang membawa wahyu.


3.Bagaimana proses turunnya wahyu, apakah wahyu tersebut langsung diturunkan kepada Nabi SAW secara langsung dari Allah kepada Nabi SAW dengan wasilah Jibril a.s, atau ada proses lain sebelum al – Qur’an itu disampaikan kepada Nabi SAW, melalui Jibril a.s.?

Jawab:
Al – Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW, melalui tiga tahapan, yaitu:

  • Pertama, al – Qur’an turun sekaligus dari Allah ke Lauh Mahfuzh, hal ini sesuai dengan isyarat Allah dalam firman-Nya, yakni Surat al – Buruj ayat 21-22 dan di dalam Surat al – Waqi’ah ayat 77-80.
  • Kedua, al – Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Bait al – Izzah, hal ini sesuai sesuai dengan isyarat Allah dalam Surat al – Qadar ayat 1, dan Surat al – Dukhan ayat 3.
  • Ketiga, al – Qur’an diturunkan dari Bait al – Izzah ke dalam hati Nabi melalui Malaikat Jibril dengan cara berangsur-angsur sesuai kebutuhan, adakalanya satu ayat, dua ayat, bahkan satu surat, hal ini sesuai dengan isyarat Allah dalam Surat al – Syu’ara’ ayat 193-195 dan Surat al – Furqan ayat  32.


4.Dalam jangka waktu berapa lama-kah al – Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW.?

Jawab:
Dalam jangka waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 Dzulhijjah (Haji Wada’) tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.

5.Apa hikmah yang terkandung dalal proses turunnya al – Qur’an secara berangsur-angsur.?

Jawab:

  1. Memantapkan hati Nabi SAW
  2. Menentang dan melemahkan para penantang al – Qur’an
  3. Memudahkan untuk dihafal dan difahami
  4. Mengikuti setiap kejadian (yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al – Qur’an) dan melakukan penahapan dalam penetapan syari’at.

(Baca Juga: 30 Soal dan Jawaban Mengenai Al-quran )

BAB III: Makiyyah dan Madaniyyah

1.Jelaskan pengertian Makiyyah dan Madaniyyah menurut terminologi.?

Jawab:
Ada tiga perspektif dalam mendefinisikan makiyyah dan madaniyyah secara terminologi, yaitu:
  • 1).Masa turun (zaman al – nuzul)
“Makkiyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, kendati bukan turun di Mekkah. Madaniyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Nabi hijrah ke Madinah, kendati bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Mekkah atau Arafah.”
  • 2).Tempat turun (makan al – nuzul)
“Makkiyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah dan sekitarnya, seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah. Sedangkan Madaniyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba, dan Sul’a.”
  • 3).Objek pembicaraan (mukhathab)
“Makkiyyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang mrnjadi kitab bagi orang-orang Madinah.”

2.Sudah diketahui bahwa al – Qur’an diturunkan dalam dua tahapan, yaitu ketika Nabi berada di Mekkah dan di Madinah, ayat-ayat yang turun di Mekkah disebut ayat Makkiyyah, dan ayat yang turun di Madinah disebut ayat Madaniyyah, pertanyaannya adalah,dalam jangka waktu berapa lama-kah ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah diturunkan.?

Jawab:
  1. Ayat Makiyyah diturunkan kepada Nabi SAW selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, dari 17 Ramadhan tahun 41 dari Milad Nabi hingga awal Rabi’ul awwal tahun 54 dari Milad Nabi SAW.
  2. Ayat Madaniyyah diturunkan kepada Nabi SAW selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, dari permulaan Rabi’ul awwal tahun 54 dari Milad Nabi hingga 9 Dzulhijjah tahun 63 dari Milad Nabi (10 H.)

3.Sebutkan ciri-ciri spesifik Makkiyyah dan Madaniyyah.?

Jawab:
  • 1)Makkiyyah memiliki ciri-ciri spesifik, diantaranya adalah:
  • a.Di dalamnya terdapat ayat sajdah
  • b.Ayat-ayatnya dimulai dengan kata kalla,.
  • c.Dimulai dengan ungkapan yaa ayyuha al – naas
  • d.Surat dan ayat-ayat-nya pendek-pendek
  • e.Ayat-ayatnya dimulai denga huruf tahajji
  • 2).Madaniyyah memiliki ciri-ciri spesifik, diantaranya adalah:
  • a.Mengandung ketentuan-ketentuan ibadah, mu’amalah, farai’dh dan hudud
  • b.Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafik.
  • c.Mengandung uraian perdebatan dengan ahli kitab
  • d.Sebagian surat dan ayat-ayatnya panjang-panjang.

4.Berapakah jumlah surat yang turun di Mekkah dan di Madinah.?

Jawab:
Surat yang turun di Mekkah berjumlah 86 surat, sedangkan surat yang turun di Madinah berjumlah 28 surat.

5.Apa pentingnya pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah.?

Jawab:
  1. Pertama, membantu dalam menafsirkan al – Qur’an
  2. Kedua, pedoman bagi langkah-langkah dakwah
  3. Ketiga, memberi informasi tentang sirah al – nabawiyyah

BAB IV: Asbab al – Nuzul

1.Apa makna dari asbab al – nuzul.?

Jawab:
Makna dari asbab al – nuzul  ialah “kejadian yang menyebabkan diturunkannya ayat al – Qur’an untuk menerangkan hukumnya di hari timbulnya kejadian-kejadian tersebut, baik diturunkan sesudah terjadi sebab tersebut, maupun kemudian karena suatu hikmah.”

2.Apa faedah dari mengetahui asbab al – nuzul.?

Jawab:
  • a.Mengetahui hukum Allah secara tertentu terhadap apa yang disyariatkan-Nya.
  • b.Menjadi penolong dalam memahami makna ayat dan menghilangkan ke-musykilan-ke-musykilan di sekitar ayat itu.

3.Apa yang dimaksud dengan “berbilangnya asbab al – nuzul untuk satu ayat (ta’addad al – sabab wa nazil al – wahid), jelaskan dan sebutkan contohnya.?

Jawab:
Berbilangnya asbab al – nuzul untuk satu ayat ialah adanya ayat yang memiliki lebih dari satu sebab yang  menjadi sebab-sebab diturunkannya ayat tersebut.
Contohnya yaitu, seperti surat al – Dhuha ayat 1-3 yang memiliki dua versi riwayat yang menjadi asbab al – nuzul-nya.
Versi pertama ialah hadits yang diriwayatkan oleh Al – Bukhari – Muslim dari Jundab. 
Versi kedua ialah hadits yang diriwayatkan oleh Al – Thabrani – Ibn Abi Syaibah dari Hafsah bin Maisyarah.

4.Jelaskan apa yang dimaksud dengan “berbilangnya ayat yang turun, tetapi sebabnya satu” (ta’addad al – nazil  wa al – sabab al – wahid).?

Jawab:
Maksudnya adalah adanya variasi ayat yang turun, akan tetapi asbab al – nuzul-nya satu, contohnya adalah seperti asbab al – nuzul-nya Surat Al – Taubah ayat 74, yang diriwayatkan oleh Al – Thabari, Al – Thabrani, dan Ibn Mardawaih dari Ibn Abbas.
Demikian pula Al – Hakim meriwayatkan hadis yang sama dengan redaksi yang sama dan ia mengatakan “Maka Allah menurunkan surat Al – Mujadalah ayat 18-19.”

5.Bagaimana cara mengetahui asbab al – nuzul.?

Jawab:
Yaitu dengan jalan mengetahuinya berdasarkan periwayatan yang benar (naqlu al – shalih) dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung turunnya ayat al – Qur’an.

(Baca juga: 30 Soal dan Jawaban Yang Membahas Tentang Al-qur'an )

BAB V: Qashash al – Qur’an

1.Apa maksud dari qashash.?

Jawab:
Yang dimaksud dengan qashash ialah pengajaran-pengajaran dan petunjuk-petunjuk yang berguna bagi para penyeru kebenaran dan bagi orang-orang yang diseru kepada kebenaran.

2.Apa tujuan dari Allah menceritakan kisah-kisah Nabi-nabi dan umat-umat terdahulu dalam al – Qur’an.?

Jawab:
Tujuan dari kisah-kisah tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • a.Menjadi penguat Nabi Muhamad SAW
  • b.Menjadi cermin perbandingan bagi segala umat
  • c.Memberi petunjuk kepada para penyeru kebaikan


3.Mengapa al – Qur’an tidak disebut “kitab sejarah”, padahal sebagian besar isi pada al – Qur’an berisi tentang kisah-kisah, jelaskan.?

Jawab:
Karena al – Qur’an tidak menguraikan kisah-kisahnya seperti kitab sejarah, tetapi hanya meceritakan kisah-kisah yang penting dan mengandung hikmah serta memberikan petunjuk bagi pembacanya.

4.Berapakah jumlah keseluruhan ayat al – Qur’an yang menjelaskan tentang kisah-kisah dan berita.?

Jawab:
Jumlahnya ada 1000 ayat yang menjelaskan tentang kisah-kisah dan berita menurut pendapat yang unggul (qaul al – mu’tamad).

5.Apakah di dalam kitab-kitab sebelumnya terdapat kisah-kisah yang sama seperti apa yang ada pada al – Qur’an, jelaskan dan sebutkan contohnya.?

Jawab:
Ada, contohnya seperti kisah Ashhab al – Kahfi.

BAB VI: Teknik penulisan, pengumpilan, dan penyusunan al – Qur’an

1.Apakah Nabi Muhamad memerintahkan untuk menulis al – Qur’an.?

Jawab:
Nabi tidak memerintahkan untuk menulis al – Qur’an, akan tetapi menyuruh untuk menghafalnya.

2.Mengapa Nabi Muhamad SAW hanya menyuruh untuk menghafal al – Qur’an dan tidak memerintahkan untuk menulisnya.?

Jawab:
Dikarenakan pada saat itu masih banyak orang Arab (Muslim) yang tidak bisa menulis.

3.Siapakah sahabat yang  diperintahkan oleh Nabi SAW untuk menulis al – Qur’an.?

Jawab:
Abu Bakar ash – Shiddiq, ‘Ali ibn Abi Thalib, dan Zubair ibn Awwam.

4.Siapakah yang  pertama kali melakukan penyusunan al – Qur’an.?

Jawab:
Abu Bakar ash – Shiddiq.

5.Diketahui bahwa al – Qur’an yang ada hingga sekarang adalah menggunakan bahasa Arab Quraisy, pertanyaannya adalah, siapakah orang yang berjasa menjadikan bahasa Arab Quraisy sebagai bahasa resmi al – Qur’an dan apa sebabnya.?

Jawab:
Orang yang berjasa dalam menjadikan bahasa Arab Quraisy sebagai bahasa resmi al – Qur’an adalah Utsman ibn Affan.
Sebabnya adalah karena orang Arab pada masa Jahiliyyah mempunyai beberapa bahasa, macam-macam ejaan, dan beberapa macam bunyi dalam menyebut kalimat. Dan tujuan dari Utsman adalah menghidari perbedaan qira’at dan menghilangkan perselisihan yang mungkin terjadi lantaran perbedaan membaca dan menyebut itu.

Terima kasih untuk SOFYAN SUHERMAN yang telah bersedia artikelnya untuk dipublikasikan. Semoga bermanfaat untuk yang lain. 

Related Posts

Contoh soal UTS Tentang Al-quran
4/ 5
Oleh