Kumpulan soal dan jawaban al quran

Soal dan jawaban al-quran - belajar adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim, karena dengan belajar maka akan Allah naikan derajat orang yang mencari ilmu itu. Ketika mencari ilmu, kemudian meninggal, maka orang tersebut dianggap syahid.

Belajar pengetahuan umum mendapat pahala, apalagi belajar dijalan allah? mempelajari agama islam? Seperti mempelajari soal-soal tentang al quran dan menjawabnya dengan baik dan benar. Karena jawaban dari soal-soal quran ada dibanyak buku/kitab, kalian tinggal hanya mencari guru, membaca dan mencoba untuk menyelesaikan persoal-soalan seputar quran itu.
soal dan jawaban quran
Kumpulan soal-soal al quran dan jawabannya

Seperti berikut ini, ada kumpulan soal dan jawaban al quran yang mungkin dapat bermanfaat untuk kalian semua. kumpulan soal-soal ini disusun oleh M.Ilham Miftah Fauzan, dari FSEI.

Semoga bermanfaat, aamiin

A.Pengertian Al-Qur’an Sebagai Wahyu.

1.Jelaskan Al-Qur’an menurut etimologi dan terminologi?

Jawab : Secara Etimologi Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab قَرَأَـ يَقۡرَأُـ قُرۡأٓنَ 
Yang artinya Bacaan. Sedangkan menurut Terminologi Al-Qur’an adalah

كَلَمُ اللهُ الۡمُعۡجِزُ الۡمُنَزِّلُ عَلٰى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صلى عليه وسلم الۡمَكۡتُوۡبُ فِى   الۡمُصَاحَفِ ٬ الۡمَنۡقُوۡلُ بِالتَّوَاتِرِ٬ الۡمُتَعَبۡد بِتِلَاوَتِهٖ
“ Kalam Allah yang bersifat mu’jizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang ditulis dalam mushaf, yang dinukilkan secara mutawatir dan membacanya merupakan ibadah”.

2.Bagaimana pengertian Al-Qur’an menurut pendapat dari beberapa ahli?

Jawab : 

Syeikh Muhammad Khudri Beik : Al-Qur’an adalah Firman Allah SWT yang berbahasa Arab , diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk difahami isinya, disampaikan secara mutawatir, ditulis dalam mushaf dimulai dengan Surah Al-Fatihah dan diakhiri Surah An-Nas.

Syeikh Muhammad Abduh : Al-Kitab atau Al-Qur’an adalah bacaan yang telah tertulis dalam Mushaf yang terjaga dalam hafalan-hafalan ummat islam.

Syeikh Muhammad Abdul Azim Az-Zarqani : Al-Qur’an adalah kitab yang menjadi mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ditulis dalam mushaf dan disampaikan secara mutawatir.

3.Adakah perbedaan dan persamaan Al-Qur’an dan Hadits?  Jelaskan!

Jawab :  Ada.

Hadits ialah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi. Sedangkan Al-Qur’an kalam Allah yang disampaikain kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril.

4.Hadits terbagi menjadi dua, Hadits Nabawi dan Hadits Qudsi. Jelaskan!

Jawab :  

Hadits Qudsi : Hadits yang disandarkan kepada Allah SWT oleh Nabi Muhammad SAW namun tidak termasuk ayat-ayat Al-Qur’an.

Hadits Nabawi : segala yang disandarkan kepada nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat.

5.Al-Qur’an merupakan wahyu yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai perantara sebagai pedoman bagi ummatnya. Jelaskan dimaksud dengan wahyu?

Jawab :  
a).Berarti ilham gharizi atau instink yang terdapat pada manusia atau binatang.   

Contohnya, seperti kata wahyu yang terdapat firman Allah SWT:

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُون
"Dan Tuhanmu telah mewahyukan (memberi instink) kepada lebah, supaya membuat (sarang-sarang) di bukit-bukit, di pohon-pohon, kaydan di (rumah-rumah) yang didirikan (manusia)." 
(Q.S. An-Nahl: 68)
b). Berarti ilham fitri atau firasat yang hanya ada pada manusia dan tidak pada binatang. Contohnya seperti kata wahyu dalam firman Allah SWT: 

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِهِ       

"Dan kami ilhamkan (berfirasat) kepada ibu nabi musa supaya menyusui dia (Musa)." 
(Q.S. Al-Qashash: 7)  

c) Berarti tipu daya dan bisikan setan, seperti arti kata wahyu dalam firman Allah   
          SWT:

وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَٰدِلُوكُمْ          
       Artinya:
          "Dan sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawan mereka     
            agar mereka membantah kalian."  (Q.S. Al-An'am: 121)

d). Berarti isyarat yang cepat secara rahasia, yang hanya tertuju pada Nabi/ Rasul saja. Contohnya seperti arti kata wahyu dalam firman Allah SWT:

                                                         
                                                    إِنَّآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَٱلنَّبِيِّۦنَ مِنۢ بَعْدِهِ
            Artinya: 
          "Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu, sebagaimana kami   
            telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi sesudahnya."
             (Q.S. An-Nisa: 163)


B.Proses Turunnya Al-Qur’an


1.Jelaskan bagaimana proses turunnya Al-Qur’an!

Jawab : 
  1. Tahap pertama ( At-Tanazzulul Awwalu ), Al-Qur’an diturunkan atau ditempatkan di Lauh Mahfudh.
  2. Tahap kedua (At-Tanazzulu Ats-Tsani), Al-Qur’an turun dari Lauh Mahfudh ke Baitul `Izzah di Sama’ al-Dunya (langit dunia), 
  3. Tahap ketiga (At-Tanazzulu Ats-tsaalistu), , Al-Qur’an turun dari Baitul-Izzah di langit dunia langsung kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril.


2.Bagaimana Tafsiran dari Kata Nazzal, Anzala dan arti dari kata Nuzul?

Jawab : Nazzala bermakna pengungkapan akan “menurunkan sesuatu secara berkala atau berangsur”. Anzala bermakna pengungkapan akan “menurunkan satu sekaligus”. 
Kata nuzul secara bahasa bisa berarti turun. Menurut Imam Ar-Raghib Al-Asfahani dalam kitabnya Al-Mufradaat, kata Nuzul mempunyai arti: Al-Inhidar min ‘Uluwwin Ila Safalin (meluncur dari atas ke bawah, atau berarti turun).

3.Kapan Allah menurunkun Al-Qur’an menurut  ayat-ayat yang tedapat dalam Al-Qur’an ?

Jawab : 
  1. Pada bulan Ramadhan: “ Bulan Ramadhan dimana diturunkannya Al-Qur’an …..” (Q.S Al-Baqarah : 185)
  2. Pada malam yang diberi berkah: “ Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) dimalam yang diberi berkah…..” (Q.S Al-Dukhan : 3)
  3. Pada Lailatul Qadr:“ Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) dimalam Al-Qadr” (Q.S Al-Qadr : 1).

4. Sebutkan hikmah yang dapat diambil atau diteladani dari Asbabunnuzulnya ayat-ayat Al-Qur’an!

Jawab : 
  • Membantu memahami ayat Al-Qur’an
  • Mengetahui pengkhususkan hukum
  • Menghindarkan prasangka bahwa arti hasr (batasan tertentu) dalam suatu ayat zahirnya hasr.
  • Hal ini bermanfaat bagi mukmin dan bukan mukmin. Adapun bagi orang mukmin akan bertambah keimanannya dan bagi non mu’minin bisa masuk agama islam.


5.Sebutkan salah satu fungsi Nuzul Al-Quran adalah ?

Jawab : Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Sebagai pedoman bagi ummat manusia.

C.Makiyyah dan Madaniyah


1. Apa yang di maksud dengan ayat/surah Makiyyah dan Madaniyah?

Jawab :

a). Berdasarkan tempat turunnya.

  • Makiyyah turun didaerah Makkah dan sekitarnya seperti di Mina, ‘Arafah, Hudaibiyah dan lainnya.
  • Madaniyah turun didaerah Madinah dan sekitarnya.

b). Berdasarkan khitab/seruan.

  • Makiyyah berisi seruan kepada penduduk Makkah.
  • Madaniyah berisi seruan kepada penduduk Madinah.

c). Berdasarkan waktu.

  • Makiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.
  • Madaniyah ialah ayat-ayat yang turun setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah.

2. Sebutkan 3 contoh surat Makkiyah ?

Jawab :
  1. Al-Kautsar,
  2. Al-Kaafiruun
  3. Al Lahab

3. Sebutkan 3 contoh surat Maddaniyah ?

Jawab :
  1. Al-Baqarah,
  2. Ali Imran, 
  3. An-Nisaa’

4. Sebutkan jumlah surah yang termasuk kedalam Makiyyah dan Madaniyah!

Jawab : 
  1. Makiyyah : 86 surah
  2. Madaniyah : 28surah

5. Sebutkan 3 ciri-ciri dari ayat/surah yang tergolong kedalam Makiyyah dan Madaniyah!

Jawab : 

Ciri-ciri Makkiyah :

  1. Ayat Makkiyyah umumnya pendek-pendek.
  2. Tentang hari Kiamat.
  3. Memuat kisah-kisah tentang para Nabi terdahulu.

Cirri-ciri Madaniyah :

  1. Pada umumnya ayat-ayatnya panjang.
  2. Menjelaskan hukum-hukum waris.
  3. Pembatasan atau peraturan pada Agama


D. Asbabun Nuzul


1.Sebutkan pengertian Asbab An-nuzul menurut Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqani dalam kitabnya Manahilul Irfan fii Ulumil Quran!

Jawab : Sesuatu yang terjadi serta ada hubungannya dengan turunnya ayat Al-Quran sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi. 

2. Menurut Syekh Mana’ Khalil Al-Qathan ada dua hal yang melatar belakangi turunnya ayat Al-Quran, sebutkan dua hal tersebut!

Jawab :  Pertama, karena ada suatu peristiwa yang membutuhkan penjelasan atau keputusan, maka turunlah ayat Al-Quran. Kedua, karena adanya pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW, maka turunlah ayat Al-Quran.

3. Sebutkan kegunaan adanya Asbab An-Nuzul:

Jawab :
  • Membantu menghilangkan kesulitan-kesulitan dalam memahami suatu ayat
  • Membantu mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan ayat Al-Quran diturunkan.
  • Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat Al-Quran

4. Apakah setiap ayat atau surat mempunyai Asbab An-Nuzul?

Jawab : Dalam buku yang disusun oleh syekh Mana’ Khalil Qathan disebutkan bahwa tidak semua ayat atau surat mempunyai Asbab An-Nuzul karena ada beberapa ayat yang tidak mempunyai Asbab An-Nuzul, yaitu ayat-ayat ibtida atau pendahuluan yang mencakup tentang akidah iman, kewajiban islam dan syari’at Allah.

5. Bagaimana cara mengetahui Asbab An-nuzul?

Jawab : Dengan cara periwayatan yang benar atau naqlu ash-shahih dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung tentang turunnya Al-Quran. Dalam hal ini para sahabatlah yang dianggap paling mengetahui tentang turunnya ayat Al-Quran.

E. Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an


1. Bagaimana pengertian Qishash menurut bahasa dan istilah?

Jawab : Menurut bahasa kata Qashashul jamak dari Qishash, artinya kisah, cerita, berita atau keadaan. Sedangkan menurut istilah Qashashul Qur’an ialah kisah-kisah dalam Al-Qur’an tentang para Nabi dan Rasul, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.

2. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an terbagi menjadi beberapa macam, dari segi waktu dan segi materi. Jelaskan!

Jawab : 

Dari Segi Waktu

Dari segi waktu kisah-kisah dalam Al-Qur’an ada tiga, yaitu:
  1. Kisah hal ghaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
  2. Kisah hal ghaib yang terjadi pada masa lalu.
  3. Kisah hal ghaib yang terjadi di masa sekarang.

Dari Segi Materi

Ditinjau dari segi materi, kisah-kisah dalam Al-Qur’an ada tiga, yaitu:
  1. Kisah-kisah tentang para Nabi.
  2. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada masa lalu, dan orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya.
  3. Kisah-kisah yang terjadi di masa Rasulullah Muhammad SAW.


3. Apa faedah dari kisah-kisah dalam Al-Qur’an?

Jawab :
  1. Mempermudah pemahaman terhadap Al-Qur’an
  2. Kisah untuk diambil pelajaran
  3. Nasihat lebih mudah di terima lewat kisah-kisah
  4. Sebagai solusi masalah lewat kisah-kisah

4. Bagaimana hakikat kisah-kisah yang terdapat  dalam Al-Qur’an?

Jawab :
  • Penjelasan tentang kebijaksanaan Allah Ta’ala yang terkandung dalam kisah-kisah tersebut.
  • Menjelaskan asas-asas dan dasar-dasar dakwah agama Allah dan menerangkan pokok-pokok syari’at yang diajarkan oleh para Nabi.
  • Meneguhkan hati Rasulullah SAW dan umatnya dalam mengamalkan agama Allah (islam), serta menguatkan kepercyaan para mu’min tentang datangnya pertolongan Allah dan kehancuran orang-orang yang sesat.
  • Men-tahdzir (memperingatkan) orang-orang kafir agar tidak terus-menerus tenggelam dalam kekafirannya.
  • Motivasi bagi kaum mukminin agar tetap istiqamah di atas keimanan dan untuk meningkatkannya


5. Bagaimana pengaruh kisah-kisah dalam Al-Qur’an bagi kehidupan sekarang?

Jawab : Penuturan kisah-kisah Al-Qur’an sarat dengan muatan edukatif bagi manusia khususnya pembaca dan pendengarnya. Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari metode pendidikan yang efektif bagi pembentukan jiwa yang mengtauhidkan Allah SWT.

F.Tekhnik Penulisan, Pengumpulan dan Penyusunan Al-Qur’an


1. Sebelum dibukukan Al-Qur’an ditulis dimana saja oleh para Sahabat ?

Jawab : 
Lembaran- lembaran yang terbuat dari kulit daun kaghid, tulang yang pipih, pelepah kurma dan batu- batu yang tipis.


2. Di zaman Nabi Muhammad terdapat  unsur tolong- menolong dalam memelihara Al-Qur’an yang telah diturunkan yaitu ? Sebutkan salah satunya!

Jawab :
Hafalan dari mereka yang hafal Al- Qur’an.

3. Pengumpulan Al-Quran para Sahabat dengan cara ?

Jawab :
Menghafal , dan mencari kumpulan yang ditulis di batu, kulit dll.


4. Salah satu Sahabat yang dipilih untuk menulis dan mengukir Al-Qur’an untuk dibukukan ialah ?

Jawab :
Zaid Bin Tsabit

5.Sebutkan salah satu contoh pembukuan Al-Qur’an dimasa Khalifa Usman itu memberikan beberapa kebaikan seperti ?

Jawab :
Menyatukan kaum Muslim pada suatu bentuk Mush-haf  dan seragam ejaan tulisannya.

Makalah ilmu tafsir : Macam-macam ilmu tafsir beserta ruang lingkupnya

Macam-Macam Tafsir Al-Quran Berdasarkan Sumbernya

ilmu tafsir
Makalah ilmu tafsir : Macam-macam ilmu tafsir beserta ruang lingkupnya

1.Tafsir bi Al-Matsur

Tafsir bi Al-Matsur adalah tafsir yang disusun berdasarkan riwayat-riwayat seperti dari nash Al-Quran, haidts Rasulullah , ucapan sahabat dan ucapan tab’in. 

Sebagaimana dijelaskan oleh Al-farmawy, tafsir bi Al-Matsur (disebut pula bi Ar-Riwayah dan An-Naql) adalah penafsiran Al-Quran yang mendasarkan pada penjelasan Al-Quran sendiri , penjelasan Nabi, penjelasan para sahaat melalui ijtihadnya, dan pendapat (aqwal) tabii’in.  Jadi, bila merujuk definisi diatas, ada empat otoritas yang enjadi menjadi sumber penafsiran bi Al- Matsur.  Selanjutnya acuan tafsir bi Al- Matsur adalah sebagai berikut:
  1. Menafsirkan ayat Al-quran dengan ayat Al-Quran lainnya.
  2. Menafsirkan Al-Quran dengan hadits Nabi.
  3. Menafsirkan Al- Quran dengan pendapat Sahabat.
  4. Menafsirkan Al-Quran dengan pendapat Tabi’in (masih diperselisihkan). 

Menurut Quraisy Shihab, sambil mengutip pendapat Adz-Dzahabi, diantara kelebihan tafsir bi Al-Matsur adalah:

  • Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami Al-Quran 
  • Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-esan yang terkandung di dalamnya.
  • Mengikat mufassir dalam bingkai ayat-ayat sehingga membatasinya untuk tidak terjerumus dalam subyektivitas yang berlebihan. 

Diantara contoh kitab-kitab tafsir bi Al-Matsur lengkap dengan pengarangnya adalah sebagai berikut: 

  1. Tafsir Jami’ul Bayan ditulis oleh Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari
  2. Tafsir Bahrul Ulum ditulis oleh Abu laits As-Samarqandi
  3. Tafsir Ibnu katsir ditulis oleh Abi Fida Ismail bin Umar bin katsir Al-Bashraiyi
  4. Tafsir Ma’alimut Tanzil ditulis oleh Imam Abu Muhammad Husain Al-Baghawi
  5. Tafsir Addurarul Mantsur fit Taafsiri bil Matsur ditulis oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi
  6. Tafsir tanwirul Miqbas fi Tafsiri Ibnu Abbas ditulis oleh Imam Fairuz Az-Zabadi. 


2.Tafsir bi Ar Ra’yi


Berdasarkan pengertian etimologi, ra’yi berarti kayakinan (i’tiqad), analogi (qiyas), dan ijtihad. Dan ra’yi dalam terminologi tafsir adalah ijtihad. Dengan demikian, tafsir bi Ar-Ra’yi sebagaimana di definisikan oleh Adz-Dzahabi adalah tafsir yang penjelasannya diambil berdasrkan ijtihad dan pemikiran mufassir setlah mengetahui bahasa Arab dan metodenya, dalil hukum yang menunjukan, serta problema penafsiran, seperti Asbabun Nuzul dan nasikh Mansukh. Adapun Al-farmawi mendefinisikan sebagai berikut: Menafsirkan Al-Quran dengan Ijtihad setelah si Mufassir yang bersangkutan mengetahui metode yangdigunakan orang-orang Arab ketika berbicara danmengetahui kosakata-kosakata Arab beserta muatan artinya. 

Diantara kitab-kitab tafsir yang bercorak bi Ar-ra’yi dala sebagai berikut:

  • Tafsir Mafatihul gahib ditulis oleh Imam Fakhruddin Muahammad bin Umar Ar-Razi.
  • Tafsir Anwarut Tanzil ditulis oleh mam Baidhawi
  • Tafsir Abi Suud ditulis oleh Muhammad bin Muhammad Musthofa At-Thahawari.
  • Tafsir Madarik Tanzil ditulis oleh Imam Abu Al Barakah Abdullah bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi
  • Tafsir Lubabut Ta’wil fii Ma’anit Tanzil atau Tafsir hazin ditulis oleh Imam Alauddin Ali bin Muhammad bin Ibraim Al-Baghdadi
  • Tafsir bharu Muhith ditulis oleh Imam Asiruddin bin Hayyah Al-Andaulusi.  

B. Macam-Macam Tafsir Al-Quran Berdasarkan Metodenya


1. Tafsir At-Tahlili (Metode Analitis)

Secara bahasa kata At-Tahlili adalah bentuk mashdar dari kata hallala, yuhalllilu, tahlilan, dari fiil tsulatsi mujarrad halla, yahillu, hallan, yang beerarti membuka sesuatu yangtertutup atau membuka sesuatu yang lebar. Secara istilah, menurut Al Farmawi, tafsir tahlili adalah suatu metide tafsir Al-Quran dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu dengan menerangkaan ma’na-ma’na yang tercakup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat tersebut.   

Maka dapat dikatakan bahwa tafsir tahlili adalah metode tafsir dimana seorang mufassir mrnafsirkan beberapa ayat Al-Quran sesuai dengan susunan bacaannya dan tertib susunan didalam mushaf, kemudian baru menafsirkan dan menganalisanya secara rinci.

Metode tafsir tahlili dapat dilihat memlalui beberapa ciri-cirinya diantaranya:


  1. Ayat-ayat ditafsirkan sesuai dengan urutan yang terdapat dalam mushaf.
  2. Penjelasannya sedikit demi sedikit, karena segala segi diteliti , seperti kosa kata, munasabah (hububngan), tata bahasa atau asbuabun nuzulnya.
  3. Menggunakan alat bantu yang efektif berupa disiplin ilmu yang menjadi kealhlian mufassir.
  4. Menekankan pengertian filologisebagai acuan awal.
  5. Ayat atau hadits lain yang memiliki kosakata yangsama digunakan sebagai batu loncatan.
  6. Mengamati konteks nash untuk menemukan pemahaman ayat. 

2. Tafsir Al-Ijmali (Metode Global)

Metode ijmali yaitu menafsirkan Al-Quran secaraglobal. Dengan metode ini, mufassir berupaya menjelaskan ma’na-ma’na Al-Quran dengan uraian singat dan bahwa yang mudah sehinnga mudah dipahami oleh seumua orang, mulaidari orang yang berpengetahuan sekedarnya sampai orang yang berpengetahuan luas. Metode ini sebagaimana metode tahlili dilakukan terhadap ayat perayat  dan surat persurat  dengan urutannya dalam mushaf sehingga tampak keterkaitan antara makna satu ayat dan yang lain, antara satu surat dan yang lain. 

Tafsir Al-Ijmali memiliki cara kerja tersendiri yang berbeda dengan metode tafsir lainnya. Berikut ini cara kerja tafsir Al-Ijmali.

  • Mengikuti urutanayat sesuai dengan urutan yang adadalam mushaf. 
  • Lebih menyerupai terjemah maknawi sehingga mufassir tidak berpegang pada makna kosakata.
  • Mufassir lebih menekankan pada penjelasan makna umum. 
  • Apabila dibuthkan, mufassir mengemukakan alat bantu seperti asbabun nuzul. 

3. Tafsir Al-Muqarran (Metode Komparatif)

Menurut bahasa Al-Muqarran berasal dari kata qaraa, yuqarrinu, muqarrinatan, yang berarti menggandeng, menyatukan, atau mebandingkan. Sementara itu menurut istilah, tafsir muqarran ialah yang membandingkan antara ayat dengan ayat atau antara ayat dan hadits, baik darisegi isi maupun redaksi. 

Definisi lainnya adalah membandingkan antara pendapat ulama tafsir dengan menonjolkan segi perbedaan. Dengan kata lain, mufassir meneliti ayat-ayat Al-Quran, lalu membandingkannya dengan pendapat mufassir lainnya sehingga ditemukan pemahaman baru. 

Langkah-langkah yang ditempuh ketika menggunakan metode ini adalah sebagai berikut:


  1. Mengumpulkan sejumlah ayat Al-Quran
  2. Mengumpulkan penjelasan mufassir, baik dari kalangan salaf, atau khalaf, baiktafsirnya bercorak bil matsur atau bir ra’yi atau membandingkan kecenderungan tafsir mereka masing-masing.
  3. Menjelaskan siapa diantara mereka yang dipengaruhi secara subyektif, oleh madzhab tertentu, siapa diantara mereka yang penafisrannya ditujukan untuk melegitimasi golongan  tertentuatau madzhab tertentu, siapa diantara mereka yang penasirannya dipengaruhi faham-faham Asy-‘Ariyyah, mu’tazilah atau paham-paham tashawwuf, teiri filsafat atau teori-teori ilmiah.   

4. Tafsir Al-Maudhu’i (Metode Tematik)


Metode tafsir Maudhu’i yaitu metode penafsiran dengan menghimpun semua ayat dari berbagai surat yang berbicara tentang satu masalah tertentu yang dianggap menjadi tema sentral. Kemudian merangkaikan dan mengaitkan ayat-ayat itu satu dengan yang lain lalu menafsirkannya secara utuh dan menyeluruh. 

Prosedur metode maudhu’i (tematik) adalah sebagai berikut:


  • Menetapkan masalah yangakan dibahas (topik).
  • Menghimpuna yat yangberkaitan debgan masakah tersebut.
  • Menyusun runtutan ayat sesuai dengan mana turunnya, disertai pengetahuan tentang asbabun nuzul.
  • Memahami koralasi ayat-ayat tersebut dengan suratnya masing-masing.
  • Menyusun pembahsan dalam kerangka yang sempurna (out line)
  • Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pkok bahasan.
  • Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat yang mempunyai pengertian sama, atau mengkompromikan anatara ayat yang am (umum) danyangkhas (khusus), mutlak dan muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa ada perbedaan atau pemaksaan. 

Diantara kitab-kitab yang menulis tafsir Maudhu’i adalah sebagai berikut:


  1. Syaikh Mahmud Syaltut, karyanya Tafsir Al-Quran  Al-Kariim
  2. Prof.Dr. AhmadSayyid Al-Kumi dari Universitas Al-Azhar
  3. Prof.Dr. Al-Farmawi menulis buku tentang langkah-langkah tafsir Al-Maudhu’i, dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah fi Tafsiri Al-Maudhu’i.


C. Macam-Macam Tafsir Al-Quran Berdasarkan Keahlian  Mufassir Dan KeadaanYang Melingkupinya


1. Tafsir Ash-Shufy/At-Taashawwuf

Tafsir Ash-Shufi adalah tafsir yang menitikberatkan pada kajian tashawwuf sebagai hasil dari kemajuan ilmu dan peradaban Islam. Tafsir tashawwuf dapat dikelompokan menjadi dua. Pertama, tafsir yang menggunakan teori madzhab tashawwu tertentu sehingga ayat Al-Quran tidak ditafsirkan sesuai dengan dalil syara’dan kaidah kebahasaan. Tafsir ini disebut tafsir tashawwuf teoritis dan tafsir ini tidak bisa diterima.

Kedua, tafisr yang menyelaraskan makna ayat Al-Quran yang dipahami berdasrkan wujdan. Adapun makna yang dipahami dapat dikompromikan menjadi makna zhahir ayat. Tafsir ini sering disebut tafsir isyari dan tafsir ini bisa diterima. 

Tafsir tashawwuf dapat diterima, jika memenuhi syarat-syarat berikut ini: 


  1. Tidak menafikan makna lahir (pengetahuan tekstual) Al-Quran.
  2. Penafsirannya diperkuat oleh dalil syara’ yang lain.
  3. Penafsirannya tidak bertentangan dengan dalil syara’ atau rasio.
  4. Penafsirannya tidak mengakui bahwa hanya penafisrannya (batin) itulah yang dikehendaki Allah, bukan penegrtian tekstualnya. Sebaliknya, ia harus mengakui tekstual ayat  terlebih dahulu. 

2. Tafsir Fiqih

Tafsir Fiqih adalah tafsir yang menitikberatkan pada kajian fiqih. Pada awalnya, penfsiran-penafsiran fiqih terlepas dari kontaminasi hawa nafsu dan motivasi-motivasi negatif. Hal itu berlangsung sampai periode munculnya madzhab yang berbeda-beda. Pada periode munculnya madzhab yangempt dan yang lainnya, kaum muslimin dihadapkan pada kejadian-kejadian yang tidak pernah terjadi pada generasi-generasi sebelumya, sehingga belum ada keputusan-keputusan hukumnya.

Ketika menghadapi masalah ini, setiap imam madzhab berijtihad dibawah naungan Al-Quran, sunnah, dan sumber-sumber penetapan hukum syari’at lainnya. Mereka lalu berhukum dengan hasil ijtihadnya yangtelah dibangun atas berbagai dalil.

Karena sikap fanatik terhadap madzhab, beberapa penganut madzhab tertentu melahirkan bermacam-macam tafsir fiqih yang cenderung menggiring ayat-ayat Al-Quran terhadap madzhab fiqih mereka. 

3. Tafsir Falsafi


Tafsir  falsafi adalah tafsir yang menitikberatkan pada kajian filsafat. Sebagaimana telah kita ketahi bersama bahwa diantara pemicu kberagaman penafsiran adalah perkembangan pengetahuan kebudayaan umat Islam. Bersamaan dengan itu, pada masa khilafah Abbasiyyah digalakkan pula penerjemahan buku-buku asing kedalam bahasa Arab. Diantara buku-buku yang dterjemahkan itu adalah buku-buku filsafat, yang pada gilirannya dikonsumsi umat Islam. Dalam menyikapi hal tersebut, umat Islam terbagi kedalam dua golongan:

  1. Gongan pertama, menolak ilmu-ilmu yang bersumber dari buku-buku karangan para filosof karena dianggap bertentangan denagn akdiah dan agama. Diantara mereka adalah Imam Al-Ghazali dan Imam Fakhr Ar-Razi.
  2. Golongan kedua, mengagumi filsafat. Mereka menekuni dan menerimanya selama tidak bertentangan dengan norma-norma Islam. 

4. Tafsir Ilmi 


Tafisr ilmi adalah  tafsir yang menitikberatkan pada kajian ilmiah, seperti Muhammad Abduh yang mengisyaratkan bahwa penemun telegraf, telepon, kereta dan mikrofon telah tercantum dalam Al-Quran. 

Berikut syarat-syarat diterimanaya tafsir ilmiah:


  • Tafsir ilmiah tidak boleh bertentangan dengan makna runtutan zhahir teks Al-Quran.
  • Tidak diyakini sebagai satu-satunya pemahaman dari teks Al-Quran
  • Tidak bertentangan dengan makna syar’i dan masuk akal
  • Hendaknya dikuatkan oleh bukti yang syar’i.
  • Menyesuaikan ayat kauniyah dengan makna yang dibawa oleh redaksi Al-Quran.
  • Tidak hanya berdasarkan pandangan ilmiah. 

5. Tafsir Adabi-Ijtima’i

Madrasah tafsir Adabi Ijtima’i berupaya menyingkap keindhan bahasa Al-Quran dan mu’jizat-mu’jizatnya, menitikberatkan pada kajian pesoalan kemasyarakatan. Semua itudiuraikan dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk Al-Quran yang menuntun jalan bagi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Berikut ini contoh-contoh tafsir Adabi Ijtima’i:


  1. Tafsir Al-manar, karya Muhammad Rasyid Ridha
  2. Tafsir Al-Maraghi, karya Ahmad Musthafa Al-Maraghi
  3. Shafwah Al-Atsar wa Al-Mafahim karya, Abdurrahman bin Muhammad Ad-Dausuri
  4. Fi Zhilal Al-Quran, karya Sayyid Quthub 

Kesimpulan


Macam-macam tafsir Al-Quran jiga dilihat dari sumber rujukan penafsirannya dapat dibagi menjdi dua macam, yaitu tafsir bil ma’tsur dan tafsir bil ra’yi.  Tafsir bil ma’tsur adalah tafsir yang disusun berdasarkan riwayat-riwayat seperti dari nash Al-Quran, haidts Rasulullah , ucapan sahabat dan ucapan tab’in. Sedangkan tafsir bil ra’yi adalah tafsir yang penjelasannya diambil berdasrkan ijtihad dan pemikiran mufassir setlah mengetahui bahasa Arab dan metodenya, dalil hukum yang menunjukan, serta problema penafsiran, seperti Asbabun Nuzul dan nasikh Mansukh.

Selanjutnya, jika tafsir Al-Quran dilihat dari metode yang yang digunakan para mufasir dalam menafsirkan Al-Quran, maka tafisr dapat dibagi menjadi  empat bagian, yaitu tahlili (metode analitis), ijmali (metode global), maqarran (metode komparatif) dan maudhu’i (metode tematik).
Dan yang terakhir, apabila tafsir Al-Quran dilihat dari keahlian mufassir dan keadaan yang melingupinya dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu tafsir shufy atau tashawwuf, tafsir fiqih, tafsir falsafi, tafsir  ilmi dan tafsir adabi ijtima’i.

Saran


Tiada gading yang tak retak, mungkin ungkapan inilah yang paling tepat untuk mencerminkan penyusunan makalah ini yang jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, saya selaku penyusun makalah ini mengharapkan kritik dan saran yang membangun terhadap makalah ini, guna kedepannya saya bisa menyusun makalah dengan lebih baik lagi. 
 

DAFTAR PUSTAKA

Shobirin. 2012. Tafsir-Ilmu Tafsir. Cirebon: CV. Dharma Bakti
Anwar, Rosihon. 2005. Ilmu Tafsir. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Samsurrohman. 2014. Pengantar Ilmu Tafsir. Jakarta: Amzah

Materi diatas disusun oleh Achmad Fachrurroji, dari jurusan Akhwal Al-ASysyiah. Jika ingin mencoopy, beri sumberya. Terima kasih.

Apa saja larangan bagi wanita haidh dan nifas menurut islam? Berikut ulasannya.

Haidh adalah salah satu bukan hal asing yang terdapat dikalangan kaum wanita, karena haidh menjadi salah satu tanda bawah wanita tersebut sudah baligh. Haidh biasanya paling lama terjadi sektiar 7 harian. 

larangan bagi wanita haidh dan nifas
Larangan bagi wanita haidh dan nifas
Sedangkan nifas, adalah darah yang keluar dari rahim setelah ibu melahirkan anaknya, terjadi sekitar 40 harian dan ini juga hal yang wajar. Akan tetapi, perlu diketahu bawah terdapat  larangan bagi wanita haidh dan nifas. Apa saja Larangan-larangannya? Simak ulasannya berikut ini:

6 Larangan Bagi Wanita Haidh dan Nifas


Dalam kitab Kifayatul Akhyar, BAB Bersuci mengenai haidh, nifas, dan Istihadhah.

Syaikh Abu Syujak mengatakan, terdapat beberpa hal yang diharamkan untuk wanita, sebab haidh dan nifas, yaitu:
  1. Sholat,
  2. Puasa,
  3. Membaca Alquran
  4. Menyentuh mushhaf (Alquran) atau membawanya,
  5. Masuk ke dalam masjid,
  6. Tawaf,
  7. Wathi , yakni bersetubuh, dan
  8. Berusaha mendapatkan kenikmatan tubuh antara pusat dan lutut.

8 Larangan diatas, selanjutnya akan dijelaskan dibawah ini.

 

1. Haram melakukan sholat dan haram untuk berpuasa


Didalam kitab Kifayatul Akhyar, bab bersuci perihal nifas, haidh dan istihadhah. Syaikh Abu Syujak mengatakan. Beberapa hal yang diharamkan sebab haidh dan nifas, yaitu sebagai berikut:

Untuk wanita yang haidh, maka diharamkan untuk berpuasa dan juga haram untuk melaksanakan shalat. Seperti apa yang telah Rasulullah sampaikan dalam haditsnya: "Jika datang darah haidh, maka tinggalkanlah shalat." Kemudian terdapat juga ijma' ulama yang menjelaskan bahwa wanita yang haidh tidak wajib untuk mengqodho atau mengganti shalatnya berdasarkan hadits yang telah Rasulullah sampaikan, riwayat dari Aisyah.

Aisyah R.A berkata :"“Dahulu kami mengalami haidh di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kami pun diperintahkan untuk mengqadha’ (mengganti) puasa (di hari lain) dan kami tidak diperintahkan mengqadha’ sholat.” (H.R Bukhari)

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa wanita yang haidh saat bulan ramadhan, maka haram untuk berpuasa. Dan begitupun jika haidh di bulan lain, maka haram untuk melaksanakan shalat.  Akan tetapi, dia wajib mengganti puasanya sebab haidh tadi di bulan lain selain ramadhan, dan hari-hari lain yang tidak diharamkan untuk berpuasa.

 

2. Wanita haidh haram untuk membaca Quran, dan juga haram untuk menyentuh al-qur'an dan membawanya.


Terdapat dalil yang mengharamkan wanita haidh diharamkan membaca al-qur'an, seperti pada sabda Nabi Muhammad berikut ini

"Orang yang junub dan yang haidh tidak boleh membaca sbagian dari al-qur'an." (H.R Abu Daud dan at-Tirmidzi). Akan tetapi hadits tersebut hadits yang dhaif.

Dan dalil haramya menyentuh Alquran terdapat didalam Al-qur'an firman Allah dalam Surat Al-Waqiah ayat 78-79:

     Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ
     Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Jika menyentuh Alquran hukumnya haram, apalagi membawa Alquran. Kecuali jika Alquran itu ada di dalam barang bawaan, yang orangnya tidak sengaja membawa Alquran secara khusus. Tapi kalau yang dimaksudkan membawanya itu Alquran, maka sekalipun membawanya dengan barang-barang lain, hukumnya tetap haram. Demikian yang telah dipastikan oleh Imam Rafii.

Namun, terdapat pula para imam madzhab yang membolehkan wanita haidh menyentuh al-qur'an dan membacanya. Ini dikarenakan, ditakutkan selama haidh tersebut wanita tidak mendapat pahala dari membaca al-quran. Wallahu a'lam.

 

3.Wanita haidh haram jika memasuki masjid


Masuknya perempuan yang sedang haidh ke dalam masjid, jika dia bermaksud duduk di dalamnya, atau berhenti walaupun dengan berdiri atau berjalan kesana kemari, hukumnya haram.

Sebab, orang yang junub saja sudah haram masuk ke dalam masjid, apalagi orang yang haidh. tentu tidak ada keraguan lagi bahwa itu lebih mengkhawatirkan daripada orang junub. Jika wanita haidh itu hanya mau lewat begitu saja, menurut qaul yang shahih boleh sebagaimana juga orang yang junub.

Pokok perbedaannya, bahwa jika wanita yang haidh tidak dikhawatirkan mengotori masjid, sebab dia sudah bercawat dan memakai pembalut farji. Namun, jika dia khawatir mengotori masjid, haram hukumnya masuk ke dalam masjid tanpa khilaf.

Imam Rafii dan lain-lainnya mengatakan :

Hukum seperti ini tidak khusus dalam masalah haidh saja, malahan masalah lain demikian juga, seperti orang yang sebentar-sebentar mau kencing atau mempunyai luka yang darahnya terus merembes keluar yang dikhawatirkan mengotori masjid, maka itu pun haram lewat di dalam masjid.

Andaikata orang hendak masuk ke dalam masjid dengan membawa sandal yang ada najisnya, dan dikahwatiran najisnya menetes di dalam masjid, maka seharusnya sandal itu dikesatkan dahulu baru boleh masuk masjid. Mengesatkan ini hukumnya wajib dan haram ditinggalkan.

Tambahan, dijelaskan di dalam pembahasan tentang keharaman orang yang junub (hadas besar) memasuki masjid, di dasarkan pada hadits Rasulullah

"Aku tidak halalkan masjid itu kepada wanita yang haidh dan oranag yang junub."

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dan Berkata Ibnul Qaththan bahwa hadits ini hasan.]

4. Haram thawaf


Artinya, wanita yang haidh atau nifas haram melakukan tawaf karena sabda Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam kepada Aisyah pada waktu Aisyah haidh saat menjalankan ibadah haji:

"Kerjakanlah apa yang seharusnya dikerjakan oleh orang-orang yang haji kecuali tawaf di Baitullah, sampai saatya kamu suci."

[Riwayat Bukhari dan Muslim]

Namun, lafadz hadits ini menggunakan lafadz imam Bukhari.

Berdasarkan hadits ini, semua imam yang empat (Syafii, Maliki, Hanbali, Hanafi) sepakat bahwa wanita yang haidh atau nifas haram melakukan tawaf. Dan disini saya (pengarang kitab) menambahkan pula di dalam bab haji, bahwa andaikata wanita yang haidh itu melanggar dan memaksa melakukan tawaf rukun, maka tidak sah tawafnya dan pelanggaran ini harus ditebus dengan membayar dam menurut selain Imam Hanafi , dan dia harus tetap dalam pakaian ihramnya.

Menurut Imam Hanafi, sah tawafnya, dan dia wajib menyembelih unta satu ekor. Namun, sainya yang dilakukan setelah tawaf tidak sah dan boleh ditebus dengan seekor kambing.

Al Mughirah (pengikut madzhab Maliki) berkata: tawaf itu tidak disyaratkan harus suci karena suci itu hanyalah perkara sunnah. Kalau orang itu melakukan awaf dengan menanggung hadast kecil, dia wajib membayar dam dengan seekor kambing. Dan apabila dia melakukan tawaf dengan menanggung hadas besar yakni junub, dia wajib membayar seekor unta.

 

5.Haram bersetubuh dan 

 

6. Berusaha mendapatkan kenikmatan tubuh antara pusat dan lutut

Keharaman ini didasarkan pada firman Allah dalam surah Al baqarah ayat 222 :


وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ


Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.


Abdulla bin Masud berkata:

Aku bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam mengenai apa saja yang halal saya peroleh dari isteri saya yang dalam keadaan haidh.

Rasulullah shollallahu alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam menjawab, Kamu boleh menikmati apa saja di luar kain sarungnya.

Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dan  beliau tidak menganggap dhaif pada hadits ini. Berarti hadits ini hasan.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anhu

"Bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam memerintahkan kepada kita kaum wanita apabila haidh hendaknya mengenakan tapih (kain panjang yang dipakai oleh perempuan) dan boleh suaminya bersentuhan dengannya di luar tapih."

Imam Muslim juga meriwayatkan hadis seperti di atas dari Maimunah, istri Nabi shollallahu alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam. Adapun illat atau penyebab keharamannya ialah karena apa yang ada di dalam tapih itu adalah daerah terlaragnya farji. Padahal Rasulullah shollallahu alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam sudah pernah bersabda:

"Barangsiapa menggembalakan hewannya di sekitar daerah terlarang, sebentar saja pasti akan masuk ke dalamnya."

Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa yang diharamkan itu hanyalah wathi saja. Demikian ini adalah pendapat Imam Syafii di dalam qaul qadhim. Dalilnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Anas, bahwa orang-orang Yahudi, jika isteri-isterinya sedang haidh, mereka tidak mau menemani mereka makan dan tidak mau bergaul dengan mareka di rumah.

Lalu para sahabat menanyakan hal ini kepada Rasulullah shollallahu alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam, maka turunlah ayat Al Baqarah : 222.


وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

"Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."

Oleh yang demikian, maka Rasulullah shollallahu alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam bersabda: "Kamu boleh lakukan apa saja kecuali nikah (jimak)" [Riwayat Muslim]

Imam Nawawi dalam Syarh Al Muhadzdzab berkata:

Qaul ini lebih kuat dalilnya, oleh sebab itu berhakllah ia dipilih.

Demikian pula di dalam kitab at-Tahqiq dan pada kitab Syarh at-Tanbih dan al-Wasith, Imam Nawawi memilih qaul ini.

Jadi, menurut qaul yang pertama, apakah boleh menikmati bagian pusat dan lutut wanita yang sedang haidh atau menikmati bagian yang setentang dengan keduanya?

Imam Nawawi berkata Tidak pernah aku melihat penukilan dari Ulama madzhab kita sehubungan dengan masalah ini.

Tetapi menurut qaul yang dipilih, boleh dilakukan semua itu. Wallahu alam.

Imam Nawawi dalam Syarh Al Muhadzdzab berkata: Ketahuilah bahwa seandainya ada lelaki melanggar dan bersenang-senang dengan istrinya yang sedang haidh, selain jimak, orang tersebut tidak berkewajiban apa-apa tanpa khilaf. Akan tetapi jika lelakki itu menjimak istrinya yang sedang haidh dengan sengaja dan tahu hukum nya, dia telah melakukan dosa yang besar.

Demikian yang dinukil Imam Nawawi dari Imam Syafii dalam Kitab Ar-Raudhah.

Menurut qaul jadid, orang tersebut tidak wajib membayar denda. Dia cukup meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dengan taubat yang baik. Tetapi jika dia menjimak istrinya saat datangnya darah, yaitu saat permulaan dan saat gencar-gencarnya, disunnahkan bersedekah satu dinar. Dan kalau menjimaknya saat darah mulai turun dan melemah, disunnahkan bersedekah dengan setengah dinar.

Ad-Dawudi menukil dari nashnya Imam Syafii di dalam qaul Jadid, bahwa sedekah seprti itu hukumnya wajib. Ini adalah faedah yang sagat penting.

Menurut dua qaul di atas tidak wajib mengeluarkan apapun bagi wanita yang dijimak, dan boleh memberikan dinar tersebut kepada satu orang saja. Wallahu alam.

Itulah 6 larangan bagi wanita haidh dan nifas, setelah kalian mengetahuinya. Berharap agar tidak melanggarnya, Allah dan Rasulullah melarang pasti memiliki tujuan dan manfaat tertentu. Semoga ini bermanfaat.

Ketentuan dan mekanisme nafkah dalam perundang-undangan

Ketentuan Nafkah

A.Ketentuan Nafkah di Maroko

Maroko mangadopsi ketentuan hukum keluarga berdasarkan sistem hukum yang berlaku di turki maka ketentuan nafkahnya pun mengambil dari ottoman of Right. Ketentuan nafkah dalam The moroccan code of Personal status 1958 diuraikan panjang lebar yang di awali dari pasal 53 dan 115-129.
Ketentuan dan mekanisme nafkah dalam perundang-undangan
Nafkah | Gambar hanya ilustrasi


Pasal 53

Istri bisa menuntut pembubaran perkawinan kepada qadi apabila suaminya ada, tetapi lalai untuk menafkahi istrinya.

Pemahaman dari pasal tersenut bahwa istri boleh mengunggat perceraian kepada hakim jika suaminya tidak memberikan nafkah. Jika suami memiliki kekayaan, hakim memerintah kepadanya untuk membayar hak nafkah istri dengan kekayaan tersebut.jika tidak mampu memberi nafkah, pembubaran perkawinan lebih bermanfaat. Hakim memberi waktu tidak lebih dari tiga bulan kepada suami dan suami tidak mampu menyediakan hak nafkah istrinya, perceraian akan dilaksanakan.
Ketentuan nafkah dijelaskan pada pasalm115-129 The moroccan code of Personal status 1958 uraian tentang nafkah, sebagai berikut:

Pasal 115

Setia orang mendapat pemeliharaan dari milik pribadi, namun pemeliharaan dari seorang istri adalah tangunggung jawab suaminya.

Pasal 115 adalah siapa aja boleh hidup dengan nafkahnya sendiri selama ia memeliki harta kekayaan tersebut. Perubahan terjadi ketika seseorang menikah. Suami bertanggung jawab  memberi nafkah, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada istrinya. Sebaliknya, istri tidak perlu repot-repot mancari nafkah.

Pasal 116

Dasar dari nafkah adalah perkawinan, hubungan, dan kewajiban perjanjian. 
Berdasarkan pasal di atas, dapat di pahami bahwa “landasan pemberian nafkah adalah perkawinan, hubungan dan perjanjian”. Atas hal ini, perkawinan bukan hal satu-satunya dasar pemberian nafkah sebagaimana pada pasal 115. Masih dapat berlangsung kepada anak sebagai buah dari perkawinan. 

Begitu pula, apabila pasangan tersebut tidak mampu memberi nafkah, terutama hubungan saudara sebagai dasar kedua dapat diterapkan. Perjanjian pemberian nafkah ini dapat di lakukan dari sisi hukum karena terjadinya pelimpahan wewenang kepada saudaranya disebabkan ketidak mampuan pemberian nafkah oleh seseorang.
Aspek-aspek yang harus di wujudkan dalam pemberian nafkah, dijelaskan pasal 118 berikut:

Pasal 118

“nafkah isitri meliputi tempat tinggal, makanan, pakaian, alat bantuan medis, dan keperluan hidup sesuai dengan kebiasaan yang berlaku."

Pasal tersebut mengraikan segala sesuatu yang masuk dalam kategori pemberian nafkah. Pasal 118 harus dikompromikan dengan pasal 119 yang menjelaskan prioritas pemberian nafkah kepada istri. Artinya, pemberian nafkah, kewajiban suami, tetapi tidak berarti mengabaikan keluarga. 

Pasal 119

Pasal 119 menyebutkan dalam sekala nafkah, bergantungan pada kondisi keuangan suami, status istri, kebiasaan, keadaan waktu, dan standar biaya hidup pada umumnya.

Dari pasal 119 dapat di pahami bahwa pemberian nafkah harus melihat kondisi finansial suami, status istri, dan biaya hidup secara umum. Makna luas dari pasal ini adalah bahwa pemberian nafkah dapat di topang pula dari sudut status istri bisa jadi lebih dari faktor ekonomi di banding suami.
Keunikan lain dari ketentuan nafkah di maroko adalah bahwa suami tidak di perkenankan menepati rumah yang sama yang di gunakan oleh istri sebelumnya. Kecuali ada izin dari istri yang terdahulu. Hal itu tertuang dalam pasal 119 ayat (2).

Pasal 119
(2) suami tidak dapat menampung istrinya, dirumah yang sama, keluarga istri tanpa persetujuan sebelumnya.
Pelaksanaan pemberian nafkah kepada istri di mulai sejak ditetapkannya sebuah perkawinan. Setelah itu, suami berkewajiban secara penuh kepada istri dalam hal pemberian nafkah kepada istri secara langsung, pemahaman tersebut di uraikan pada pasal 121:

Pasal 121

Nafkah yang harus di bayar oleh suami sejak itu menjadi wajib atasnya hal itu tidak akan hilang dengan berlalunya waktu

Masa pemberian nafkah kepada istri berakhir dengan kematian suaminya sehingga status suaminya bubar atau cerai akibat kematian suami. Proses ini otomatis memberikan status istri menjadi janda dan berada pada posisi masa idah. Uraian ini terdapat dalam pasal 122:

Pasal 122

Nafkah terhadap istri hilang atas kematian suami, ditangung oleh istri sampai masa idah tanpa alasan yang sah dan tanpa izin suami.
Maksudnya, apabila istri melakukan perbuatan ”tidak setia” hakim berperan untuk memberikan peringatan kepada istri tersebut untuk kembali “setia” di rumah, bahwa jika istri tidak mematuhi dan gagal melaksanakan perintah hakim, pemberian nafkah akan dikurangi hal ini tercantum pada 123.

Pasal 123

Pemeliharaan istri yang sedang hamil tidak boleh hilang dengan pertimbangan adanya ketidak patuhan akibat perselisihan. Jika seorang istri menjadi tidak patuh, qadi akan memperingatkan dia untuk kembali kerumah itu, dan jika ia gagal untuk melakukannya, pemberian nafkah tersbut di kurangi. 

Ketentuan lain tentang pemberian nafkah di jelaskan pada pasal 126 tentang peran suami setelah menjadi ayah dari anak-anak mereka, baik perempuan maupun laki-laki. Pasal tersebut:

Pasal 126

  1. Sang ayang terikat untuk mempertahankan anak-anak kecil yang tidak mampu mecari penghasilan.
  2. Hak-hak gadis dalam pemeliharaan tersebut berlangsung sampai mendapatkan suami mereka kelak, dan untuk anak laki-laki sampai mereka menjadi besar dan mampu memperoleh penghasilan
  3. Untuk anak yang rajin, hak pemberian nafkah ini terus berlangsung sampai selesai pendidikan, atau sampai selesainya 21 tahun usia.

Diuraikan bahwa ayah bertanggung jawab terhadap anaknya dalam masalah nafkah. Hak nafkah bagi gadis yang belum dewasa terus berlangsung sampai dia menikah. Sementara pemberian nafkah kepada anak laki-laki sampai dia dewasa dan bisa mencari nafkah sendiri.
Apabila ayah tidak mampu dalam pemberian hak nafkah kepada anak-anak nya, ibunya bertanggung jawab terhadap anak-anak mereka jika ibunya berasal dari keluarga yang ada. Disebutkan pada pasal 120:

Pasal 120

Apabila ayah tidak mampu memberikan nafkah kepada anak-anak, itu akan menjadi tanggung jawab ibu, jika sang ibu dalam keadaan mudah ekonominya .

B.Ketentuan nafkah di irak

Ketentuan nafkah di irak terdapat dalam perundang-udang khususnya The moroccan code of Personal status 1958 atau dikenal dengan istilah bahasa arab Qanun Al-Akhwal Al-Syakhsiyah.
Dalam perundang-undang ini dijelaskan bahwa akibat logis dari sebuah perkawinan, keberadaan nafkah menjadi wajib dan mutlak bagi suami untuk melaksanakannya. Hal itu tercantum pasal 23 angka (1).

Pasal 23
  1. Nafkah istri merupakan kewajiban bagi suami dalam perkawinan yang sah, bahkan jika dia tinggal bersama orang tua nya, kecuali jika suami ingin dia datang ke rumahnya dan dia menolak untuk melakukannya tanpa alasan.
  2. Penolakan istri akan berlaku jika suami telah menarik maharnya atau tidak memberikan nafkah kepada dirinya.

Dapat dimaknai bahwa nafkah adalah kewajiban bagi suami. Bahwa “nafkah terhadap istri adalah wajib terhadap istri dalam sebuah perkawinan yang sah, meskipun istrinya tinggal bersama orang tuanya.
Pasal 23 setelah diamandemen, redaksinya berbeda, meskipun subtansinya sama. Pasal tersebut berisi:

Pasal 23

  1. Para istri berhak untuk mendapat tunjangan dari suami sebagai mana perjanjian, bahwa jika dia tinggal di rumah orang tuanya, kecuali jika suami meminta dia untuk pindah ketempatnya dan dia tidak mau .
  2. Ketidak mauannya dianggap sah jika suami tidak segera membayar maskawin atau selama ia menngeluarkan biaya nafkah.

Pengertian nafkah di maknai dengan istilah mantenance,I setelah di amandemen, diubah menjadi alimony. Pada point 2, secara tegas dijelaskan bahwa penolakan istri dianggap benar jika suami tidak membayar maskawin segera. Piont 2 dalam pasal 23 ini, tidak tegas, yakni bahwa pebuatan “penolakan istri” akan sah jika suami tidak menyediakan nafkah.

Pasal 24

  1. Nafkah istri yang patuh akan dianggap hutang terhadap suami saat suami tidak mampu untuk meyediakannya. 
  2. Nafkah meliputi makanan, pakaian, penginapan dan fasilitasnya, biaya pengobatan yang di akui adat istiadat, dan pelayanan rumah tangga dari jenis yang tersedia bagi perempuan dari status yang setara.

Meskipun demikian, terdapat beberapa kondisi yang membolehkan tidak adanya hak pemberian nafkah terhadap istri, diuraikan dalam pasal 25:
  • Istri meninggalkan rumah suami tanpa seizin suami dan alasan hukum
  • Istri di curigai melakukan pelanggaran;
  • Istri menolak untuk melakukan perjalanan dengan suami tanpa alasan hukum.

Pasal 25

1). Tidak ada nafkah istri dalam keadaan berikut:
  • Dia meninggalkan rumah suaminya tanpa izin berakhir tanpa alasan yang sah;
  • Dia di hukum untuk suatu pelanggaran;
  • Dia menolak untuk melalukan perjalanan bersama suaminya tanpa alasan yang sah.
2). Tidak ada kewajiban bagi istri untuk menanti suaminya, dan dia tidak dianggap sebagai tidak taat, 
Jika suaminya menuntutnya untuk taat terhadap perbuatan buruk dengan maksud untuk membuatnya cidera atau mengganggu dia....”

Selanjutnya dalam pasal 26 setelah diamandemen, secara isi, dipenrinci dan di tambah menjadi 4 point, pasal terebut adalah:

Pasal 26

  1. Seorang suami tidak boleh menempatkan istri-istrinya satu rumah, tanpa persetujuan istri lainnya di kediaman yang sama.
  2. Seorang suami mempunyai hak untuk merumahkan istrinya dikediaman perkawinan putranya dari lain sampai usia pubertas.
  3. Seorang suami mempunyai hak untuk diam di rumah kedua orangtuanya atau salah satu dari mereka dengan istrinya dalam pernikahan tempat tinggal, dan istri tidak punya hak untuk menolak itu.
  4. Seorag suami mempunyai hak untuk rumah dengan istri nya di rumah yang sama siapapun yang secara sah bertanggungjawab atas kemeliharaan mereka, asalkan tidak membahayakan akan menimpa dirinya sebagai konsekuensinya.

Berdasarkan point-point tesebut, dapat dipahami bahwa seorang suami harus mandiri dan matang dalam mempersiapkan rumah tangga. Hal itu terbukti bahwa dalam pasal ini dijelaskan bahwa suami tidak boleh mendiami rumah istri tanpa ada izin, baik dari pihak istri maupun kerabatnya. Tidak berarti bahwa setiap suami harus dan wajib menyediakan nafkah kepada istrinya. Pemberian nafkah ini tidak dipaksakan. Pasal 27 yang sudah diamandemen, memberikan sinyal bahwa pemberian nafkah bergantung pada kondisi keuangan keluarga.

Pasal 27

Tujuan istri akan diperkirakan sesuai dengan keadaan keuangan pasangan, apakah mereka hidup dalam kelimpahan atau dalam keadaan sederhana.

Pasal 28

  1. Jumlah tujuan mungkin akan meningkat atau menurun sesuai perubahan situasi keuangan dan taraf hidup di negara ini.
  2. Gugatan terkait kenakan atau penurunan tunjangan tetap harus diterima dalam keadaan darurat yang dianggap perlu.

Pada sisi lain, apabila terjadi masalah dalam rumah tangga, misalnya tidak memberikan nafkah selama beberapa waktu, istri diperbolehkan meminjam kepada orang lain atas nama suami. Dapat dilihat pasal 30 yang sudah diamandemen, yaitu sebagai berikut:

Pasal 30

Jika istri sedang menghadapi kesulitan keuangan dan dia memiliki izin untuk meminjam uangh sesuai ketentuan pasal sebelumnya, jika ada orang yang dapat dimintai tunjangan, ia akan meminjamkan uang atas permintaan dan sesuai dengan kapasitas dan ia akan menuntut pengembalian uang tersebut dari suami saja. 

Akan tetapi, jika istrinya meminjam uang dari orang asing, dan orang asing ini memiliki pilihan untuk menuntut pengembalian uangnya, baik dari istri atau suami. Dalam kasus tidak ada orang yang ditemukan untuk meminjamkan uang dan dia tidak mampu bekerja, negara akan menyediakan bantuan finansial.
Peran negara dalam hal ini diawali oleh hakim pengadilan, tercantum pada pasal 31 dan 33 setelah diamandemen, sebagai berikut:

Pasal 31

  1. Selama proses dari tunjangan gugatan, hakim memiliki hak untuk memutuskan sementara tunjangan bagi istri yang harus dibayar oleh suami, dan putusan tersebut harus dilaksanakan segera.
  2. Keputusan akan disimpan atau diubah, seperti untuk perhitungannya atau penolakannya, dalam putusan akhir.

Pasal 33

istri tidak akan mematuhi suaminya dalam segala hal yang bertentangan dengan hukum syariat dan hakim memiliki hak untuk memutuskan tunjangan untuknya.
Pemberian nafkahn akan berakhir ketika terjadi perceraian atau salah satu dari pasangan suami istri meninggal dunia.

Pasal 32

Jumlah akumulasi tunjangan tidak akan berhenti menjadi efektif pada perceraian atau stelah kematian salah satu dari dua pasangan.

C. Ketentuan Nafkah dalam Komilasi Hukum Islam

Secara mendasar, ketentuan pada kompilasi hukum islam adalah nafkah terjadi ketika akad nikah selesai secara sah. Akad nikah secara sah menyebabkan timbulnya hak dan kewajiban. Kelalaian di satu pihak dalam menunaikan kewajibannya, berarti menelantarkan hak dan pihak yang lain.
Konsepsi tentang nafkah dalam kompilasi hukum islam dapat dilihat dari Bab XII hak dan kewajiban suami-istri. Secara terperinci, tentang nafkah ini dapat dalam pasal sebagai berikut.

Pasal 77

  1. Suami-istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakan rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan rahamah yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.
  2. Suami-istri wajib saling mencintai, saling menghormati, seria dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.
  3. Suami-istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasar dan pendidikan agamanya.
  4. Suami istri wajib memelihara kehormatannya.
  5. Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya, masing-masing dapat mengajukan gugat kepada pengadilan.

Pasal 78

  1. Suami-istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.
  2. Rumah keidaman yang dimaksud dalam ayat (1), ditentukan oleh suami-istri bersama.

Pasal-pasal di atas menguraikan bahwa suami sebagai kepala rumah tangga adalah nahkoda dalam menjalankan rumah tangga. Hak nafkah adalah hak mutlak suami yang harus diberikan kepada istri, baik sandang, pangan maupun papan. Konsep kafaah lain dapat dilihat dari status suami sebagai kepala rumah tangga yang memiliki ha dan kewajiban terhadap istri. Hal itu tertuang dalam pasal 79 sabgai berikut.

Kedudukan suami istri

Pasal 79

  1. Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga.
  2. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup yang bersama dalam masyrakat.
  3. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.

Bagian ketiga kewajiban suami

Pasal 80

1. Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangga nya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting di putuskan oleh suami istri secara bersama. 
2. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala seasuatu keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
3. Suami wajib memberi pendidikan agama kepada istrinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaaat bagi agama, nusa, dan bangsa.
4. Sesuai dengan penghasilannya suami menanggung:
a. Nafkah, kiswah, dan tempat kediaman bagi istri.
b. Biaya rumah tangga, biaya perawatan, dan biaya pengobatan bagi istri dan anak.
c. Biaya pendidikan bagi anak.
5. Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut pada ayat (4) huruf a,dan b diatas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari istrinya.
6. Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya sebagai mana tersebut pada ayat (4) huruf a, dan b.
7. Kewajiban suami sebagai mana di maksud ayat (5) gugur apabila istri nusyud.

Bagian keempat tempat kediaman

Pasal 81

  1. Suami wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-anaknya, atau tempat bekas istri yang masih dalam masa iddah.
  2. Tempat kediaman adalah tempat tinggal yang layak untuk istri selama dalam ikatan perkawinan, atau dalam iddah talak atau idah wafat.
  3. Tempat kediaman di sediakan untuk melindungi istri dan anak-anaknya dari gangguan pihak lain, sehingga mereka merasa aman dan tentram. Tepat kediaman juga berfungsi sebagai temapat menyimpan harta kekayaan, sebagai tempat menata dan mangatur alat-alat rumah tangga.
  4. Suami wajib melengkap temapat kediaman sesuai dengan kemampuannya serta disesuaikan dengan keadaan lingkungan tempat tinggalnya, baik berupa alat pelengkapan rumah tangga, maupun sarana penunjang lainnya.

Dengan demikian, dapat ditarik intisari dari pasal-pasal tersebut bahwa dalam pemberian nafkha, suami bertanggung jawab penuh selama istri setia atau tidak melakukan hal-hal yang melanggar agama dan tanpa izin suami. Apabila hal itu terjadi, nafkah bisa dikurangi atau dihapuskan.

Daftar Pustaka:
Supriyadi, Dedi. Fiqih Munakahat Perbandingan (dari Tektualis sampai Legilasi), Bandung, CV PUSTAKA SETIA, 2011

KETENTUAN KAFAAH DI TURKI, UU NO.1 TAHUN 1974 DAN PANDANGAN FUQAHA

KAFAAH

A.Ketentuan kafaah di Turki

KETENTUAN KAFAAH DI TURKI, UU NO.1 TAHUN 1974 DAN PANDANGAN FUQAHA
Kafaah | Gambar hanya ilustrasi
Menggali ketentuan kafaah yang berlaku di negara turki secara spesifik dapat di temukan dalam undang-undang hukum keluarga di turki, yakni ottoman law of family rights. Di bentuk dan disahkan pada tahun 1917 di turki, ketentuan kafaah sebagaimana pengertian dalam pasal 45, secara lengkap dikutip berikut ini.

Pasal 45

Syarat untuk sebuah pernikhana yang mengikat laki-laki harus menjadi ‘sama’ dengan perempuan dalam kekayaan, pekerjaan, dan hal-hal serupa. Kesetaraan dalam kekayaan berarti bahwa suami harus mampu membayar mahar dan memenuhi biaya pemeliharaan istri, dan kesetaraan dalam pekerjaan berarti bahwa jabatan atau pekerjaan suami harus sama dengan wali pihak istri.
Dari pasal 45 tersebut di pahami bahwa kafaah merupakan persyaratan dalam melaksanakan perkawinan, yaitu bahwa laki-laki seharusnya “sama” dengan wanita. atas hal ini, dapat dipahami bahwa kafaah yang berlaku di turki dan beberapa negara islam lainnya. Nilai kafaah tidak berlaku lagi atau hilang. Bahkan, ketiiadaan kafaah tersebut tidak memberikan pengaruh. Hal ini di jelaskan dalam pasa 46 berikut:

Pasal 46

Kesetaraan harus mempertimbangkan pada awal perkawinan dan hal itu hilang setelah menikah. Ketiadaannya tidak akan berpengaruh.
Pada pasal 47 yang membahas sisi yang berlainan dengan pasal 46 di atas. Bahwa kafaah, bisa terjadi setelah perkawinan, ketika diketahui bahwa suami atau laki-laki tersebut “ sekufu dengan perempuan, bila laki-laki tersebut tidak “sekufu” dengan wanita tersebut, pengadilan dapat membatalkan perkawinan tersebut atas usul wali perempuan. Secara lengkap, pasal 47 menyebutkan:

Pasal 47

Apabila gadis dewasa menyangkal bahwa dia memiliki wali dan dia telah menikah dengan seseorang, jika tampak bahwa dia telah menikah sesuai kafaahnya, perkawinan akan mengikat, sekalipun maharnya kurang dari mahar yang layak. Jika telah menikah dengan seseorang yang bukan sekufu, walinya dapat mendekati pengadilan dan perkawinan dapat dibubdarkan. Apabila tidak disyaratkan, perkawinan tersebut tidak dapat dibatalkan. Intisari pemahaman tersebut terdapat dalam pasal 48 berikut:

Pasal 48

Apabila serang wali menikahkan wanita dewasa dengan seizinnya dengan seorang laki-laki dengan tidak memerhatikan maslah kafaah antara keduanya, dan selanjutnya, diketahui bahwa laki-laki tersebut tidak sekufu dengan wanita tersebut, baik wali dan perempuan tersbut tidak ada alasan atau keberatan untuk melaksanakan perkawinan, dan suaminya tahu hal itu, wali dan perempuan tersebut dapat mengajukan ke pengadilan untuk membubarkan perkaawinan tersbut.

Izin dari wali baik dari status wali tersebut berbeda dalam garis keturunan jauh atau dekat adalah syarat mutlak di samping syarat kafaah. Hal itu tertuang pada pasal 49. Terakhir dalam pembahasan kafaah, sebagaimana yang terteara dalam the ottoman law of family right,  dijelelaskan bahwa kafaah adalah syarat utama dalam sebuah perkawinan. Perkawinan dapat di bubarkan apabila landasan perkawinan tersebut adalah kafaah. Perkawinan tidak dapat dibubarkan apabila terjadi kehamilan meskipun wali tidak perempuan tersebut, langsung atau tidak langsung, merasa keberatan. Intisari kafaah ini tertuang pada pasal50 dari the ottoman law of family right.  Secara lengkap, pasal tersebut adalah:

Pasal 50

Pengadilan dapat membubarkan perkawinan atas dasar menginginkan kesetaraan sebelum kehamilan terjadi, tapi tidak setelah itu, dan persetujuan dari wali, tersurat maupun tersirat, tidak membubarkan perkawinan tersebut.

B.Undang-undang perkawinan di indonesia

Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia kekal dan sejahtera maka undang-undang ini menganut prinsip untuk mempersulit terjadinya peceraian. Adanya kafaah dalam UU No. 1 tahun 1974 dimulai dari adanya syarat-syarat perkawinan. Hal ini tertuang dalam BAB II syarat-syarat perkawinan. Beberapa pasal berkenaan dengan hal itu, adalah sebagai berikut:

Pasal 6

  1. Perkawinan harus berdasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.
  2. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua.
  3. Salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin di maksud ayat (2) pasal ini cukup diperoleh dari orang tuayang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya.
  4. Kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas selama mereka masih hidup dapat menyakan kehendanya.
  5. Dalam hal ada perbedaan pendapat antara orang-orang yang disebut dalam ayat (2), (3), dan (4) pasal ini, atau salah seorang atau lebih di antara mereka tidak menyatakan pendapatnya, maka pengadilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang akan memberikan izin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang tersebut dalam ayat (2), (3), dan (4) pasal ini.
  6. Ketentuan tersebut ayat (1) sampai dengan ayat (5) pasal  ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu dari yang bersngkutan tidak menetukan lain.

Perkawinan membutuhkan izin dari kedua orang tua mempelai dalam rangka untuk mengetahuoi sejauh mana kelayakan kedua mempelai tersebut dari segi samanya. Usia perkawinan menujukkan kematangan seseorang, sementara izin dari kedua belah pihak memperkuat bahwa kedua mempelai tersebut layak dan memadai untuk melangsungkan perkawinan. Izin ini termaktub dalam pasal berikut ini:

Pasal 7

  1. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.
  2. Penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain, yang ditunjukan oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita.
  3. Ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut dalam pasal 6 ayat (3) dan (4) undang-undang ini, berlaku juga dalam hal permintaan dispensasi tersbut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang di maksud dalam pasal 6 ayat (6).

Pencegahan perkawinan dapat dilakukan selama calon mempelai tersbut tidak memenuhi unsur atau syarat sebuah perkawinan. Hal itu pertuang dalam BAB III PENCEGAHAN PERKAWINAN. Pasal-pasal yang berkenaan dengan masalah itu adalah:

Pasal 13

perkawinan dapat dicegah, apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.

Pasal 14

  1. Yang dapat mencegah perkawinan ialah para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan kebawah, saudara, wali nikah, wali, pengampu dari salah seorang calon mempelai dan pihak-pihak yang berkepentingan.
  2. Mereka yang tersebut pada ayat (1) pasal ini berhak juga mencegah berlangsungnya perkawinan apabila salah seorang dari calon mempelai berada di bawah pengampuan, sehingga dengan perkawinan tersebut nyata-nyata mengakibatkan kesengsaraan bagi calon mempelai yang lainnya.

Masalah pencegahan perkawinan ini merupakan suatu upaya yang bersifat hati-hati terhadap kedua mempelai. Bahkan, apabila diketahui terdapat unsur atau syarat perkawinan yang tidak memadai, perkawianan bisa dibatalkan.  Masalah ini tertuang dalam BAB IV BATALNYA PERKAWINAN. Pasal itu adalah:

Pasal 22

Perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.
Pasal 23
Yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan yaitu:
  • Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau istri;
  • Suami atau istri;
  • Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan belum diputuskan;
  • Pejabat yang ditunjuk tersebut ayat (2) pasal 16 undang-undang ini dan setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut, tetapi hanya setelah perkawinan itu putus.

Dapat dipahami bahwa konsepsi kafaah dalam UU No.1 tahun 1974, mulai dari batas usia perkawinan. Selanjutnya, nilai kafaah terlihat dari adanya peran serta keluarga dalam memberi izin sebuah perkawinan.

C. Kafaah dalam pandangan fuqaha

Problem matika Terminologis

Menurut bahasa, kafaah atau kufu, artinya “setaraf, simbang atau keserasian/kesesuaian, serupa, sederajat atau sebanding”. Senanada dengan batasan As-Son’ani, bahwa al-Kafaah adalah persamaan dan serupa. Secara istilah, pengertian kafaah, yaitu “keseimbangan dan keserasian antara calon istri dan suami sehingga masing-masing callon tidak merasa berat untuk melangsungkan perkawinan”. Tekanan dalam hal agama, yaitu akhlak dan ibadah. Kalau kafaah diartikan sebagai persamaan dalam hal harta, atau kebangsawanan, ini berarti terbentuknya kasta, sedangkan dalam islam tidak dibenarkan adanya kasta.

Dalam tulisan Abd. Rahman Ghazaly, “kafaah dianjurkan oleh islam dalam memilih calon suami/istri, tetapi tidak menentukan sah atau tidaknya perkawinan. Kafaah adalah hak bagi wanita atau walinya.

Makna dasar kafaah adalah apa yang menjadi faktor setingkat atau kufu dalam perkawinan. Sebagian fuqaha berpandangan bahwa faktor agama adalah faktor esensi kafaah dalam perkawinan.

Sebagian fuqaha memahami bahwa faktor agama saja yang dijadikan pertimbangan. Berdasarkan sabda Nabi SAW., “Maka carilah wanita yang taat beramgama”. Sebagian lain berpendapat bahwa faktor keturunan sama kedudukannya dengan faktor agama.

Secara umum, dapat dipahami bahwa faktor agama adalah sebagai faktor utama kafaah dalam perkawinan. Pendapat ini diperkuat pula oleh As-Son’ani bahwa yang paling kuat adalah mazhab Zaid ibn ‘Ali dan Malik. Hal ini didasarkan kepada Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13:


Artinya:
“wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengatahui, Mahateliti.”
Kafaah dapat disimpulkan adanya korelasi konsepsi kafaah antara ottoman of Family Right UU No.1 tahun1974 dengan pendapat para fuqaha, yaitu bahwa: ottoman of Family Right tidak mendasarkan bahwa faktor agama, sebagai unsur kafaah yang paling utama sebagaimana jumhur fuqaha, sementara UU No. 1 tahun 1974, mendasarkan bahwa faktor agama adalah unsur utama dalam sebuah perkawinan.

Daftar Pustaka:
Supriyadi, Dedi. Fiqih Munakahat Perbandingan (dari Tektualis sampai Legilasi), Bandung, CV PUSTAKA SETIA, 2011

Retas Jaringan Iklan a-ads, akan diberi hadiah sejumlah BTC.

A-ads - Jebol keamanan websitenya, dapatkan hadiah BTC

Jaringan iklan website a-ads pada hari ini, tanggal 21 september menyediakan hadiah bagi siapa saja yang dapat membobol keamanan websitenya. 

Blog milik a-ads ini telah memberikan tantangan kepada siapa saja yang dapat membobol keamanannya. Dan bagi yang dapat melakukan akan dibayarkan dengan sejumlah Bitcoin (BTC).

Dalam memberikan laporan peretasan, kalian bisa gunakan bahasa apa saja, bahasa indonesiapun tidak masalah jika kalian belum terlalu paham dengan bahasa inggris.

Berikut ini adalah tantangan dari sayembara yang tertera didalam blog Anonymous Ads http://blog.anonymousads.com/2017/09/bug-bounty-program-at-ads.html:

Program Bug Bounty di A-Ads

Keamanan operasi kami adalah prioritas tertinggi kami karena berbagai alasan: kami berurusan dengan uang klien kami, kami harus melindungi privasi mitra kami, dan kami memiliki reputasi kami sendiri yang dipertaruhkan. Entah Anda seorang peneliti keamanan profesional atau hanya pemula, kami menyambut baik laporan keamanan bagi siapa saja yang dapat meretasnya, namun kami ingin mereka berguna dan dapat ditindaklanjuti, oleh karena itu kami memiliki beberapa rekomendasi mengenai hal tersebut.

Pedoman laporan keamanan:

Tolong berikan informasi tentang bagaimana kerentanan yang anda temukan dapat digunakan baik secara teoritis maupun praktis, apa dampaknya, dan semua rincian terkait.
Tolong berikan langkah-langkah yang tepat tentang bagaimana kerentanan dapat dieksploitasi dan bagaimana kita bisa mereproduksi masalah itu sendiri. Kami ingin melihat demonstrasi serangan yang tidak akan mempengaruhi pengguna kami yang ada. anda dapat membuat sebanyak mungkin akun pengguna uji yang anda butuhkan.
Kirimkan laporan bug melalui saluran dukungan kami (widget email atau situs web) namun hanya setelah anda memverifikasi bahwa itu benar-benar berhasil.
Gunakan bahasa apa pun yang Anda inginkan jika Anda merasa tidak nyaman menulis dalam bahasa Inggris.
Kami meninggalkan hadiah uang yang akan Anda dapatkan untuk laporan Anda sesuai kebijaksanaan kami. Penghargaan dari laporan pertasaan akan diberikan dalam bentuk BTC.

Jadi, siapa yang ahli dalam bidan cyber security? Siapa yang mau mendapatkan BTC? Coba saja ini, salurkan bakatmu untuk kebaikan. Kerja karena hobi lalu dibayar, siapa yang tidak mau?

Makalah ilmu tafsir: Pengertian, sejarah, periodesasi, perbedaan tafsir beserta hikmahnya.

Assalamu'alaikum, makalah didalam artikel ini yang akan dijelaskan adalah makalah mengenai mata kuliah ilmu tafsir, dimana tugas ini disusun oleh Sofyan Suherman. Makalah yang akan dijelaskan adalah makalah ilmu tafsir yang mencakup tentang Pengertian dan sejarah tafsir al-Qur’an, periodesasi tafsir, perbedaan tafsir yang qadim dan yang hadits, serta hikmah yang terkandung di dalamnya. Jika ingin meng-copy makalah ini, hargai lah yang menyusunnya dengan cara memberi sumber dari mana makalah ini berasal.

Dan juga, jika kalian memang mahasiswa yang sesungguhnya, diharapkan tidak meng-copy makalah ini 100%. Makalah ini hanya menjadi referensi kalian ketika ingin menyusun makalah.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah berkat rahmat Allah swt dan pertolongan-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu.

Dibuatnya makalah ini adalah dengan tujuan untuk mengungkapkan sekelumit tentang ilmu tafsir dari perspektif sejarah dan perkembangannya dari masa ke masa. Kemudian hikmah apa yang terkadung dan dapat dipetik dari sejarah tafsir tersebut.

Di dalam makalah ini dibahas bagaimana dinamika perkembangan ilmu tafsir sejak awal adanya tafsir, yakni pada masa Nabi Muhamad saw. Lalu bagaimana Nabi saw dan sahabat menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga terjadilah periodesasi tafsir dari masa Nabi saw hingga masa kini. 
Akhirnya kami bermohon kepada Allah swt, semoga usaha kami ini mendapat ridha Allah serta mendapat respon positif dari para pembaca sekalian. Dan apabila terdapat kekeliruan di dalamnya, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Pengertian dan sejarah tafsir al-Qur’an, periodesasi tafsir, perbedaan tafsir yang qadim dan yang hadits, serta hikmah yang terkandung di dalamnya.
Pengertian dan sejarah tafsir al-Qur’an, periodesasi tafsir,
perbedaan tafsir yang qadim dan yang hadits,
serta hikmah yang terkandung di dalamnya.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Al-Qur’an merupakan salah satu kitab suci yang telah memberikan pengaruh yang luas dalam jiwa dan tindakan manusia. Bagi kaum muslimin, al-Qur’an bukan saja sebagai kitab suci (scripture) melainkan juga petunjuk (huda) yang menjadi pedoman sikap dan tindakan mereka dalam memainkan peran sebagai Khalifat  Allah di mukabumi. 

Ibarat katalog sebuah produk barang, al-Qur’an adalah guide bagi pengelola alam ini sehingga dapat berfungsi dengan baik. Maka baik buruknnya pengelolaan dan pendayagunaan alam sangat tergantung kepada tinggi rendahnya intensitas komitmen manusia terhadap petunjuk al-Qur’an. Karena itu, tafsir al-Qur’an dan hal-hal yang berkaitan dengannya mendapat perhatian besar sejak masa awal perkembangan Islam sampai masa kini, bahkan hingga masa mendatang, mengingat posisi sentral yang dimilikinya sebagai huda.  

Tak dapat dipungkiri bahwa studi al-Qur’an selalu berkembang sejak al-Qur’an diturunkan hingga sekarang ini. Munculnya berbagai kitab tafsir yang syarat dengan berbagai ragam metode maupun pendekatan merupakan bukti nyata bahwa upaya untuk menafsirkan al-Qur’an memang tidak pernah berhenti. Hal ini merupakan keniscayaan sejarah, karena umat Islam pada umumnya ingin selalu menjadikan al-Qur’an sebagai mitra dialog dalam menjalani kehidupan dan mengembangkan peradaban. Proses dialektika antara teks yang terbatas dan konteks yang tak terbatas itulah sebenarnya yang menjadi pemicu dan pemacu bagi perkembangan tafsir. 

Pada masa awal kemunculan tafsir al-Qur’an ini diyakini sudah ada sejak masa Rasulullah saw, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat. Setelah itu kemudian masa perkembangan ilmu tafsir pada masa tabi’in dan dilanjutkan oleh ulama mutaqaddimin serta mutaakhirin hingga kemudian lebih dikembangkan lagi dengan metode yang baru oleh para mufassirin kontemporer. Sehingga, lahirlah corak yang beragam yang belum ada pada masa tafsir  qadim (klasik) dan ada pada masa tafsir hadits (kontemporer).

Dalam makalah ini dibahas bagaimana pengertian dan sejarah tafsir al-Qur’an, periodesasi tafsir, perbedaan tafsir yang qadim dan yang hadits, serta hikmah yang terkandung di dalamnya. 

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 

  1. Bagaimana pengertian tafsir?
  2. Bagaimana sejarah tafsir?
  3. Bagaimana periodesasi tafsir?
  4. Bagaimana perbedaan tafsir qadim dan hadits?
  5. Hikmah apa yang dapat dipetik dari sejarah tafsir itu?


1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengungkapkan sekelumit tentang ilmu tafsir dengan pokok masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengertian tafsir?
  2. Bagaimana sejarah tafsir?
  3. Bagaimana periodesasi tafsir?
  4. Bagaimana perbedaan tafsir qadim dan hadits?
  5. Hikmah apa yang dapat dipetik dari sejarah tafsir itu?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Tafsir

Tafsir menurut bahasa (lughah) berasal dari kata فسر- يفسر- تفسيرا dari wazan فعل- يفعل- تفعيلا yang berarti menjelaskan atau menerangkan.  Umpamanya seperti فسرالكتاب yang berarti menerangkan kitab.  Pengertian tafsir dapat ditelusuri dalam pemakaian kata tafsir dalam al-Qur’an “Dan mereka tidak membawa kepadamu dengan perumpamaan selain kami membawakanmu kebenaran dan penjelasan yang terbaik” (QS. al-Furqan 25 : 33). 

Sedangkan menurut istilah adalah sebagai berikut:
Menurut Al-Zarkasyi dalam Al-Itqan: “Tafsir adalah ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Muhamad, menjelaskan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmahnya”. 

Sedangkan itu, pada  redaksi lain dalam kitab Al-Burhan, Al-Zarkasyi seperti yang dikutip oleh Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy mengatakan bahwa: “Tafsir itu, ialah: menerangkan makna-makna Al-Qur’an dan mengeluarkan hukum-hukumnya dan hikmah-hikmahnya.” 

Al-Kilby berkata dalam At-Tashil: “Tafsir itu, ialah: mensyarahkan Al-Qur’an, menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang dikehendakinya dengan nashnya atau dengan isyaratnya, ataupun dengan najuahnya.” 

Dari beberapa pengertian di atas, kiranya dapatlah ditarik kesimpulan bahwa tafsir itu terbagi menjadi dua konteks: yaitu konteks sebagai suatu cabang ilmu dan sebagai makna dari tafsir itu sendiri.
Jika dikatakan sebagai suatu cabang ilmu, maka ilmu tafsir adalah ilmu untuk memahami Kitabullah guna menjelaskan makna-maknanya serta menjelaskan hukum-hukumnya dan hikmah-hikmahnya.
Adapun konteks tafsir yang kedua, yakni sebagai maknanya ialah menerangkan dan  menjelaskan makna al-Qur’an dengan nashnya, atau dengan isyarahnya, atau dengan najuahnya (rahasianya).
  

2.2  Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tafsir

Telah menjadi sunnatullah bahwa Ia mengutus setiap rasul dengan menggunakan bahasa kaumnya. Hal ini agar komunikasi antara mereka berjalan dengan sempurna. Allah berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (Ibrahim [14] : 4). 

Kitab yang diturunkan kepadanya juga dengan bahasanya dan bahasa kaumnya. Apabila bahasa Muhamad adalah bahasa Arab, maka kitab yang diturunkan kepadanya juga dalam bahasa Arab. Demikianlah penjelasan ayat muhkam berikut:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Qur’an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (Yusuf [12] : 2). 

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, menurut uslub-uslubnya. Seluruh lafad Al-Qur’an adalah bahasa Arab asli, terkecuali beberapa kata yang berasal dari bahasa lain yang telah menjadi bahasa Arab, serta dipakai pun menurut bahasa Arab sendiri. 

Keterangan di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Mashuri Sirojuddin Iqbal dalam Pengantar Ilmu Tafsir, ia mengatakan bahwa seluruh lafazh al-Qur’an adalah berbahasa Arab terkecuali beberapa kalimat yang berasal dari bahasa lain yang telah menjadi bahasa Arab, seperti lafazh كفلين dalam surat al-Hadid ayat 28. Lafazh itu berasal dari bahasa Habsyi maknanya sama dengan ضعفين yang berarti dua kali lipat ganjaran. 

Tetapi meskipun demikian Al-Qur’an itu tetap berbahasa Arab.Lafazh-lafazh Al-Qur’an itu ada yang bersifat hakikat, ada yang bersifat majaz, dan ada yang bersifat kinayah. 

Setiap kali Nabi saw menerima wahyu dari Allah swt, Nabi pun segera menyampaikannya kepada para sahabat serta menafsirkannya sesuai dengan dengan petunjuk yang diberikan Jibril kepada beliau. Jika tidak ada petunjuk dari Jibril, maka Nabi pun tidak menafsirkannya. Oleh karena itu, menurut Aisyah r.a yang dikutip oleh Hasbi Ash-Shiddieqy, mengatakan bahwa: “Nabi menafsikan hanya beberapa ayat saja menurut petunjuk Jibril.”

Inilah yang menyebabkan timbulnya keinginan dan tekad yang kuat di kalangan para sahabat untuk lebih bersungguh-sungguh dalam mencari dan memahami tafsir al-Qur’an guna mengetahui makna dari ayat-ayat al-Qur’an.

2.3  Periodesasi Tafsir dari Masa ke Masa

Di atas telah sedikit disinggung bahwa yang pertama kali yang menafsirkan al-Qur’an adalah shahib al-qur’an, yakni Nabi melalui petunjuk-petunjuk yang Allah berikan  lewat Jibril. Kemudian penjelasan-penjelasan (tafsir) dijadikan pokok-pokok pertama dalam menfsirkan al-Qur’an. Tegasnya, para sahabat sepakat untuk menetapkan nukilan-nukilan dari Nabi saw sebagai dasar pertama dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.

Adapun contoh penafsiran di masa Nabi adalah ketika para sahabat bertanya tentang tafsir ظلم dalam 
surat Al-An’am ayat 82, maka Nabi pun menjawab bahwa yang dimaksud ظلم pada ayat tersebut adalah syirik. Kemudian Nabi pun menguatkan penafsirannya itu dengan firman Allah dalam surat Luqman ayat 13 yang artinya: “Sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Mengenai penafsiran dengan kemampuan ijtihad, para sahabat berselisih. Sebagian sahabat dalam menafsirkan Al-Qur’an hanya berpedoman kepada riwayat semata, tidak mau mempergunakan ijtihad. Sebagian yang lain, disamping menafsirkan ayat dengan hadits-hadits yang diterimanya dari Nabi atau sesamanya, mereka menafsirkan juga dengan ijtihad. Tegasnya, disamping mereka menafsirkan dengan atsar, mereka juga menafsirkan Al-Qur’an dengan berpegang kepada kekuatan bahasa Arab dan asbabun nuzul. Karena itu, menjadilah ijtihad dasar tafsir yang kedua. 

Di antara sahabat yang menafsirkan al-Qur’an dengan menggunakan ijtihad selain menggunakan riwayat dari Nabi saw adalah Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas. Keduanya merupakan sahabat yang terkenal dengan kemahirannya dalam bidang ta’wil dan istinbath. Meskipun demikian, sebagian sahabat serta banyak dari tabi’in yang menetapkan Ibnu Abbas sebagai Turjuman al-Qur’an (penafsir al-Qur’an) dibandingkan dengan Ibnu Mas’ud.

Sebagai contoh bagaimana Ibnu Abbas berusaha menafsirkan ayat al-Qur’an dari segi lafazhnya dengan menggunakan ijtihadnya adalah sebagai berikut:  

“Abu Ubaid meriwayatkan dari sanad Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia (Ibnu Abbas) berkata ; “Aku tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan lafazh فاطر السموات sampai datang kepadaku dua orang Arab gunung yang bersengketa mengenai sebuah sumur. Salah satu dari keduanya mengatakan : انا فطرتها , maksudnya ialah انا ابتدء تها (aku yang memulai membuatnya)”. 

Sebagaimana tokoh-tokoh sahabat banyak yang dikenal dengan dalam lapangan tafsir, maka sebagian tokoh tabi’in yang menjadi dan belajar kepada mereka pun terkenal di bidang tafsir. Dalam hal sumber tafsir, para tabi’in berpegang pada sumber-sumber yang ada pada masa para pendahulunya di samping ijtihad dan pertimbangan nalar mereka sendiri. 

Berkata Ustaz Muhamad Husain az-Zahabi:
Dalam memahami Kitabullah, para mufasir dari kalangan tabi’in berpegang pada apa yang ada dalam Qur’an itu sendiri, keterangan yang mereka riwayatkan dari para sahabat yang berasal dari Rasulullah, penafsiran yang mereka terima dari para sahabat berupa penafsiran merka sendiri, keterangan yang diterima tabi’in dari Ahli Kitab yang bersumber dari isi kitab mereka, dan ijtihad serta pertimbangan nalar mereka terhadap Kitabullah sebagaimana yang dianugerahkan Allah kepada mereka. 

Tatkala daerah Islam telah berkembang luas, maka ulama-ulama tafsir banyak yang pindah ke daerah-daerah baru. Bersamaan dengan itu tersebar pula madrasah-madarasah di beberapa kota, antara lain di Makkah : Timbul Madarasah Ibnu Abbas. Murid-murid Ibnu Abbas yang meriwayatkan tafsir daripadanya ialah : Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah (maula Ibnu Abbas), Thawus bin Kaisan Al-Yamani, dan Atha bin Abi Rabah. 

Selain di Makkah, di Madinah pun muncul Madrasah Tafsir Ubay bin Ka’ab yang memiliki murid yang tidak sedikit. Di antara murid-muridnya -dari kalangan tabi’in adalah Zaid bin Aslam, Abu Al-‘Aliyah, dan Muhamad bin Ka’ab Al-Qurdhi.

Sama halnya dengan yang terjadi di Makkah dan Madinah, di Iraq pun muncul Madrasah Tafsir Ibnu Mas’ud. Di antara murid-muridnya adalah : Al-Qamah bin Qais, Amir Asy-Sya’bi, Hasan Al-Bashri, dan Qatadah bin Di’amah As-Sadusi.

Merekalah mufasir-mufasir terkenal dari kalangan tabi’in di berbagai wilayah Islam, dan dari mereka pulalah tabi’it tabi’in (generasi setelah tabi’in) belajar. 

Memasuki masa pembukuan (tadwin), yakni pada masa akhir dinasti Umayyah dan awal dinasti Abbasiyyah, hadis mendapatkan prioritas utama yang meliputi berbagai bab, sedangkan tafsir hanya mendapat prioritas setelahnya. Hal itu terjadi mengingat tafsir hanya merupakan salah satu bab dari sekian banyak bab yang tercakup di dalamnya.

Pada awal dinasti Abbasiyah terjadi usaha-usaha untuk mengumpulkan mengumpulkan hadits-hadits tafsir yang dinisbatkan kepada Nabi, sahabat, atau tabi’in guna. Hal itu dilakukan guna memisahkan antara riwayat-riwayat dari Nabi saw dengan riwayat lainnya.

Berikut adalah tokoh-tokoh yang terkenal dalam bidang ini: 

  • Yazid bin Harun As-Sulami (w. 117 H)
  • Syu’bah bin Al-Hajjaj (w. 160 H)
  • Waki’ bin Jarrah (w. 197 H)
  • Sufyan bin ‘Uyainah (w. 198 H)
  • Rauh bin ‘Ubadah Al-Bashri (w. 205 H)
  • Abdurrazzaq bin Hammam (w. 211 H)
  • Adam bin Iyas (w. 220 H)
  • Abdun bin Humaid (w. 249 H)
Meskipun pada masa ini sudah banyak muncul tafsir-tafsir al-Qur’an, seperti Tafsir Ibnu Uyainah dan Tafsir Waki’ bin Jarrah, namun sangat disayangkan bahwa tafsir-tafsir itu tidaklah sampai kepada kita, hanya nukilan-nukilan yang dinisbatkan kepada mereka yang sampai kepada kita sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab Tafsir bil-ma’tsur.

Sesudah golongan ini datanglah generasi berikutnya yang menulis secara khusus dan independen serta menjadikannya sebagai ilmu yang berdiri sendiri dan terpisah dari hadis. Qur’an mereka tafsirkan secara sistematis sesuai dengan tertib Mushaf. Di antara mereka adalah Ibn Majah (w. 273 H.), Ibn Jarir at-Tabari (w. 310 H.), Abu Bakar bin al-Munzir an-Naisaburi (w. 318 H.), al- Hakim (w. 405 H.) dan Abu Bakar bin Mardawaih (w. 410 H.). 

Tafsir generasi ini membuat riwayat-riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah, sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan terkadang disertai dengan pen-tarjih-an terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan dan penyimpulan (istinbath) sejumlah hukum serta penjelasan kedudukan kata (i’rab) jika dperlukan, sebagaimana dilakukan Ibnu Jarir at-Tabari. 

Semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang pula tafsir serta pembukuannya.  Namun, itu semua ada dampak positif dan negatifnya. Dampak positifnya adalah pembukuan tafsir yang mencapai kesempurnaan. Sedangkan dampak negatifnya adalah munculnya berbagai macam cabang tafsir yang dipengaruhi oleh masalah-masalah “Kalam”dan ilmu-ilmu yang bercorak rasional seperti filsafat yang bercampur dengan ilmu-ilmu yang bersifat naqli seperti al-Qur’an, Hadits, dan Atsar sahabat.

Selain daripada itu, fanatisme mazhab juga turut andil dalam masalah ini. Setiap golongan berusaha mendukung mazhabnya masing-masing. Hal inilah yang membuat tafsir ternoda oleh keegoisan para pendukung mazhab.

Di antara mereka tidak sedikit yang menafsirkan al-Qur’an dengan berpegang pada pemahaman sendiri ke berbagai kecenderungan sesuai dengan ilmu yang paling dikuasainya.
Ahli ilmu rasional hanya memperhatikan dalam tafsirnya kata-kata pujangga dan filosof, seperti Fakhruddin ar-Razi. Ahli fikih hanya membahas soal-soal fikih, seperti al-Jassas dan al-Qurtubi. Sejarawan hanya mementingkan kisah dan berita-berita, seperti as-Sa’alabi dan al-Khazin. 

Ada pula yang kecenderungan tafsirnya kepada kaidah-kaidah nahwu, cabang-cabangnya, serta masalah-masalah yang berkaitan dengannya, seperti Abu Hayyan Al-Andalusi dalam Al-Bahr Al-Muhith dan Al-Nahr.

Memasuki masa moderen dengan berbagai problematikanya, sejumlah tokoh pun meresponnya dengan mengembangkan pemikirannya pada aspek perkembangan zaman. Mulai dari ekonomi, sosial dan budaya. Hal inilah yang kemudian mendorong sejumlah tokoh untuk melakukan kajian tafsirnya bukan lagi dari segi tekstual ayat, melainkan kontekstualnya, seperti yang dilakukan oleh Muhamad Abduh dan salah seorang muridnya Rasyid Ridho.

Dalam tafsirnya, mereka lebih mengetengahkan kontekstual ayat dibandingkan tektstual ayat. Hal ini dilakukan mengingat tektual ayat yang terbatas, sedangkan persoalan-persoalan di masayarakat yang semakin hari semakin berkembang dan beraneka macam jenisnya. Oleh karenanya, diperlukan panduan atau petunjuk untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut.

Al-Qur’an merupakan pedoman yang menjadi petunjuk bagi umat Islam menjadi kebutuhan pokok yang harus ada untuk menjawab persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat. Namun pada kenyataannya, persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat tidaklah semua dapat terjawab oleh tekstual al-Qur’an. Oleh karenanya, ada mufassir yang terketuk hatinya untuk menafsirkan tekstual al-Qur’an dengan mengetengahkan aspek kontekstual ayat yang muncul dan berkembang di masyarakat.

Salah satu kitab tafsir kontemporer yang lahir dan masih ada hingga kini adalah Tafsir Al-Manar karya Muhamad Abduh.

Tafsir Al-Manar merupakan salah satu kitab tafsir populer di kalangan peminat studi al-Qur’an. Majalah Al-Manar yang memuat tafsir ini secara berkala, pada abad ke-20 tersebar luas ke seluruh penjuru  dunia Islam, dan mempunyai peranan yang tidak kecil dalam pencerahan pemikiran serta penyuluhan agama. Itu semua tidak terlepas dari penngaruh Muhamad Abduh, lebih-lebih sang murid-Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, pemimpin dan pemilik majalah tersebut serta penulis Tafsir Al-Manar. 

2.4  Perbedaan Tafsir Qadim (Klasik) dan Hadits (Kontemporer)

Sedikit mengenal tentang tafsir qadim, atau klasik. Adapula yang menyebutnya sebagai tafsir konvensional seperti Abdul Mustaqim dalam Studi Al-Qur’an Kontemporer: Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir. Bukan tanpa alasan ia menyebutnya dengan tafsir konvensional. Karena menurutnya, tafsir konvensional identik terhadap produk tafsir klasik yang memiliki kecenderungan menafsirkan al-Qur’an secara utuh 30 Juz, melalui perangkat ‘ulum al-Qur’an dan kaidah-kaidah tafsir lainnya yang langsung berkaitan dengan teks (nash). 

Hal ini merupakan seuatu bentuk penafsiran pada umumnya menjadikan teks sebagai objek penafsiran, meskipun kontekstualisasi juga dikaji melalui kaidah-kaidah asbab al-nuzul, akan tetapi kajian tersebut hanya berlaku pada segelintir ayat. Padahal teks terbatas tidak akan mengimbangi konteks (waqai’) yang terus berkembang dinamis.

Tafsir konvensional ini merupakan tafsir yang menempatkan ilmu al-lughah al-arabiyyah (ilmu bahasa Arab) sebagai perangkat utama dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Oleh karena itu, berbagai kaidah bahasa Arab pun digali dan dikaji dengan menggunakan berbagai aspek, seperti: ilmu lughah, nahwu, sharf, ma’ani, bayan, badi’, serta mengetahui ijmal, tabyin, ‘am, khash, mafhum, mamthuq, muthlaq dan muqayyad. 

Adapun metode yang digunakan pada tafsir ini seperti yang dijelaskan oleh Al-Farmawi dalam Al-Bidayah ada empat metode, yaitu: tahlili, ijmali, muqaran, dan maudhu’i. 
Dari pemaparan singkat di atas, dapatlah disimpulkan bahwa tafsir qadim, klasik ataupun konvensional adalah tafsir yang fokus kajiannya cenderung kepada tekstual ayat dengan menggunakan ilmu bahasa Arab sebagai perangkat utamanya serta menggunakan kaidah-kaidah asbab al-nuzul di beberapa ayat.

Yang kedua adalah tafsir hadits atau kontemporer. Tema kontemporer pada dasarnya berasal dari perkembangan ilmu pengetahuan yang menemukan ranah baru dalam kajian kebahasaan. Secara umum tema kontemporer adalah bias dari modernitas, akan tetapi perbedaan ranah kajian yang berkembang dinamis memunculkan terminologi baru sebagi sebagai semangat keilmuan medern yang memiliki kecenderungan terhadap teks kebahasaan. 

Tafsir kontemporer adalah tafsir yang memiliki kecenderungan terhadap perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Tafsir ini muncul karena ingin merespon perkembangan zaman dengan segala problematikanya, baik dari segi ekonomi, sosial dan budaya. Hal ini terjadi mengingat teks al-Qur’an yang terbatas. Tanpa mengecilkan teks al-Qur’an, kemudian para mufassir melakukan pendekatan melalui metode kontekstual yang berjalan beriringan dengan tekstual al-Qur’an guna menggali dan mengkaji makna teks al-Qur’an yang lebih luas.

Dari penjelasan singkat di atas, dapatlah ditarik garis lurus bahwa yang dimaksud tafsir hadits (kontemporer) adalah tafsir yang fokus kajiannya cenderung mengarah pada kontekstual ayat serta menjadi respon terhadap perkembangan zaman namun tetap berjalan beriringan dengan tekstual ayat.

2.5  Hikmah Sejarah Tafsir

Hikmah menurut Kamus Besar Bahasa Arab (KBBI) berarti kebijaksanaan dari Tuhan atau dapat juga dikatakan bahwa hikmah itu adalah kebijaksanaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan hikmah itu manusia dapat mengetahui hakikat dari sebuah perkara, baik dan buruknya serta dapat menjawab berbagai permasalahan dengannya.

Hikmah juga dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan dari Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia. Ketika manusia dianugerahi hikmah oleh Tuhannya, maka sesungguhnya ia telah diberi nikmat yang banyak oleh Tuhannya. 

Bila kita cermati dari pembahasan di atas, ada beberapa hikmah yang dapat kita petik, yaitu: pertama, dapat menambah wawasan keilmuan yang kaitannya dengan dengan sejarah petumbuhan dan perkembangan tafsir dari masa ke masa. Kedua, perjalan tafsir yang begitu panjang hingga mengalami pasang surut yang menjadikan tafsir berkembang hingga saat ini. Ketiga, perlunya kita selaku generasi masa kini untuk menjaga dan melestarikan tafsir agar dapat sampai dan dimanfaatkan oleh generasi setelah kita.

BAB III
KESIMPULAN


Tafsir dilihat dari segi keilmuan merupakan suatu ilmu untuk memahami Kitabullah guna menjelaskan makna-maknanya serta menjelaskan hukum-hukumnya dan hikmah-hikmahnya. Sedangkan tafsir dalam makna aslinya adalah menerangkan dan  menjelaskan makna al-Qur’an dengan nashnya, atau dengan isyarahnya, atau dengan najuahnya (rahasianya).

Menafsirkan al-Qur’an pada mulanya hanya diperuntukan kepada Nabi saw selaku Shahib al-Qur’an dengan petunjuk-petunjuk Jibril kemudian Nabi menyampaikannya kepada para sahabat.

Sedikitnya nukilan-nukilan dari Nabi saw dalam menafsirkan hadits yang kemudian mendorong para sahabat untuk melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Di kalangan sahabat, ada yang menggunakan ijtihad dan ada pula yang hanya menggunakan nukilan-nukilan dari Nabi sebagai sumber tafsirnya. Hal ini berlaku juga bagi generasi setelahnya yang menggunakan nukilan-nukilan dari Nabi, sahabat, tabi’in serta ijtihad dalam tafsirnya.

Tafsir qadim adalah tafsir yang fokus kajiannya cenderung mengetengahkan tekstual ayat berdasarkan kaidah-kaidah gramatika bahasa Arab serta berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Nabi saw. Sedangkan tafsir hadits adalah tafsir yang fokus kajiannya cenderung mengetengahkan kontekstual ayat yang baerjalan seiring berkembangnya zaman. Meski demikian, dalam tafsir hadits pun tetap menggunakan tekstual ayat dan nukilan-nukilan dari Nabi dalam menafsirkan al-Qur’an, serta kaidah-kaidah bahasa Arab.

Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, terlepas dari sejarah dan dampak positif serta negatifnya. Dari sejarah tafsir dan perjalanannya yang begitu panjang, kiranya ada hikmah yang dapat kita petik, yakni berusaha menjaga dan melestarikan apa yang sudah ada sekarang untuk generasi mendatang.

DAFTAR PUSTAKA


Ash-Shiddieqy, Hasbi, 1997, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Abdullah Al-Danquri, Matn Al-Bina wa Al-Asas, Sukabumi: Toko Anda.
Qattan, al, Manna, 2012, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor: Litera Antarnusa.
Bartens, K, 2009, Sejarah Filsafat Kontemporer Inggris-Jerman, Yoyakarta: Ar-Ruz Media.
Hamid, Shalahuddin, 2002, Study Ulumul Qur’an, Jakarta: Intimedia Ciptanusantara.
Hasanah, Amalia, 2013, Kamus Besar Bahasa Arab, Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Iqbal, Sirojuddin, Mashuri, dkk, 2005, Pengantar Ilmu Tafsir, Bandung: Angkasa.
Mustaqim, Abdul, 2003, Madzahibut Tafsir: Peta Metodologi Penafsiran Al-Qur’an Periode Klasik, Yogyakarta: Nun Pustaka.
Shihab, Quraish, Muhamad, 2006, Rasionalitas Al-Qur’an: Studi Kritis atas Tafsir Al-Manar, ¬Ciputat, Lentera Hati.

Keterangan:

[1]Arifin, Sejarah Tafsir Klasik dan Moderen, STAIN Surakarta, Surakarta, 2008, hlm. 1
[2]Abdul Mustaqim, Madzahibut Tafsir: Peta Metodologi Penafsiran al-Qur’an Periode Klasik   
   hingga Kontemporer, Nun Pustaka, Yogyakarta, 2003, hlm. xv.
[3]Mala Abdullah Al-Danquri, Matn Al-Bina wa Al-Asas, Toko Anda, Sukabumi, hlm. 4.  
[4]Lihat Amalia Hasanah, Kamus Besar Bahasa Arab, Pusrtaka Widyatama, Yoyakarta, 2013, hlm. 
   394.
[5]Shalahuddin Hamid, Study Ulumul Qur’an, Intimedia Ciptanusantara, Jakarta, 2002, hlm. 322.
[6]Mahuri Sirojuddin Iqbal dan A Fadlali (Bandung: Angkasa, 2005) hlm. 87. Lihat juga Manna Khalil 
   Al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Pustaka Litera Antarnusa, Bogor, 2012, hlm. 457.
[7]Ibid, hlm. 87. Lihat juga Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 
   Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1997, hlm. 170.
[8]Ibid, hlm. 170.
[9[Lihat Manna Khalil Al-Qattan (Bogor: Pusataka Litera Antarnusa, 2012) hlm. 467.
[10]Ibid, hlm. 467.
[11]Lihat Hasbi Ash-Shiddieqy (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1997) hlm. 194.
[12]Lihat Mashuri Sirojuddin Iqbal Pengantar Ilmu Tafsir (Bandung: Angkasa, 2005) hlm. 103-104.
[13]Ibid, hlm 104. Lihat juga Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 
    hlm. 195.
[14]Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (Semarang: Pustaka Rizki 
    Putra, 1997) hlm. 198.
[15]Op. Cit. hlm. 106.
[16]Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Litera Antarnusa, Bogor, 2012, hlm. 473.
[17]Ibid, hlm. 474.
[18]Mashuri Sirojuddin Iqbal, Pengantar Ilmu Tafsir, Angkasa, Bandung, 2005, 108.
[19]Op. Cit. hlm. 475.
[20]Lihat Manna Khalil Al-Qattan, hlm. 476 – 477.
[21]Ibid, hlm. 477.
[22]Ibid, hlm. 477-478.
[23]Muhammad Quraish Shihab, Rasionalitas Al-Qur’an: Studi Kritis atas Tafsir Al-Manar, Ciputat, 
     Lentera Hati, cet. 1, 2006, hlm. 11.
[24]Abu Hayy Al-Farmawi, Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Maudhu’i, Al-Hadarah Al-Arabi, Kairo, 1996, 21.
[25]K. Bartens, Sejarah Filsafat Kontemporer Inggris-Jerman, Ar-Ruz Media, Yogyakarta, 2009, hlm.  
    2.