Shalat Dhuha : Waktu, Tata Cara dan Keutamaannya

Shalat Dhuha

Shalat

Shalat merupakan ibadah paling utama, karena shalat adalah ibadah yang akan pertama kali ditanyakan ketika di alam akhirat.

Ada banyak macam shalat dan jenisnya. Contoh shalat fardhu yaitu shalat dzuhur, ashar, subuh, isya maghrib. Kemudian contoh shalat sunnah paling banyak macam-macamnya, namun yang biasa orang lakukan adalah shalat sunnah sebelum shalat fadrhu / qobliyah (sebelum shalat dzuhur, ashar, isya dan subuh) dan shalat sunnah sesudah shalat fardhu / ba'diyah ( setelah shalat dzuhur, maghrib, isya), ada shalat sunnah dhuha, shalat sunnah tahajjud, shalat sunnah tahiyatul masjid, istikharah, hajat dan masih banyak macam-macamnya.

Kali ini yang akan dibahas adalah shalat dhuha. Masih banyak dikalangan masyarakat yang tidak mengetahui shalat dhuha. Baik dari segi tatacara, waktu pelaksanaan dan keutamaannya.

Seperti dalam hadits Raslullah, yang menyatakan bahwa ruang anggota badan kita setiap paginya wajib dikeluarkan sedekahnya, dengan cara shalat dhuha semuanya dapat digantikan.
"Setiap pagi, masing-masing ruas anggota badan kalian wajib disedekahkannnya. Dan setiap tasbih, adalah sedekah. Setiap bacaan tahmid adalah sedekah. Setiap bacaan tahlil adalah sedekah, setiap bacaan takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah dan melarang berbuat mungkar adalah sedekah. Kesemuanya itu dapat diganti dengan dua rakaat Dhuha."  (Hadits Riwayat Muslim)

 Rasulullah biasa melakukan shalat dhuha empat rakaat. Seperti hadits berikut ini:
"Biasanya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melakukan shalat dhuha empat rakaat dan beliau menambah sekehendak Allah." (Hadits Riwayat Muslim)

Hadits - hadits lain yang membahas shalat dhuha selain yang telah jelaskan diatas:
 "Kekasihku (Muhammad shalallahu alaihi wassalam) mewasiatkan kepadaku dengan puasa tiga hari dan setiap bulan serta dua rakaat dhuha, dan aku mengerjakan shalat witir sebelum aku tidur." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dari Ummu Hanik (Fakhtah) binti Abu Thalib ra, ia berkata: "Pada penaklukan kota Makkah aku datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan aku dapatkan beliau sedang mandi. Ketika setelah selesai mandi, beliau shalat sunnah delapan rakaat. Shalat itu adalah shalat Dhuha." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
 Dari Zaid Arqam ra, bahwasanya ia melihat orang-orang mengerjakan shalat duhuha (pada waktu belum begitu siang), maka ia berkata: "Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat dhuha selain shalat ini lebih utama, karena sesunggunya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: "Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah adalah pada waktu anak-anak unta bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari." (Hadits Riwayat Muslim)

 Waktu Pelaksaan dan Waktu Larangan Shalat Dhuha

Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha

Banyak perbedaan pendapat dikalangan ulama mengenai waktu shalat dhuha. Sebagian ulama syafi'iyah berpendapat mengenai waktu shalat dhuha, dimulainya waktu dhuha adalah tepat sesudah terbitnya matahari. Akan tetapi dianjurkan untuk menunda sampai matahari sudah setinggi ombak. Diriwayatkan oleh An-Nawawi dalam kita Ar-Raudhah. 

Sebagia laginya juga berpendapat bahwa shalat dhuha dimulai ketika matahari setinggi kurang lebih satu tombak. Pendapat ini ditegaskan oleh Ar Rofi'i dan Ibnu Rif'ah.

Menurut Imam Al-Albani berpendapat mengenai berapa ukuran satu tombak. Menurut beliau satu tombak adalah dua meter menuru standar ukuran saat ini. (Mausu'ah Fiqhiyah Muyassarah, 2/167). Menurut sebagian ulana, jika satu tombak diukur dengan waktu,  maka satu tombak kurang lebih 15 menit setelah terbit.

Waktu Pelarangan Shalat Dhuha

Waktu yang dilarang untuk melakukan shalat dhuha adalah ketika bayangan benda tepat berada diatasnya, tidak condong ke barat atau ke timur. 

Untuk menetahui batas akhir waktu dhuha, kalian bisa perhatikan benda disekitar. Jika bayangan benda  masih condong ke barat, maka waktu dhuha masih ada. Namun jika bayangan benda lurus dengan bendanya, maka waku shalat dhuha sudah tidak ada.


Tata Cara Pelaksanaan Shalat Dhuha

Untuk tata cara shalat dhuha, diawali dengan takbir seperti shalat sunnah lainnya.
  1. Berwudhu
  2. Mengawali shalat dengan takbiratul ikhram
  3. Baca do'a iftitah. 
    Doa
  4. Kemudian baca al-fatihah, rakaat pertama membaca surat pendek, yaitu surat Asy-syamsi dan untuk rokaat kedua membaca surat pendek ad-Dhuha.
  5. Setelah selesai shalat dhuha, dianjukan untuk membaca do'a dhuha. yaitu:
    Do'a Dhuha

Keutamaan Shalat Dhuha

  1. Shalat dhuha sebagai pengganti sedekah
  2. Akan diselesaikan semua permasalahhnya di sepanjang hari
  3. Mendapat pahala seperti pahalanya orang yang pergi haji dan umrah
  4. Diampuni dosa-dosanya, sekalipun dosa-dosa tersebut layaknya buih dilautan.
  5. Yang melaksanakan shalat dhuha digolongkan sebagai orang yang bertaubak kepada Allah.
  6. Bagi yang beristiqamah dalam melaksanakan shalat dhuha, akan masuk surga melalui pintu khusus yaitu pintu dhuha

Barangsiapa yang melaksanakan:

  • Shalat dhuha dua rakaat, maka orang tersebut tidak dianggap sebagai orang yang lalai.
  • Shalat dhuha empat rakaat, maka orang tersebut ditulis sebagai orang yang ahli ibadah.
  • Shalat dhuha enam rakaat, maka orang tersebut diselamatkan pada hari itu.
  • Shalat dhuha delapan rakaat, maka Allah menulis orang tersebut sebagai orang yang taat. Dan
  • Shalat dhuha dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuk orang tersebut.
Monetize your website traffic with yX Media

Related Posts

Shalat Dhuha : Waktu, Tata Cara dan Keutamaannya
4/ 5
Oleh