Sejarah munculnya aliran khawarij akibat peristiwa tahkim

Aliran Khawarij

Sejarah munculnya aliran khawarij akibat peristiwa tahkim
Sejarah munculnya aliran khawarij akibat peristiwa tahkim
Jika membahas aliran kalam, maka tidak luput dari alirannya, tokoh-tokohnya dan doktrin-doktrinnya. Seperti halnya pada aliran ilmu kalam khawarij. Nama khawarij secara bahasa berasal dari kharaja yang memiliki arti keluar, muncul, timbul atau juga mmeberontak. Sedangkan yang di maksud aliran khawarij secara istilah yaitu setiap muslim yang memiliki sikap laten ingin keluar dari kasatuan umat islam.

Akan tetapi terdapat perbedaan arti antara pengertian ilmu kalam dari segi etimologi secara umum dengan etimologi dalam ilmu kalamnya. Dalam ilmu kalam, aliran khawarij ini adalah suatu sekte atau aliran pengikut dari khalifah keempat dari Rasulullah, yaitu Ali bin abi thalib, yang keluar meninggalkan barisan karena tidak sepakat terhadap khalifah Ali yang telah menerima abritase atau tahkim dalam perang siffin yang terjadi pada tahun 37 hijriyah atau 648 masehi dengan para pemberontak atau bughat yaitu muawiyyah bin abu sufyan mengenai persengketaan khilafah.

Pada awalnya kelompok khawarij ini menerima bahwa khalifah Ali adalah khalifah yang sah, yang telah di pilih oleh umat muslim dan telah di bai'at mayoritas umat islam, sementara muawiyyah adalah kelompok yang salah karena memberontak kepada khalifah yang sah.
Perang siffin adalah perang yang terjadi antara pasukan khalifah Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Muawiyyah bin Abu Sufyan di bukit yang bernama bukit harura.

Peristiwa Tahkim

Ketika perang siffin terjadi, kelompok muawiyyah merasa akan mengalami kekalahan. Karena hal tersebut, pihak muawiyah meminta untuk berdamai dengan kelompok khalifah Ali. Ajakan berdamai tersebut tidak langsung diterima begitu saja oleh khalifah Ali, karena hal tersebut maka muncul dua kubu didalam kelompok khalifah ali. Dimana kubu pertama adalah kubu yang menyetujui jika khalifah Ali menerima perdamaian tersebut. Sedangkan kubu yang lain menyuruh khalifah Ali untuk menolak ajakan untuk berdamai.

Keputusan yang diambil oleh khalifah Ali adalah menerima ajakan kelompok muawiyyah untuk berdamai. Karena menurutnya, rasulullah tidak pernah mencontohkan untuk melanjutkan berperang ketika musuh sudah meminta damai, dan juga menurutnya bahwa kita adalah saudara, maka dari itu ia lebih memilih untuk berdamai daripada terus-menerus menumpahkan darah sesamanya.

Setelah khalifah Ali menerima ajakan damai, ajakan damai ini kemudia dikenal kenal abritase atau tahkim. Mengadakan perjanjian untuk berdamai.

Dari pihak Ali mengirimkan seseorang untuk menjadi penengah atau pembicara dalam perdamaian tersebut, yaitu Abu Musa al-Asy'ari. Sedangkan dari pihak Muawiyyah yang ditugaskan untuk menjadi juru bicaranya adalah Amru bin ‘Ash. Ini dilakukan dengan harapan dapat menemukan titik terang dari peperangan tersebut.

Akan tetapi dalam abritase ini terjadi kecurangan dari pihak muawiyyah. Karena keputusan dari tahkim adalah diturunkannya jabatan Ali dari khalifah oleh utusannya, sementara muawiyyah diangkat menjadi khalifah pengganti Ali oleh delegasinya.

Hal tersebut membuat sebagian kelompok Ali menjadi kecewa. Sejak itulah orang-orang khawarij membelot dengan mengatakan "Mengapa kalian berhukum kepada manusia? Tidak ada hukum selain hukum yang ada para sisi Allah." Kemudian khalifah Ali menanggapi hal tersebut dengan mengatakan, "itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka artikan dengan keliru.".

Disaat itulahh yang sebagian dari kelompok Ali memisahkan diri, maka dari itu ada yang menamakan hururiah. Kadang-kadang mereka juga menyebutnya Syurah dan Al-Mariqah.

Di Harura, kelompok khawarij melanjutkan perlawanan selain kepada mu'awiyah juga kepada khalifah Ali. Disana, kelompok ini mengangkat seorang pemimpin yang bernama Abdullah bin Sahab ar-Rasyibi.

Itulah pengertian aliran khawarij beserta sejara kemunculannya.

Khalaf Ahlussunnah :al-Asy'ariyah dan al-Maturidi

Ahlussunnah wal jamaah

Kata khalaf digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad ke II Hijriyah dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan yang dimiliki salaf.

Sedangkan untuk istilah ahlussunnah bisa disebut juga dengan istilah sunni. Pengeriannya dapat dibagi menjadi dua, yaitu

  • Secara umum yang berarti adalah lawan dari kelompok syi'ah
  • Secara khusus yang berarti adalah madzhab dalam barisan sunni.
Sunni adalah mereka yang seantiasa tegak diatas syari'at islam berdasarkan al-quran dan hadits yang shahih dengan pemahaman para shaabat tabi'in. tabi'in dan tabi'at.

Khalaf Ahlussunnah :al-Asy'ariyah dan al-Maturidi
Khalaf Ahlussunnah :al-Asy'ariyah dan al-Maturidi


Seajarah singkat al-Asy'ariah 

Al-asy'ari lahir di Basrah pada tahun 260 Hijriyah atau 875 Masehi dan wafat pada tahun 324 Hijriyah atau 953 Masehi. Ia merupakan tokoh mu'tazilah dan juga merupkan orang yang ahli hadits berkat ajaran ayah tirinya. 

Beliau menganut paham mu'tazilah hanya sampai usia 90 tahun saja. Karena ada beberapa alasan mengapa ia keluar dari paham mu'atzilah. Alasannya yang paling masuk akal adalah karena pada saat itu posisi pemerintahannya dikuasai oleh aliran mu'tazilah. Sehingga mu'tazilah menjadi madzhab dari pemerintahan tersebut. Terdapat doktrin mu'tazilah tentang tauhid, yaitu mengatakan bahwa al-qur'an adalah makhluk. Karena terdapat pemaksaan paham atau doktrin itu, al-asy'ariyah tidak terima, ia menolaknya. Akibat adanya paksaan doktrin, akhirnya ia mendirikan aliran yang bernama aliran al-asy'ariyah. Aliran yang didirikan ini adalah aliran yang pemahaman atau doktrinnya lebih menonjol kepada aliran murji'ah.

Jadi sejarah munculnya aliran al-asy'ariyah ini adalah dikarenakan untuk menyelamatkan doktrin teologi dari mu'tazilah terhadap masyarakat,  menganggap bahwa teologi masyarakat telah hilang karena adanya paksaan doktrin dari aliran mu'tazilah.

Doktrin-doktrin aliran al-asy'ariyah:

  1. Tuhan dan sifat-sifatnya. Tuhan memiliki sifat
  2. Kebebasan dalam berkehndak (free will). Manusia bebas untuk melakukan perbuatan, untuk memilih dan menentukan serta mengaktualisasikan perbuatannya. Aliran ini membedakan khaliq dan kasb. Allah adalah khaliq atau pencipta perbuatan manusia, sedangkan manusia adalah yang mengupayakan perbuatannya atau disebut muktasib. Hanya Allah yang mampu menciptakan segala sesuatu, termasuk keinginan manusia.
  3. Akal dan wahyu. Dan kriteria baik dan buruk. Aliran asy'ariyah lebih mengutamakan akal dari pada wahyu. Dalam masalah menentukan baik dan buruk, aliran ini berpendapat bahwa baik dan buruk harus berdasarkan wahyu.
  4. Qadimnya al-qur'an. Asy'ariyah mengatakan bahwa alquran terdiri dari kata-kata, huruf-huruf, dan bunyi. Tetepi hal tersebut tidak melekat kepada esensi Allah dan tidak qadim.
  5. Melihat Allah. Menurutnya Allah dapat dilihat di akhirat, akan tetapi tidak dapat digambarkan. Melihat Allah, kemungkinan terjadi ketika Allah yang menyebabkan dapat melihat atau ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.
  6. Keadilan. Menurut asy'ariyah, Allah tidak memiliki keharusan apapun, karena ia adalah penguasa mutlak.
  7. Kedudukan orang yang berdosa besar. Baginya orang yang berdosa besar adalah tetap mukmin, namun mukmin yang fasik. Sebab, iman tidak akan hilang karena dosa selain kufur.

Sejarah singkat al-Maturidi

Pendiri dari alian ini adalah Abu Mansur al-Maturidi yang lahir sekitar abad ke-3 Hijriyah, dilahirkan di daerah samarkand, uzbekistand. Guru beliau adalah Nasy bin Yahya al-Balakhi.

Dokrin-doktrin aliran al-Maturidi:

  • Akal dan Wahyu - Baik dan buruk Aliran ini lebih mengutamakan wahyu daripada akalah, bertentangan dengan aliran asy'ariyah.
  • Perbuatan manusia. Menurutnya, perbuatan manusia adalah ciptaan-Nya. Manusia memiliki kemampuan untuk melakukan perbuatan, agar kewajiban-kewajiban yang dibebankannya dapat dilaksanakan.
  • Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan
  • Sifat-sifat Tuhan. Menurut aliran ini, sifat-sifat Tuhan adalah mulazamah atau ada bersama dzat tanpa terpisah (innaha lam takun 'ain adz dzat wa la hiya ghairuhu). Al-maturidi mengakui adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan mu'tazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.
  • Melihat Tuhan. Manusia dapat melihat Tuhan, berdasarkan kepada surat al-qiyamah ayat 22 sampai 23. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri (22). Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23).
  • Kalam Tuhan. Kalam nafsi adalah sabda yang sebenarnya atau makna abstrak. Kalam nafsi bisa juga dikatakan sebagai sifat qadim bagi Allah. Sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadits).
  • Perbuatan manusia. Setiap perbuatan Tuhan adalah bersifat mencipta atau kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia tidak terlepas dari hikmah dan keadilan yang dikehendaki-Nya.
  • Tuhan tidak akan membebankan kewajiban-kewajiban kepada manusia diluar batas kemampuannya, karena itu tidak sesuai dengan keadilannya. 
  • Hukuman, ancaman dan janji itu adalah pasti. Karena semua itu adalah keadilan yang sudah ditetapkan.
  • Pengutusan Rasul. Ia berpendapat bahwa pengutusan Rasul kedalam tengah-tengah umatnya adalah kewajiban Tuhan, agar manusia dapat berbuat baik dan bebruat yang terbaik didalam kehidupannya dengan ajaran para rasul.
  • Pelaku dosa besar. Menurutnya, orang yang berdosa besar adalah tidak kafir dan tidak kekal didalam neraka, walaupun ia meninggal sebelum bertaubat. Karena Tuhan telan menjajikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya. Kekal didalam neraka adalah balasan bagi orang-orang yang melakukan perbuatan syirik. Orang yang berbuat dosa besar, selain syirik tidak akan menjadikan orang tersebut kafir ataupun murtad. 
  • Iman cukup dengan tashdiq dan iqrar. Adapun alam adalah penyempurna dari iman itu sendiri.
  • Amal tidak akan menambah ataupun mengurangi ensei iman, kecuali sifatnya.

Tasawuf: Sejarah, Pengertian, Tokoh-tokohnya dan Tujuan Tasawuf

Tasawuf

Isi dari artikel ini ditulis oleh SOFYAN SUHERMAN.Terima kasih untuk sofyan yang telah menginzinkan isi artikel ini untuk dibagian ke publik. Semoga ilmunya bermanfaat.


# PENGERTIAN TASAWUF

Tasawuf menurut bahasa diambil dari kata shafa yang artinya bersih atau suci, sedangkan menurut istilah adalah tindakan membersihkan diri dari semua kotoran yang ada di dalam hati, seperti takabur, hasud, cinta dunia, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, ilmu tasawuf  juga sering disebut ilmu tazkiyyatun nufus yang artinya ilmu pembersih jiwa. 

Dr.Zaki Mubarak dalam kitabnya At-Tasawwuful Islami fil Adabi wal Akhlaq secara panjang lebar menjelaskan sejarah dan asal perkataan tasawwuf. 
Tentang asal-usul kata “sufi” itu sendiri terdapat perbedaan pendapat. Diantaranya ada yang manganggap bahwa secara lahiriah sebutan tersebut hanya semacam gelar, sebab dalam bahasa arab tidak terdapat akar katanya. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa kata “sufi” berasal dari shafa (bening). Ada yang berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata shafwun yang juga berarti bening. 

Sementara yang lain menganggap kata “sufi” itu berasal dari shaff, atau “barisan pertama dihadapan Allah”. Yang lainnya mengatakan bahwa kata tersebut dinisbatkan kepada Ahlu Suffah, sekelompok kaum Muhajirin dan Anshor yang miskin yang tinggal didalam sebuah ruangan disisi masjid Rasulullah SAW. Mereka yang tinggal didalam ruangan tersebut dikenal tekun beribadah. Menurut pendapat yang lain berasal dari sifat. 

Sementara pendapat berikutnya mengaggap kata itu berasal dari nama seorang penjaga Ka’bah di zaman jahiliah, yaitu Suffah ibnu Murrah. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa kata “sufi” tersebut berasal dari kata Yunani, sophia, yang berarti “kebijakan”. 

Namun kajian ilmiah membuktikan bahwa semua pendapat diatas kurang tepat. Yang lebih tepat ialah kata sufi (shufi) berasal dari shuf  atau bulu domba. Dikatakan “tashawwafa ar-rajul”, kau laki-laki memakai wol. Pada masa awal asketisisme, pakaian bulu domba adalah simbol para hamba Allah yang asketis. Para sufi sendiri banyak berpendapat seperti ini, diantaranya yaitu, As-sarraj Ath-Thusi dalam karyanya, Al-Luma. Pendapat ini dikokohkan Ibnu Khaldun dan lain-lain. (At-Taftazani, 1985, hlm. 21)

Berdasarkan beberapa pengertian dan sumber diatas dapat disimpulkan bahwa tasawuf sendiri masih menjadi perdebatan tentang asal-usul perkataanya, apakah kata tersebut berasal dari kata shafa yang artinya bersih atau suci, atau berasal dari kata shopia yang berarti “kebijakan” di dalam bahasa Yunani, atau dari sebutan gelar bagi seorang yang sholeh pada zaman jahiliah, atau dari kata sufi (shufi) berasal dari shuf yang berarti bulu domba. 

Namun, meski banyak perdebatan tentang asal-usul kata tasawuf itu sendiri, kebanyakan ahli sufi berpendapat bahwa, tasawuf itu berarti bersih atau tindakan membersihkan diri (tazkiyyatun nufus) dari pertipuan dunia dan senantiasa menghiasi diri dengan musyahadah kepada dzat Allah Rabbul ‘izzati.

# TOKOH-TOKOH TASAWUF YANG BERPENGARUH DI DUNIA

Terdapat banyak tokoh-tokoh tasawuf yang berpengaruh di dunia, diantaranya:
  1. Syaikh ‘Abdul Qodir Al-Jilani
  2. Syaikh Abi Hasan Ali As-Syadzili
  3. Syaikh Abu Yazid Al-Busthomi
  4. Syaikh Hasan Al-bashri
  5. Syaikh Abu Hamid Muhamad bin Muhamad Al-Ghozali

Dari beberapa tokoh-tokoh tasawuf tersebut, Syaikh Abdul Qodir adalah tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Beliau bernama Abu Muhamad ‘Abdul Qodir bin Abu Shalih ‘Abdullah bin Janki Dust bin Muhamad bin Dawud bin Musa bin ‘Abdullah bin al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Tholib. Beliau adalah seorang guru spiritual, pemimpin, dan orang yang mengenal Allah, pemimpin para wali, dan penghidup agama dan sunnah. 

Beliau lahir pada pertengahan bulan Ramadhan tahun 471 H di daerah Jilan. Di sana beliau melewati masa mudanya hingga berusia 18 tahun, kemudian beliau pindah ke Baghdad pada tahun 488 H hingga akhir hayatnya. 

Beliau terlahir dari keluarga yang amat akrab dengan ilmu dan karomah. Beliau menyadari bahwa menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat islam, baik laki-laki maupun perempuan, sehingga beliau merasa bahwa beliau harus bersegera dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan menguasi suatu ilmu dengan cara mendatangi tokoh-tokoh ulama pada masanya. 

Syaikh Abdul Qodir memulai pembelajaranya dengan mempelajari Al-Qur’an kepada beberapa orang guru, diantaranya adalah Abu Al-Wafa’ ‘Ali bin ‘Aqil Al-Hambali. Sedangkan ilmu hadits beliau pelajari dari para ahli hadits di masanya, seperti Abu Ghalib Muhamad bin Al-Hasan Al-Balaqolani dan lainya. Beliau juga belajar fiqih kepada para ulama dan para ahli fiqih terkrmuka di zamanya, seperti Abu Sa’ad Al-Mukharrimi yang memberinya “jubah tambalan” sebagai simbol bagi para penempuh jalan spiritual yang mulia. Beliau belajar sastra dan bahasa arab kepada Abu Zakariyya Yahya bin ‘Ali At-Tibrizi, dan belajar ilmu tarekat kepada Syaikh Hammad Ad-Dabbas. 

Dengan demikian, beliau menguasai ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu bahasa, dan sastra Arab. Beliau jua adalah salah satu pendiri tarekat Mu’tabarah yang ada di dunia umumnya dan khususnya yang ada di Indonesia, yaitu Tarekat Qodiriah. Selain Syaikh ‘Abdul Qodir Al-Jilani, masih banyak tokoh-tokoh sufi yang terkemuka lainya yang tidak mungkin dapat dirangkum di dalam pembahasan materi yang singkat ini. 

Berdasarkan kisah di atas dapat diambil beberapa pelajaran dan teladan yang baik dari tokoh-tokoh tasawuf tersebut, seperti Syaikh ‘Abdul Qodir Al-Jilani yaitu, sebagai seorang muslim dan muslimat kita sudah sepatutnya meneladani kesungguhan beliau dalam belajar dan menuntut ilmu untuk menghasilkan pengetahuan yang akan menuntun kita semua kepada  jalan keridhaan Allah dan jalan keselamatan dunia dan akherat. 

Di samping akan mendapatkan keridha’an Allah dan keselamatan dari-Nya, seorang yang memiliki ilmu juga akan diangkat derajatnya melebihi orang-orang yang tidak memiliki ilmu serta akan diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, seperti firman Allah berikut ini:

# MAKNA TASAWUF

Tasawuf tidak berarti tindakan pelarian diri dari kenyataan hidup, sebagaimana yang seringkali dituduhkan oleh sebagian dari mereka yang antipati terhadap tasawuf, akan tetapi tasawuf adalah sebuah tindakan untuk mempersenjati seseorang dengan nilai-nilai rohaniah yang akan menegakanya di saat dirinya sedang dihadapkan kepada masalah duniawi yang senantiasa menghampiri dirinya, sehingga dengan tasawuf tersebut seseorang dapat mengendalikan dirinya dari terlalu cinta dan terlena oleh keindahan dunia yang sifatnya hanya sementara. 

Menurut tasawuf, kehidupan ini adalah sekedar sarana, bukan sebagai tujuan, maka hendaklah seseorang mengambil apa yang diperlukannya serta janganlah terperangkap dalam perbudakan cinta harta, pangkat, dan semua hal yang bersifat duniawi. Dengan semua itu barulah manusia dapat sepenuhnya bebas dari nafsu dan syahwatnya, sehingga hasratnya pun terbebaskan. (Dr. Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi At-Taftazani, hlm. Viii: 1985)

Berdasarkan penjabaran di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, tasawuf itu bermakna sebuah tindakan untuk membentengi manusia dari cinta dunia dan tidak terperangkap di dalamnya. Seperti pesan Allah di dalam ayat-ayat-Nya di bawah ini yang artinya:
Dan adapun  orang-orang  yang  takut kepada  kebesaran Tuhannya  dan menahan diri dari keinginan hawa  nafsunya, Maka Sesungguhnya  syurgalah tempat  tinggal(nya). (QS. An-Naazi’aat: 40 – 41)
Dan aku tidak  membebaskan  diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya  nafsu itu selalu menyuruh kepada  kejahatan, kecuali nafsu yang  diberi rahmat  oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf: 53) 
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan  menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang  yang paling mulia diantara kamu  disisi Allah ialah orang  yang paling  taqwa diantara  kamu. Sesungguhnya  Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Al-Hujurat: 13)

# TUJUAN TASAWUF

Imam Al-Ghazali beranggapan bahwa ilmu tasawuf itu ialah tuntunan yang dapat mengantarkan manusia kepada mengenal Tuhan (Allah) dengan sebenar-benarnya (Ma’rifat). Oleh karena itu, jalan tarekat yang sebaik-baiknya_ dengan akhlak yang sebaik-baiknya_ jauh lebih baik daripada pengetahuan dan hikmah semata, karena segala ilmu dan kelakuan sufi yang merupakan batin itu terambil dari rahasia kenabian, dan tidak ada lagi cahaya yang lebih benar di belakang rahasia kenabian tersebut.

Inilah maksudnya bahwa ulama-ulama itu merupakan ahli waris nabi-nabi, karena yang diamalkan ialah ilmu-ilmu yang diperolehnya sebagai pusaka dari nabi-nabi tersebut. Seluruh ilmu sufi mengandung dzikir dan pujian terhadap Allah, sari dan tujuan daripada semua ilmu. Nabi muhamad SAW pernah ditanya oleh sahabat Ali bin Abi Thalib, yang menanyakan, “Manakah jalan yang sedekat-dekatnya menuju Allah, semudah-mudahnya, dan sebaik-sebaiknya bagi hamba-Nya?” Nabi SAW menjawab, “Zikir, menyebut dan mengingat Allah.”

 Oleh karena tujuan dari pada ilmu tasawuf itu tidak lain adalah membawa manusia setingkat demi setingkat kepada Tuhanya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali di dalam kitab minhajul ‘abidin miliknya.

Sejatinya ilmu tasawuf itu adalah ilmu yang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan di zaman Nabi-nabi sebelum beliau, tidak seperti yang dituduhkan oleh sebagian mereka yang anti terhadap tasawuf, yang mengatakan bahwa tasawuf adalah bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi SAW, dan Nabi tidak pernah mengajarkan tasawuf kepada para sahabat.

Namun, ternyata pendapat seperti itu salah besar, karena tasawuf itu sudah ada sejak zaman Nabi SAW juga zaman Nabi-nabi sebelumnya, bahkan di dalam Al-Qur’an pun banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan ilmu tasawuf.

Tasawuf juga bisa berarti akhlak yang baik atau mulia (aklaqul karimah), karena pada dasarnya tasawuf itu adalah sebuah tindakan untuk mencari keridha’an Allah dengan cara menjadikan tiap anggota tubuh, sikap, dan perilaku bisa mendatangkan keridha’an Allah dengan cara memperbaiki dan menjadikan semua itu baik dan bersih di hadapan-Nya. Maka, diperlukan sebuah cara atau tindakan untuk mengaplikasikan itu semua, yang disebut dengan ilmu “tasawuf”.

# AKHLAK TASAWUF

Akhlak adalah ibarat dari dasar-dasar ilmu untuk mengetahui perilaku hati dan panca indra, dari sisi baik dan buruknya. Sedangkan tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui tingkah laku diri (hati) dan sifat-sifatnya yang terpuji maupun tercela.

Akhlak dan Tasawuf adalah dua kata yang berbeda, akan tetapi memiliki makna yang sama, yaitu “perbuatan yang baik” atau “berbuat baik” kepada Allah, yang sering disebut dengan istilah hablu minallah, dan juga kepada sesama makhluk Allah, yang sering disebut dengan istilah hablu minannaas. Karena, keduanya sangat penting dan berkaitan erat untuk seseorang yang ingin mendapatkan keridha’an Allah serta selamat dunia dan akhirat. Jika ada seseorang yang baik di dalam hubunganya terhadap Allah saja, akan tetapi hubunganya kepada sesama makhluk-Nya (manusia) tidak baik, maka dapat dipastikan bahwa ia tidak akan mendapat keridha’an Allah juga keselamatan dari-Nya, begitu pula sebaliknya, jika ada seseorang yang hanya baik kepada sesama manusia, akan tetapi kurang baik kepada Allah, maka ia pun tidak akan mendapat keridha’an Allah dan keselamatan dari-Nya.

Maka, penting bagi seseorang yang ingin mendapatkan keridha’an dan keselamatan dari-Nya untuk menyelaraskan antara keduanya, yaitu hablu minallah dan hablu minannaas. Akhlak berkaitan dengan hubungan ke sesama manusia, sedangkan Tasawuf berkaitan erat dengan hubungan kepada Allah. Akhlak adalah perbuatan baik yang dapat dilihat oleh kasad mata lahiriah, sedangkan Tasawuf adalah perbuatan yang hanya dapat dilihat oleh Allah yang Maha mengetahui yang lahir juga yang bathin, karena berada di dalam hati.

Dari keterangan di atas dapat disimpulan bahwa, akhlak dan tasawuf adalah dua kata, namun memiliki makna dan tujuan yang sama, yaitu menjadikan manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada Tuhan-nya dan kepada sesama manusia untuk suatu tujuan utama, yaitu mendapatkan keridha’an dari Tuhan-nya (Allah).

# AKHLAK TASAWUF NABI MUHAMAD SAW

Ketahuilah, bahwa, sebaik-baik akhlak adalah akhlak Nabi Muhamad SAW. Sehingga dikatakan bahwa, akhlak itu adalah Muhamad, dan Muhamad itu adalah akhlak atau suri tauladan yang baik uswatun hasanah, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT di dalam Al-Qur’an yang memiliki arti:

dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(QS. Al-Qalam:4)
Sesungguhnya  telah  ada  pada (diri) Rasulullah itu  suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)
Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang muslim mengambil dan menjadikan Nabi Muhamad SAW sebagai suri tauladan atau contoh yang baik bagi dirinya serta dapat menularkan hal tersebut kepada sesama manusia, dan inilah maksud dari apa yang Allah isyaratkan di dalam ayat-ayat-Nya berikut ini:
dan Dia (tidak pula) Termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.(17) mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan(18).(QS. Al-Balad: 17-18)

# SEJARAH MASUKNYA TASAWUF KE INDONESIA

Jika kita berbicara tentang sejarah masuknya tasawuf ke Indonesia, hal ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah awal masuknya agama islam ke indonesia yang dilakukan oleh para ulama yang sholeh, ada juga yang berpendapat bahwa masuknya islam ke Indonesia melalui para pedagang arab dan gujarat yang berdagang sambil mensyi’arkan agama islam di Indonesia. 

Selepas dari masih banyaknya perdebatan tentang teori masuknya islam ke Indonesia, sejarah membuktikan bahwa menyebarnya agama islam di Indonesia sampai saat ini, itu berkat jasa-jasa dari para ulama shaleh, terutama mereka yang terkenal dengan sebutan “wali sembilan” atau “walisongo” yang ada di pulau Jawa. Dari mereka inilah islam dapat menyebar luas di Indonesia sampai saat ini. 

Metode atau cara walisongo menyebar luaskan islam di Indonesia adalah dengan berbagai cara, diantaranya ada yang menyebarkanya dengan kesenian alat musik, seperti yang dilakukan oleh Rd. Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), ada juga yang menggunakan toleransi beragama, seperti yang dilakukan oleh Rd. Ja’far Shadiq (Sunan Qudus), dan lain-lain. 

Dari semua metode dakwah tersebut, nilai-nilai pokok yang diajarkan oleh walisongo pada saat itu adalah “akhlak” dan “tasawuf” sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi SAW dan sesuai dengan tujuan Allah mengutus Nabi Muhamad SAW ke muka bumi, yaitu untuk menyempurnakan akhlak manusia supaya manusia memiliki akhlak yang mulia akhlaqul karimah, berdasarkan hadits Nabi SAW, yang artinya: “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan  (manusia supaya memiliki) akhlak yang mulia”. Sejatinya akhlak tasawuf sudah diajarkan oleh Nabi SAW pada 14 abad yang lalu, kemudian dilanjutkan oleh sahabat, kemudian dilanjutkan oleh ulama-ulama sampai saat ini. 

Maka, muncul sebuah pertanyaan, setelah Nabi SAW, kemudian sahabat, kemudian ulama-ulama, siapakah yang akan menjaga dan memelihara apa yang sudah diajarkan oleh mereka para pendahulu tersebut.? Inilah tugas umat islam untuk menjaga dan memelihara itu semua.


# TOKOH-TOKOH TASAWUF DI INDONESIA

Disamping dari walisongo, banyak pula tokoh-tokoh tasawuf yang bermunculan selepas walisongo, yang ilmu dan pemikiranya masih hidup dan digunakan sebagai bahan penelitian serta rujukan dalam mengenal dan mendalami tasawuf, diantaranya adalah:
  • Hamzah Al-Fansuri
Hamzah Al-Fansuri lahir di kota Barus, yang zaman dahulu orang Arab sering menyebutnya dengan sebutan “Fansur”.
Itulah kenapa beliau memakai nama Al-Fansuri (Barus) di belakang namanya. Kota Fansur (Barus) terletak di pantai barat Provinsi Sumatra Utara, di antara Singkil dan Sibolga. Hamzah Al-Fansuri wafat pada tahun 1630, meski demikian, para pengikutnya tidak mengetahui secara persis pada tahun berapakah Hamzah Al-Fansuri wafat. Beliau adalah salah satu dari tokoh tasawuf yang banyak mengeluarkan  karya ilmiah di bidang tasawuf, di antaranya adalah: 
  1. Asrorul ‘Arifin Fi Bayani ‘Ilmis Suluk Wat Tauhid
  2. 'Asyiqin Al-Muhtadi
  3. Dan lain-lain 
Selain karya ilmiah di bidang tasawuf, beliau juga banyak mengeluarkan pemikiran-pemikiran-nya di bidang tasawuf, akan tetapi kebanyakan dari pemikiran beliau dipengaruhi oleh faham wihdatul wujud-nya Ibnu ‘Arobi, seperti pemikiran dan pemahamannya tentang hakikat wujud dan penciptaanya.

Menurutnya, hakikat wujud itu satu, walaupun kelihatanya banyak, dan semua benda itu hanyalah manifestasi dari Dzat yang hakiki yang disebut dengan Al-Haqq Ta’ala.

  • Syamsudin Al-Sumatrani
Syamsudin Al-Sumatrani adalah salah satu tokoh tasawuf terkemuka di Aceh. Beliau adalah murid dari Hamzah Al-Fansuri yang mengajarkan faham wujudiyah. Beliau hidup pada masa kesultanan Aceh (1606-1637M). Dalam pemikiran tasawufnya, Syamsudin Al-Sumatrani mengajarkan martabat tujuh dan sifat dua puluh Tuhan (Allah).

Konsep martabat tujuh mengajarkan bahwa,segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta, termasuk manusia, adalah aspek lahir dari hakikat  Yang Tunggal, yaitu Tuhan. Tuhan sebagai yang mutlak tidak dapat dikenal baik oleh akal, indera maupun khayal. Tuhan baru dapat dikenal sesudah bertajalli sebanyak tujuh martabat, sehingga tercipta alam semesta beserta isinya, termasuk manusia, sebagai aspek lahir dari Tuhan. 

Menurut Abdul Rahim Yunus, cara penggambaran ini menunjukan bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang tidak berbentuk, tidak terbatas, dan tidak terhingga. Di sisi lain pemikiran tersebut menunjukan keterbatasan dan keragaman wujud yang tampak.
Di antar ajaranya adalah bahwa Tuhan saja yang wujud. Hal ini didasarkan pada ayat Al-Qur’an berikut yang artinya:
Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin[1452]; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.

Konsep martabat tujuh cenderung berhubungan dengan tanazul dalam tasawuf. Tanazul diertikan sebagai turunya Wujud dengan penyingkapan Tuhan, dari keghaiban ke alam kenampakan melalui berbagai tingkat perwujudan. Teori ini menggambarkan bahwa manusia sebagai makhluk sempurna merupakan pancaran dari Wujud yang Sejati, yang menurunkan Wujud-wujud-Nya dari alam rohani ke alam materi dalam bentuk manifestasi wujud secara gradasi wujud. Proses penurunan wujud ini dalam referensi sufi dinamakan dengan tanazzul, yang dikenal dengan bentuk penyingkapan diri atau tajalli.
  • Nurudin Al-Raniri
Namanya adalah Nur Al-Din Muhammad bin ‘Ali bin hasanji bin Muhammad al-Raniri. Silsilah keturunan Al-Raniri berasal dari Indonesia, keturunan Arab. Disebut Al-Raniri karena beliau lahir  di daerah Ranir (Rander) yang terletak dekat Gujarat (India) pada tahun yang belum diketahui pasti. Dan meninggal dunia pada 22 Dzulhijjah 1096 H/21 September 1658 M di India.

Nurudin Al-Raniri banyak menghasilkan tulisan. Di antara buku yang ditulis oleh beliau, ada tulisan yang khusus untuk mengecam atau mengkafirkan penganut ajaran Syamsudin dan Hamzah Fansuri. Ini karena kedua orang tersebut dikategorikan sebagai penganut paham Wahdat al-wujud. Pada masa itu sedang panasnya polemik di masyarakat mengenai ajaran kedua sufi ini, bahkan ada yang menganggap keduanya sesat. Ini ditolak dengan tegas oleh Nuruddin al-Raniri.

Pemikiran Nuruddin al-Raniri dapat dikategorikan menjadi lima bagian, yaitu:
  • Pertama, tentang tuhan. Pendiriannya dalam masalah ketuhanan pada umumnya bersifat kompromis. Ia berupaya menyatukan paham mutakallimin dengan paham para sufi yang diwakili Ibn ‘Arabi. Ia berpendapat bahwa ungkapan “wujud Allah dan Alam Esa” berarti alam ini merupakan sisi lahiriah dari hakikatnya yang batin yaitu Allah, sebagaimana yang dimaksud Ibn ‘Arabi. Namun, ungkapan itu pada hakikatnya adalah bahwa alam ini tidak ada. Yang ada hanyalah wujud Allah Yang Esa. Jadi, tidak dapat dikatakan bahwa alam ini berbeda atau bersatu dengan Allah.
  • Kedua, tentang alam. Pandangannya bahwa alam ini diciptakan Allah melalu tajalli. Ia menolak teori ¬al-faidh (emanasi) al-Farabi karena akan membawa kepada pengakuan bahwa alam ini qadim sehingga dapat jatuh kepada kemusyrikan. Alam dan falak, menurutnya, meripakan wadah tajalli asma dan sifat Allah dalam bentuk yang kongkret. Sifat ilmu bertajalli pada alam akal, nama rahman bertajalli pada arsy; nama Rahim bertajalli pada kursy; nama Raziq bertajalli pada falak ketujuh; dan seterusnya.
  • Ketiga, tentang manusia, merupakan makhluk Allah yang paling sempurna di dunia ini. Sebab, manusia merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya. Juga, karena ia merupakan mazhhar (tempat kenyataan asma dan sifat Allah paling lengkap dan menyeluruh). Konsep insan kamil, katanya, pada dasarnya hampir sama dengan apa yang telah digariskan Ibn ‘Arabi.
  • Keempat, tentang Wujudiyyah, menurutnya inti ajaran Wujudiyyah berpusat pada wahdah al wujud, yang disalahartikan kaum wujudiyyah dengan arti kemanunggalan Allah dengan alam. Menurutnya, pendapat Hamzah al-Fansuri tentang wahdat al-wujud dapat membawa kepada kekafiran. Bagi al-Raniri bahwa jika benar Tuhan dan makhluk hakikatnya satu, maka dapat dikatakan bahwa manusia adalah Tuhan dan Tuhan adalah manusia, maka jadilah seluruh makhluk itu adalah Tuhan. Semua yang dilakukan manusia, baik buruk atau baik, Allah turut serta melakukannya. Jika demikian, maka manusia mempunyai sifat-sifat Tuhan.
  • Kelima, tentang hubungan syariat dan hakikat. Pemiisahan antara syariat dan hakikat, menurut al-Raniri, merupakan sesuatu yang tidak benar. Kelihatannya, al-Raniri, sangat menekankan syariat sebagai landasan esensial dalam tasawauf (hakikat).
Kesimpulan dari Sejarah Dan Tokoh Tasawuf di Indonesia adalah:
  1. Tasawuf adalah suatu tindakan untuk membentengi seseorang dari pertipuan dunia.
  2. Tasawuf adalah suatu jalan thoriqoh untuk mendapatkan keridha’an Allah.
  3. Akhlak tasawuf merupakan perilaku Nabi Muhamad SAW yang harus ditiru dan diteladani oleh setiap individu manusia.
  4. Akhlak tasawuf adalah sesuatu yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhamad SAW dan bukan sesuatu yang baru bid’ah.
  5. Masuknya tasawuf ke Indonesia atas dasar toleransi dan keindahan akhlak yang diajarkan oleh para ulama terdahulu, sehingga mampu menyebar luas di Indonesia.
  6. Berkembangnya tasawuf di Indonesia tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh tasawuf dan pemikiran-pemikiranya.
  7. Banyaknya faham dan pemikiran tokoh-tokoh tasawuf tidak lantas menjadikan perpecahan di antara mereka, hal ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan persatuan umat seperti yang diajarkan Nabi Muhamad SAW.

Baca Juga: 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al – Qur’an
  2. Al – Hadits   
  3. Hasanah Amalia, 2013.Kamus Besar Bahasa Arab .Pustaka Widyatama. Yogyakarta
  4. Hinduan A Thoriq, 1996. Pemahaman Keimanan Dalam Islam. Sinar Baru
  5. Algensindo. Bandung
  6. Sirr al-asra’r wa Muzhhir al – Anwar fi ma Yahtaju ilaihi al – Abrar karya asy –
  7. Syaikh Abdul Qadir Jailani, ditahqiq Oleh Khalid Muhammad Adnan as 
  8. Zar’i, dkk, Dar Ibnu al – Qayyim dan Dar as – Sanabil, Damaskus 1993 M.
  9. Titian Mahabbah Sahara publishers. Jakarta. 2003 M
  10. Simon Hasanu, 2007. Misteri syekh siti  jenar. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
  11. Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Muhamad Syatha Ad-Dimyathi, kifayatul atqiya wa manhajil asyfiya, Daar Al – kitab Al – Islmi An – Nabhan. Surabaya
  12. Hafizh Hasan Al – Mas’udi, taysyirul kholaq, Al – ‘Alawiyah. Semarang
  13. Imam Al – Ghazali, minhajul ‘abidin. Daar Al – Ilmi. Surabaya
  14. http://www.sarjanaku/sejarah dan tokoh tasawuf di Indonesia.com

Contoh Soal UAS Tentang Al-qur'an. Lengkap!!

al-qur'an

Baca Juga:

UAS STUDY ILMU AL QUR’AN


A.Amtsal Al-Qur’an

Soal no 1 : 

Coba jelaskan pengertian dari Amtsal al-Qur’an.?

Jawaban :
Secara bahasa, amtsal adalah bentuk jama’ dari kata mitsal, matsal dan matsal serupa dengan syibh, syabah dan syabih yang berarti perumpamaan, ibarat, contoh, dan ibrah.

Sedangkan menurut istilah, amtsal mempunnnyai  tiga pengertian :
  • Menurut ulama ahli adab, amtsal berati : “Ucapan yang banyak mengumpamakan keadaan suatu yang diceritakan dengan suatu yang dituju”
  • Menurut ulama ahli bayan, amtsal berati : “Ungkapan majaz yang disamakan dengan asalnya karena adanya persamaan (dalam ilmu balaghah disebut tasybih)
  • Menurut ulama ahli tafsir, amtsal berarti : “Menampakan pengertian yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat, menarik, yang mengena dalam jiwa, baik dengan bentuk tasybih maupun majaz mursal” 
Soal no 2 :

Sebutkan landasan pengembangan ilmu amtsal di dalam al-qur’an berdasarkan hadits Nabi SAW.?

Jawaban :
عن ابى هريرة رضي الله عنه . ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :
ان القران نزل على خمسة اوجوه : حلال وحرام , محكم و متشابه , والامثال .
فاعلموا الحلال , واجتنبوا الحرام , واتبعوا المحكم , وامنوا المتشابه , واعتبروا الامثال .
(رواه الحاكم)

Soal no 3 :

Sebutkan macam-macam amtsal beserta contohnya.?

Jawaban :
Menurut As-Suyuthi, amtsal terbagi menjadi tiga macam, yaitu :
  • Amtsal Mushorrahah, yakni amtsal yang  lafadznya jelas, biasanya menggunakan kata مثل , contohnya seperti firman Allah dalam surat Hud ayat 24.
  • Amtsal Kaminah, yakni tamtsil yang tersembunyi serta tidak menggunakan lafadz tamtsil. Dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan ke dalam pribahasa, contohnya seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 68.
  • Amtsal Mursalah, yakni tamtsil yang berupa beberapa kalimat bebas, namun tanpa dilengkapi lafadz tamtsil, contohnya seperti firman Allah dalam surat Yusuf ayat 51 dan surat Hud ayat 85.
Soal no 4 :

Sebutkan unsur-unsur yang harus ada dari amtsal atau tamtsil.?

Jawaban :
  • Wajhusy Syabah, pengertian yang dapat difahami dari perumpamaan tersebut
  • Adatut Tasybih, seperti ك – مثل dan lafadz-lafadz yang menunjukan perumpamaan
  • Musyabbah, subjek sasaran perumpamaan
  • Musyabbah bih, objek yang dijadikan perumpamaan
Soal no 5 :

Apa faaedah dari mempelajari amtsalul qur’an.?

Jawaban :
  • Dapat mengungkapan pengertian yang abstrak dengan bentuk yang kongkrit yang dapat diterima oleh panca indera manusia
  • Dapat mengumpulkan makna yang indah, bagus, dan menarik dalam bentuk ungkapan yang singkat dan padat
  • Mendorong agar lebih giat dan rajin beramal baik dan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan teracela
  • Sebagai pujian dan celaan bagi yang diperumpamakan
  • Untuk menciptakan rasa berkesan dan membekas dalam jiwa

B.Aqsam Al-Qur’an

Soal no 1 :

Coba jelaskan pengertian Qasam.?

Jawaban :
Kata aqsam, adalah bentuk jama’ dari kata qasam, yang berarti sumpah.
Sedangkan menurut istilah, qasam adalah penekanan suatu berita sesudahnya dan menguatkan kandungan yang dimaksud.

Dalam KBBI, sumpah (qasam) ialah prnyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau sesuatu yang dianggap suci bahwa apa yang dikatakan atau dijanjikan itu benar.

Soal no 2 :

Ada beberapa hal yang digunakan oleh Allah dalam sumpah-Nya di dalam al-qur’an. Pertanyaannya adalah, apa saja hal-hal yang digunakan Allah dalam sumpah-Nya di dalam al-qur’an.?

Jawaban :
Ada dua hal yang digunakan Allah dalam sumpah-Nya di dalam al-qur’an.
  • Pertama, Allah menggunakan Diri-Nya sendiri untuk bersumpah dengan kebesaran-Nya. Contohnya seperti firman Allah dalam surat Maryam ayat 68 dan surat Al-Hijr ayat 92.
  • Kedua, Allah menggunakan makhluk-Nya untuk bersumpah. Contohnya seperti firman Allah dalam surat Asy-Syams ayat 1-7 dan surat Al-Lail ayat 1-3.
Soal no 3 :

Bila kita cermati, aqsam dalam al-qur’an meliputi beberapa hal yang digunakan di dalam kedudukan dan susunan kalimatnya. Pertanyaannya adalah hal-hal apa saja yang digunakan aqsam fil qur’an dalam kedudukan dan susunan kalimatnya, beserta contonya.?

Jawaban :
Kedudukan-kedudukan kalimat dalam aqsam fil qur’an setidaknya meliputi atau menggunakan lima hal, yaitu :
  1. Jumlah Khabariyah, (informatif dan terbanyak dalam al-qur’an), contohnya seperti firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat ayat 23
  2. Jumlah Thalabiyah, (kalimat permintaan), contohnya seperti firman Allah dalam surat Al-Hijr ayat 92-93
  3. Ungkapan Ghaib, seperti surat Al-hijr ayat 92-93
  4. Ungkapan Nyata, seperti surat Asy-Syams ayat 1-7
  5. Ungkapan tanpa jawaban, seperti surat Al-Buruj ayat 1-4
  6. Ungkapan yang menggunakan jawaban, seperti surat Asy-Syams ayat 1-9 dan surat At-Tin ayat 1-4
Soal no 4 :

Sebutkan macam-macam qasam (sumpah) dalam al-qur’an.?

Jawaban : 
  1. Qasam Zhahir, yaitu qasam yang fi’il qasam-nya disebutkan bersama dengan muqsam bih-nya. Contohnya seperti surat An-Nahl ayat 38.
  2. Qasam Mudhmar, yaitu qasam yang di dalamnya tidak dijelaskan atau disebutkan fi’il qasam dan muqsam bih-nya. Contohnya seperti surat Ali Imran ayat 187. 
Soal no 5 :

Sebutkan hikmah atau faedah dari qasam fil qur’an.?

Jawaban :
  • Menghilangkan keragu-raguan terhadap kebenaran yang telah nyata
  • Memperkuat dalil yang disampaikan bagi orang yang mengingkarinya
  • Menghapus kesalahfahaman terhadap kebenaran

C.Rahasia Di balik Ayat-ayat Pembuka

Soal no 1 :

Coba jelaskan, apa yang dimaksud dengan ayat-ayat pembuka.?

Jawaban : 
Ayat pembuka adalah ayat-ayat yang ada pada permulaan surat dan memiliki makna yang berbeda-beda.
Contohnya seperti pada surat Al-Fatihah yang diawali dengan lafadz الحمد 
yang memiliki makna “pujian”, atau pada surat Al-Ikhlash yang diawali dengan lafadz قل  yang memiliki makna “perintah”.

Soal no 2 :

Sebutkan macam-macam ayat pembuka dalam al-qur’an beserta contoh-contohnya.?

Jawaban :
1.Dengan “tsana” (pujian) ada 14 surat. Contohnya :

الحمد لله – تبارك الذي – سبحنان الذي – سبح لله – يسبح له – سبح اسم ربك
2.Dengan huruf “tahajji” (ejaan / abjad) ada 29 surat. Contohnya :

الم – المص – الر – طه – طسم – حم – حمعسق – كهيعص –  طس – ق – ن 
3.Dengan “nida” (panggilan) ada 10 surat. Contohnya :

ياايهاالذين امنوا – ياايهاالناس – ياايهاالنبي – ياايهاالمدثر – ياايهاالمزمل 
4.Dengan jumlah “khabariyah” ada 13 surat. Contohnya :

الهاكم التكاثر – انااعطيناك – انافتحنا – عبس يسالونك عن الانفال – لااقسم 
5.Dengan “qasam” (sumapah) ada 15 surat. Contohnhya :

والعصر – والشمس – والليل – والتين – والعاديات – والضحى 
6.Dengan “syarat” ada 7 surat. Contohnya :

اذاجاء نصرالله – اذاوقعة الواقعة – اذاجاءك المنافقون – اذازلزلت 
7.Dengan “amr” (perintah) ada 6 surat. Contohnya :

قل هوالله احد – قل اعوذ – اقرابسم ربك – قل اوحي 
8.Dengan “istifham” (kalimat tanya) ada 6 surat. Contohnya :

هل اتى – عم يتساءلون – الم نشرح – ارايت 
9.Dengan “do’a” (permintaan) ada 3 surat. Contohnya :

ويل للمطففين – تبت يدا – ويل للكل همزة
10.Dengan “ta’lil” (penjelasan) ada 1 surat. Contohnya :

لايلاف قريش

Soal no 3 :

Jelaskan, apa faedah dari “tsana” dalam ayat pembuka pada al-qur’an.?

Jawaban : 
  • Menetapkan sifat pujian
  • Menolak serta mensucikan dari sifat tercela
Soal no 4 :

Ada perbedaan pendapat yang tajam dalam menanggapi huruf “tahajji”. Sebagian ada yang menganggap huruf “tahajji” sebagai ayat. Sebagian lagi ada yang menganggapnya sebagai huruf “hijaiyah” (ejaan) biasa dan bukan merupakan ayat al-qur’an. Pertanyaannya adalah, siapakah kelompok-kelompok tersebut.?

Jawaban :
Mereka yang menganggap huruf “tahajji” sebagai ayat al-qur’an adalah orang-orang Kuffah. Sedangkan mereka yang menganggap huruf “tahajji” sebagai ayat al-qur’an adalah orang-orang Basrah.

Soal no 5 :

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama manakala menafsirkan huruf “tahajji” pada permulaan surat. Sebagian ada yang menafsirkannya, dan sebagian ada yang  tidak menafsirkannya serta menganggapnya sebagai ayat mutasyabbih. Pertanyaannya adalah, siapa sajakah mereka.?

Jawaban :
Mereka yang mengatakan bahwa huruf “tahajji” sebagai ayat mutasyabbih serta tidak menafsirkannya adalah Imam Asy-Sya’by. Sedangkan mereka yang menafsirkannya adalah Ibnu Abbas  r.a.

D.Nasikh dan Mansukh

Soal no 1 :

Coba jelaskan pengertian nasih dan mansukh.?

Jawaban :
Nasikh adalah isim fa’il dari kata kerja nasakho – yansakhu – naskhon, yang berarti menghapus, mencabut, atau membatalkan. Dan mansukh adalah isim  maf’ul dari kata kerja tersebut.

Sedangkan menurut istilah, Naskh berarti mencabut atau membatalkan hukum syara’ pada ayat sebelumnya dengan ayat yang datang sesudahnya.

Soal no 2 :

Faktor apa saja yang melatar belakangi adanya nasikh dan mansukh pada sebagian ayat-ayat al-qur’an.?

Jawaban :
  • Karena adanya ayat-ayat yang bertentangan satu sama lainnya dalam hal hukum syara’ yang tidak bisa dikompromikan lagi
  • Karena adanya mansa’, yaitu al-muakhor : yang diakhirkan atau ditunda. Mansa’ di dalam al-qur’an bermakna ayat-ayat yang mengandung hukum lantaran sebab yang bersifat sementara.
  • Karena adanya ‘am dan khosh dalam ayat al-qur’an 
Soal no 3 :

Sebutkan macam-macam nasikh.?

Jawaban : 
  • Naskhur Rasmi wa Baqa’il Hukmi, yaitu membatalkan (menghapus) ayat dan tetap menjalankan hukumnya.
  • Naskhul Hukmi wa Baqa’ir Rasmi, yaitu membatalakan hukum pada ayat dan tidak membatalkan (menghapus) ayatnya.
  • Naskhul Kitab bil Kitab, yaitu mebatalkan ayat al-qur’an dengan ayat al-qur’an yang datang kemudian
  • Naskhul Kitab bis Sunnah, yaitu membatalkan (hukum) ayat al-qur’an dengan (hukum) yang terdapat dalam sunnah (hadits)
Soal no 4 :

Bagaimana pendapat-pendapat ulama tentang nasikh dan mansukh.?

Jawaban :
Ada dua pendapat tentang naskh di kalangan para ulama, yakni ada yang menerima dan menolak adanya nask.
  1. Yang  menerima adanya naskh,seperti As-Suyuthi, Az-Zarkasyi, dan juga Imam madzhab fiqih yang empat. Mereka yang menerima naskh berpendapat bahwa “memang di dalam al-qur’an ada naskh pada sebagian ayat-ayatnya, dikarenakan adanya dua ayat yang saling bertentangan yang tidak bisa dikompromikan”
  2. Yang menolak adanya naskh, seperti Abu Muslim Al-Asfahani. Beliau berpendapat bahwa “kalau di dalam al-qur’an terdapat naskh, maka tentunya ada yang salah, entah itu dari Allah-nya atau pun dari Nabi Muhamad SAW selaku penerima wahyu, dan itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi.
Soal no 5 :

Apa hikmah yang terkandung dari adanya nasikh dan mansukh dalam al-qur’an.?

Jawaban :
1.Memberi kemaslahatan bagi umat
2.Agar tampak kadar keta’atan umat dalam bersiap segera mengusahakan diri memenuhi panggilan dengan jalan zhanni tanpa menuntut jalur yang pasti

E.Muhkam, Mutasyabbih, dan Mubham

Soal no 1 :

Coba jelaskan, apa pengertian muhkam, matasyabbih, dan mubham.?

Jawaban :
  • Muhkam menurut bahasa ialah sama maknanya dengan idzhar di dalam ilmu tajwid, yang berarti jelas atau tegas. Sedangkan menurut istilah, muhkam ialah lafadz yang artinya dapat diketahui dengan jelas tanpa perlu penakwilan terlebih dahulu.
  • Mutasyabbih ialah isim fa’il dari kata tasyabbaha – yatasyabbahu – tasyabbuhan yang berarti serupa, mirip, atau yang menyerupai sesuatu dan  sama maknanya dengan ikhfa’ di dalam ilmu tajwid,yang berarti samar atau tidak jelas. Sedangkan menurut istilah, mutasyabbih ialah lafadz al-qur’an yang makananya samar.
  • Mubham, mungkin yang dimaksud mubham di sini ialah pembagian sebagian ulama yang membagi ayat-ayat mutasyabbihat kepada beberapa tingkatan derajat, yakni :
  1. Ayat-ayat mutasyabbihat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah.
  2. Ayat-ayat mutasyabbihat yang maknanya hanya diketahui oleh orang tertentu saja, yakni mereka yang disebut dalam al-qur’an sebagai Ar-Rasikhuna fil ilmi.
  3. Ayat-ayat mutasyabbihat yang maknanya diketahui oleh orang umum dengan sebab tertentu.
Soal no 2 :

Adakah landasan yang menjelaskan tentang muhkam dan mutasyabbih pada al-qur’an.? kemudian berikan contohnya.!

Jawaban :

Ada, yakni firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 7.

Soal no 3 :

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ayat dalam al-qur’an adalah muhkam. Ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ayat-ayat al-qur’an adalah mutasyabbih. Coba jelaskan kedua pendapat itu beserta landasan hukumnya.?

Jawaban :
Adapun sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ayat al-qur’an adalah muhkam ialah mereka melihat ayat-ayat al-qur’an dari sudut pandang kerapihan susunan dan keindahan ayat-ayat al-qur’an. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Hud ayat 1.

Sedangkan sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ayat al-qur’an adalah mutasyabbih ialah karena mereka melihat ayat-ayat al-qur’an dari sudut pandang kesamaan i’jaz (mukjizat yang tak terdandingi) dalam kefasihan bahasa. Hal ini berdasarkan firman Allah dala surat Az-Zumar ayat 23.

Soal no 4 :

Dalam masalah muhkam dan muatasyabbih, setidaknya ada dua kutub pendapat ulama tentang kebolehan menta’wilkan ayat-ayat mutasyabbihat. Pertanyaannya adalah, siapa saja yang termasuk dalam dua golongan tersebut.? kemudian jelaskan pula apa argumen dari kedua golongan tersebut.!

Jawaban :
Menurut Dr. Kamaludin Marzuki, setidaknya ada dua kutub pendapat tentang kebolehan menta’wilkan ayat-ayat mutasyabbihat. 
  • Pertama adalah pendapat yang berpendapat bolehnya menta’wil ayat-ayat mutasyabbihat. Kelompok ini berpendapat bahwa huruf “wawu” pada aya
وما تاويله الاالله والراسخون في العلم di-athaf-kan kepada lafadz Allah. Dengan demikian, Al-Rasikhun (orang-orang yang mendalam ilmunya) pun dapat menegetahui ta’wil dari ayat-ayat metasyabbihat tersebut.
Diantara tokoh-tokoh yang termasuk dalam kelompok ini adalah Abu Hasan Al-As’ari dan Abu Ishak Al-Syirazy.
  • Kedua adalah pendapat kaum salafy seperti Imam Malik dan Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa ayat-ayat mutasyabbihat adalah ayat-ayat yang menyangkut sifat Allah dan kita selaku umat Islam hanya wajib mengimaninya saja serta tidak dibolehkan untuk mena’wilnya.
Soal no 5 :

Mengenai huruf “tahajji” yang terdapat pada permulaan surat dalam al-qur’an, ada kelompok mufassir yang mengatakan bahwa, huruf “tahajji” adalah termasuk ayat-ayat mutasyabbih. Pertanyaannya adalah, bagaimana pendapat anda tentang masalah ini beserta argumennya.?

Jawaban : 
Menurut pendapat kami, hal ini mungkin berdasarkan sebagian mufassir yang memaknai huruf “tahajji” (memiliki arti) dan sebagian lagi hanya menganggapnya sebagai huruf “hijaiyah” (ejaan) biasa tanpa mengandung arti atau makna. Seperti yang terjadi di kalangan Ulama Basrah dan Kuffah.

F.I’jaz Al Qur’an

Soal no 1 :

Apa pengertian dari I’jaz al-qur’an.? 

Jawaban :
I’jaz menurut bahasa berasal dari kata اعجز – يعجز – اعجازا  yang berarti lemah – melemahkan. I’jaz, membuktikan kelemahan, I’jaz, ketidak mampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kekuasaan dan kesanggupan. Sedangkan Mu’jizatan adalah isim mashdar dari kata tersebut, yang berarti kekuatan yang melemahkan. Mu’jizat ialah suatu urusan yang menyalahi kebiasaan yang dibawa oleh Rasul Allah sebagai bukti karasulan dan tidak ada yang dapat menandingginya.

Soal no 2 :

Seperti halnya shalat yang memiliki syarat dan rukun, begitu pula mukjizat. Tidaklah semata dinamakan mukjizat jika tidak memenuhi syarat-syarat sebagai mukjizat. Pertanyaannya adalah, apa saja yang termasuk syarat-syarat dari mukjizat.?

Jawaban :
  • Tidak ada yang mampu kecuali Allah
  • Kejadian ini di luar kebiasaan yang ada
  • Pembawa mukjizat mengaku sebagai utusan Allah
  • Bukti kerasulan dengan membawa mukjizat tersebut
  • Tidak ada yang dapat menandinginya atau menentangnya
Soal no 3 :

Diketahui bahwa para ulama sangat kesulitan ketika harus membeberkan keseluruhan mekjizat yang ada pada al-qur’an. Oleh karena itu, para ulama membaginya dalam beberapa bidang. Pertanyaannya adalah, sebutkan bidang-bidang apa saja yang dimaksud, beserta contoh-contohnya.?

Jawaban :
  1. Berita Ghaib, contohnya seperti hari akhir, hari pembalasan, dan siksa kubur
  2. Bidang Kesusastraan, contohnya susunan kalimatnya, nazhamnya, sajak, dan syairnya yang indah
  3. Bidang Tasyri’, contohnya seperti penentuan hukum, sosial maupun jinayah (pidana)
  4. Bidang Keilmuwan, contohnya seperti ilmu falaq dan thib : astronomi dan kedaokteran
Soal no 4 :

Jelaskan, apa fungsi dari mukjizat yang anda ketahui.?

Jawaban :
Sebagai bukti kebenaran kerasulan kepada para Rasul terhadap kaumnya.

Soal no 5 :

Kenapa al-qur’an disebut sebagai “mukjizat Nabi Muhamad yang paling agung”.? jelaskan beserta argumennya.!

Jawaban :
Karena semua mukjizat Nabi Muhamad SAW bersifat sementara serta tidak kekal / abadi. Sedangkan Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhamad SAW yang abadi dan tetap terpelihara kebenarannya hingga akhir masa.

G.Tujuh Huruf (ahruf al-sab’ah) Al Qur’an

Soal no 1 :

Apakah yang dimaksud dengan Tujuh Huruf Al-Qur’an.?

Jawaban :
Diketahui bahwa hingga sekarang, para pakar ilmu al-qur’an masih kesulitan dalam menentukan hakikat dari “tujuh huruf” al-qur’an. Tapi ada pendapat yang dinilai paling mendekati kebenaran, yakni yang dimaksud “tujuh huruf” al-qur’an adalah “tujuh” tempat di mana terjadi perubahan. Hal ini juga dikuatkan dengan hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim. 

Soal no 2 :

Adakah landasan al-qur’an atau hadits Nabi yang menjelaskan tentang “tujuh huruf” al-qur’an.? jika ada, sebutkan.!

Jawaban :
Ada, yakni hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. 
  • ان هذاالقران انزل على سبعة احرف , فاقراوا ماتيسرمنه .
  • اقرانى جبريل على حرف ثم لم ازل استريد فيزيدنى حتى 
  • انتهي الى سبعة احرف .
                      
Soal no 3 :

Bagaimana pendapat ulama dalam menjelaskan tentang “tujuh huruf” al-qur’an.?

Jawaban :
Para Ulama berikhtilaf dalam menentukan hakikat dari “tujuh huruf” al-qur’an. Belum ada kepastian tentang hakikatnya. Hanya saja, kita tetap perlu mengimani bahwa al-qur’an itu diturunkan oleh Allah dengan “tujuh huruf”. Berdasarkan hadits Nabi SAW.

Soal no 4 :

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksud “huruf tujuh” al-qur’an adalah “tujuh” tempat di mana terjadi perubahan. Pertanyaannya adalah di mana saja terjadi ketujuh perubahan tersebut.? jelaskan beserta contohnya.!

Jawaban :
a. Kata yang berubah harakat-nya, sementara bentuk tulisan dan maknanya tetap (tidak berubah). Contohnya : هن اطهرلكم menjadi 
هن اطهرلكم. Harakat dhammah pada huruf “ra” berubah menjadi fathhah.

b.Kata yang berubah maknanya, karena perubahan kedudukan tata bahasa, sementara bentuk tulisannya tetap. Contohnya : 
ربناباعد بين اسفرنا menjadi اسفرنا ربناباعدبين . Harakat “rabbuna” berubah menjadi “rabbana” dan harakat “ba’ada” berubah menjadi “ba’id”.

c.Yang terjadi perubahan makna lantaran berubahnya huruf, tetapi bentuk tulisannya tetap. Contohnya : ننشزها menjadi ننشرها . 

d.Bentuknya berubah, tetapi maknanya tidak berubah. Contohnya :
كالصوف المنفوش menjadi المنفوش  كالعهن .

e.Yang bentuk tulisan dan maknanya mengalami perubahan. Contohnya : طلح منضود menjadiمنضود  طلع  .
f.Perubahan susunan kalimat taqdim (mendahulukan) dan ta’khir (mengakhirkan). Contohnya : سكرة الموت بالحق  وجاءت (taqdim)
وجاءت سكرة الحق بالموت (ta’khir).

g.Perbedaan yang di dalam lahjah (logat) yang terjadi pada fathah, imalah, tarqiq, tafkhim, izhhar, idgham, dan lain-lain.

Soal no 5 :

Di antara pendapat-pendapat ulama yang menjelaskan tentang “tujuh huruf” al-qur’an, ada pendapat yang dinilai paling mendekati dan paling dha’if (lemah). Pertanyaannya adalah, jelaskan apa saja pendapat-pendapat tersebut dan mereka yang berpendapat demikian.?

Jawaban :
 Adapun pendapat yang dinilai paling lemah adalah pendapat yang mengatakan bahwa “tujuh huruf” tersebut adalah “tujuh bacaan” (qira’at al-sab’ah) dan mereka yang berpendapat seperti ini ialah Khalil bin Ahmad, Ath-Thabary, dan Ibnu Abdil Baar.
Sedangkan pendapat yang dinilai paling mendekati adalah pendapat yang mengatakan bahwa “tujuh huruf” tersebut “tujuh tempat” di mana terjadi perubahan dan mereka yang berpendapat seperti ini ialah Az-Zarqany.

Sekali lagi terima kasih untuk saudara Sofyan Suherman yang telah memberikan izin untuk memposting artikel ini yang berisi tentang Latihan Soal-soal Mengenai Al-qur'an Beserta Jawabannya. Semoga artikel ini bermanfaat, dan juga ilmunya bermafaat untuk orang lain. 

Salam mahasiswa!!

Contoh soal UTS Tentang Al-quran

al-qur'an

BAB I: Pengertian al – Qur’an

1.Jelaskan pengertian al – Qur’an.?

Jawab:
Al – Qur’an menurut bahasa ialah diambil dari kata dasar qoro’a –
yaqro’u – qur’anan yang artinya membaca, menjelaskan atau bacaan.
Sedangkan menurut istilah adalah “ Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW yang mengandung mu’jizat dengan wasilah / pelantaraan Jibril a.s secara mutawatir yang bernilai pahala apabila kita membacanya, yang ditulis pada mushaf, mulai dari awal surat al – Fatihah sampai  akhir surat an - Naas”

2.Al – Qur’an memiliki sifat-sifat yang khusus yang membedakan antara al – Qur’an dengan kitab-kitab lainnya, yang ditanyakan adalah, apa saja sifat-sifat tersebut dan jelaskan.?

Jawab:
Sifat-sifat al – Qur’an yang khusus dan yang membedakan al – Qur’an
dengan kitab-kitab selainnya, di antaranya adalah:

  • Al – Mu’jiz, artinya yang mengandung mukjizat.
  • Al – Mutawatir, artinya yang memilik banyak saksi pada saat turunnya al – Qur’an.
  • Al – Mahfuzh, artinya yang terpelihara keshahihannya sampai hari akhir / qiyamah.



3.Al – Qur’an memiliki beberapa nama, di antaranya adalah al – Furqon yang artinya Pembeda / Pemisah, pertanyannya adalah, kenapa al – Qur’an disebut al – Furqon dan berikan alasan dan dalil naqli-nya.?

Jawab:

  • Pertama,  karena Allah sendiri-lah yang menamai al – Furqon, seperti firman Allah dalam surat al – Furqon ayat 1.
  • Kedua, karena ia memisahkan antara yang benar dengan yang salah dan yang dengan yang bathil.

4.Kenapa al – Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dengan menggunakan bahasa Arab dan tidak menggunakan bahasa lainnya, serta apakah ada ayat al – Qur’an yang menggunakan selain bahasa Arab, jelaskan dan sebutkan contoh-contohnya.?

Jawab:

  1. Karena terdapat firman Allah yang menjelaskan tentang hal tersebut dalam surat al – Zukhruf ayat 1-3 dan surat al – Syu’ara’ ayat 193-195.
  2. Terdapat bahasa selain bahasa arab dalam al – Qur’an, seperti:
  • Istibroq, dari bahsa Yunani.
  • Sijjil, dari bahasa Persia.
  • Shirath, dari bahasa Romawi.


5.Apa hakikat  al – Qur’an menurut Para Mutakallimin.?

Jawab;
Menurut Para Mutakallimin, hakikat dari al – Qur’an adalah “Makna yang berdiri pada Dzat Allah”, hal ini sejalan dengan pendapat Al – Ghazali yang  berpendapat bahwa hakikat al – Qur’an adalah “Kalam yang berdiri pada Dzat Allah”.

BAB II: Proses turunnya (wahyu) al – Qur’an

1.Apakah yang dimaksud dengan wahyu.?

Jawab:
Wahyu menurut bahasa ialah isyarat yang cepat dengan tangan dan sesuatu isyarat yang dilakukan bukan dengan tangan, sedangkan menurut istilah ialah sebutan bagi sesuatu yang dituangkan dengan cara cepat dari Allah ke dalam dada Nabi-nabi-Nya, sebagaimana dipergunakan juga untuk lafazh al – Qur’an.

2.Bagaiman cara-cara wahyu turun kepada Nabi Muhamad SAW.?

Jawab:

  1. Mimpi
  2. Dihembuskan langsung ke dalam jiwa
  3. Berupa gemerincing lonceng yang keras.
  4. Berupa Malaikat yang menyerupai laki-laki dalam rupa Dihyah ibn Khalifah, seorang yang sangat elok rupanya, kemudian menyampaikan wahyu kepada Nabi SAW.
  5. Jibril memperlihatkan dirinya kepada Nabi dalam rupa aslinya yang memiliki 600 sayap. 
  6. Allah berbicara kepada Nabi SAW dari belakang hijab, baik dalam keadaan sadar, seperti peristiwa Isro Mi’roj, maupun keadaan tidur, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At – Turmudzi dari Mu’adz.
  7. Isrofil turun membawa beberapa kalimat wahyu, sebelum Jibril datang membawa wahyu.


3.Bagaimana proses turunnya wahyu, apakah wahyu tersebut langsung diturunkan kepada Nabi SAW secara langsung dari Allah kepada Nabi SAW dengan wasilah Jibril a.s, atau ada proses lain sebelum al – Qur’an itu disampaikan kepada Nabi SAW, melalui Jibril a.s.?

Jawab:
Al – Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW, melalui tiga tahapan, yaitu:

  • Pertama, al – Qur’an turun sekaligus dari Allah ke Lauh Mahfuzh, hal ini sesuai dengan isyarat Allah dalam firman-Nya, yakni Surat al – Buruj ayat 21-22 dan di dalam Surat al – Waqi’ah ayat 77-80.
  • Kedua, al – Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Bait al – Izzah, hal ini sesuai sesuai dengan isyarat Allah dalam Surat al – Qadar ayat 1, dan Surat al – Dukhan ayat 3.
  • Ketiga, al – Qur’an diturunkan dari Bait al – Izzah ke dalam hati Nabi melalui Malaikat Jibril dengan cara berangsur-angsur sesuai kebutuhan, adakalanya satu ayat, dua ayat, bahkan satu surat, hal ini sesuai dengan isyarat Allah dalam Surat al – Syu’ara’ ayat 193-195 dan Surat al – Furqan ayat  32.


4.Dalam jangka waktu berapa lama-kah al – Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW.?

Jawab:
Dalam jangka waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 Dzulhijjah (Haji Wada’) tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.

5.Apa hikmah yang terkandung dalal proses turunnya al – Qur’an secara berangsur-angsur.?

Jawab:

  1. Memantapkan hati Nabi SAW
  2. Menentang dan melemahkan para penantang al – Qur’an
  3. Memudahkan untuk dihafal dan difahami
  4. Mengikuti setiap kejadian (yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al – Qur’an) dan melakukan penahapan dalam penetapan syari’at.

(Baca Juga: 30 Soal dan Jawaban Mengenai Al-quran )

BAB III: Makiyyah dan Madaniyyah

1.Jelaskan pengertian Makiyyah dan Madaniyyah menurut terminologi.?

Jawab:
Ada tiga perspektif dalam mendefinisikan makiyyah dan madaniyyah secara terminologi, yaitu:
  • 1).Masa turun (zaman al – nuzul)
“Makkiyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, kendati bukan turun di Mekkah. Madaniyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Nabi hijrah ke Madinah, kendati bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Mekkah atau Arafah.”
  • 2).Tempat turun (makan al – nuzul)
“Makkiyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah dan sekitarnya, seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah. Sedangkan Madaniyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba, dan Sul’a.”
  • 3).Objek pembicaraan (mukhathab)
“Makkiyyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang mrnjadi kitab bagi orang-orang Madinah.”

2.Sudah diketahui bahwa al – Qur’an diturunkan dalam dua tahapan, yaitu ketika Nabi berada di Mekkah dan di Madinah, ayat-ayat yang turun di Mekkah disebut ayat Makkiyyah, dan ayat yang turun di Madinah disebut ayat Madaniyyah, pertanyaannya adalah,dalam jangka waktu berapa lama-kah ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah diturunkan.?

Jawab:
  1. Ayat Makiyyah diturunkan kepada Nabi SAW selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, dari 17 Ramadhan tahun 41 dari Milad Nabi hingga awal Rabi’ul awwal tahun 54 dari Milad Nabi SAW.
  2. Ayat Madaniyyah diturunkan kepada Nabi SAW selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, dari permulaan Rabi’ul awwal tahun 54 dari Milad Nabi hingga 9 Dzulhijjah tahun 63 dari Milad Nabi (10 H.)

3.Sebutkan ciri-ciri spesifik Makkiyyah dan Madaniyyah.?

Jawab:
  • 1)Makkiyyah memiliki ciri-ciri spesifik, diantaranya adalah:
  • a.Di dalamnya terdapat ayat sajdah
  • b.Ayat-ayatnya dimulai dengan kata kalla,.
  • c.Dimulai dengan ungkapan yaa ayyuha al – naas
  • d.Surat dan ayat-ayat-nya pendek-pendek
  • e.Ayat-ayatnya dimulai denga huruf tahajji
  • 2).Madaniyyah memiliki ciri-ciri spesifik, diantaranya adalah:
  • a.Mengandung ketentuan-ketentuan ibadah, mu’amalah, farai’dh dan hudud
  • b.Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafik.
  • c.Mengandung uraian perdebatan dengan ahli kitab
  • d.Sebagian surat dan ayat-ayatnya panjang-panjang.

4.Berapakah jumlah surat yang turun di Mekkah dan di Madinah.?

Jawab:
Surat yang turun di Mekkah berjumlah 86 surat, sedangkan surat yang turun di Madinah berjumlah 28 surat.

5.Apa pentingnya pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah.?

Jawab:
  1. Pertama, membantu dalam menafsirkan al – Qur’an
  2. Kedua, pedoman bagi langkah-langkah dakwah
  3. Ketiga, memberi informasi tentang sirah al – nabawiyyah

BAB IV: Asbab al – Nuzul

1.Apa makna dari asbab al – nuzul.?

Jawab:
Makna dari asbab al – nuzul  ialah “kejadian yang menyebabkan diturunkannya ayat al – Qur’an untuk menerangkan hukumnya di hari timbulnya kejadian-kejadian tersebut, baik diturunkan sesudah terjadi sebab tersebut, maupun kemudian karena suatu hikmah.”

2.Apa faedah dari mengetahui asbab al – nuzul.?

Jawab:
  • a.Mengetahui hukum Allah secara tertentu terhadap apa yang disyariatkan-Nya.
  • b.Menjadi penolong dalam memahami makna ayat dan menghilangkan ke-musykilan-ke-musykilan di sekitar ayat itu.

3.Apa yang dimaksud dengan “berbilangnya asbab al – nuzul untuk satu ayat (ta’addad al – sabab wa nazil al – wahid), jelaskan dan sebutkan contohnya.?

Jawab:
Berbilangnya asbab al – nuzul untuk satu ayat ialah adanya ayat yang memiliki lebih dari satu sebab yang  menjadi sebab-sebab diturunkannya ayat tersebut.
Contohnya yaitu, seperti surat al – Dhuha ayat 1-3 yang memiliki dua versi riwayat yang menjadi asbab al – nuzul-nya.
Versi pertama ialah hadits yang diriwayatkan oleh Al – Bukhari – Muslim dari Jundab. 
Versi kedua ialah hadits yang diriwayatkan oleh Al – Thabrani – Ibn Abi Syaibah dari Hafsah bin Maisyarah.

4.Jelaskan apa yang dimaksud dengan “berbilangnya ayat yang turun, tetapi sebabnya satu” (ta’addad al – nazil  wa al – sabab al – wahid).?

Jawab:
Maksudnya adalah adanya variasi ayat yang turun, akan tetapi asbab al – nuzul-nya satu, contohnya adalah seperti asbab al – nuzul-nya Surat Al – Taubah ayat 74, yang diriwayatkan oleh Al – Thabari, Al – Thabrani, dan Ibn Mardawaih dari Ibn Abbas.
Demikian pula Al – Hakim meriwayatkan hadis yang sama dengan redaksi yang sama dan ia mengatakan “Maka Allah menurunkan surat Al – Mujadalah ayat 18-19.”

5.Bagaimana cara mengetahui asbab al – nuzul.?

Jawab:
Yaitu dengan jalan mengetahuinya berdasarkan periwayatan yang benar (naqlu al – shalih) dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung turunnya ayat al – Qur’an.

(Baca juga: 30 Soal dan Jawaban Yang Membahas Tentang Al-qur'an )

BAB V: Qashash al – Qur’an

1.Apa maksud dari qashash.?

Jawab:
Yang dimaksud dengan qashash ialah pengajaran-pengajaran dan petunjuk-petunjuk yang berguna bagi para penyeru kebenaran dan bagi orang-orang yang diseru kepada kebenaran.

2.Apa tujuan dari Allah menceritakan kisah-kisah Nabi-nabi dan umat-umat terdahulu dalam al – Qur’an.?

Jawab:
Tujuan dari kisah-kisah tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • a.Menjadi penguat Nabi Muhamad SAW
  • b.Menjadi cermin perbandingan bagi segala umat
  • c.Memberi petunjuk kepada para penyeru kebaikan


3.Mengapa al – Qur’an tidak disebut “kitab sejarah”, padahal sebagian besar isi pada al – Qur’an berisi tentang kisah-kisah, jelaskan.?

Jawab:
Karena al – Qur’an tidak menguraikan kisah-kisahnya seperti kitab sejarah, tetapi hanya meceritakan kisah-kisah yang penting dan mengandung hikmah serta memberikan petunjuk bagi pembacanya.

4.Berapakah jumlah keseluruhan ayat al – Qur’an yang menjelaskan tentang kisah-kisah dan berita.?

Jawab:
Jumlahnya ada 1000 ayat yang menjelaskan tentang kisah-kisah dan berita menurut pendapat yang unggul (qaul al – mu’tamad).

5.Apakah di dalam kitab-kitab sebelumnya terdapat kisah-kisah yang sama seperti apa yang ada pada al – Qur’an, jelaskan dan sebutkan contohnya.?

Jawab:
Ada, contohnya seperti kisah Ashhab al – Kahfi.

BAB VI: Teknik penulisan, pengumpilan, dan penyusunan al – Qur’an

1.Apakah Nabi Muhamad memerintahkan untuk menulis al – Qur’an.?

Jawab:
Nabi tidak memerintahkan untuk menulis al – Qur’an, akan tetapi menyuruh untuk menghafalnya.

2.Mengapa Nabi Muhamad SAW hanya menyuruh untuk menghafal al – Qur’an dan tidak memerintahkan untuk menulisnya.?

Jawab:
Dikarenakan pada saat itu masih banyak orang Arab (Muslim) yang tidak bisa menulis.

3.Siapakah sahabat yang  diperintahkan oleh Nabi SAW untuk menulis al – Qur’an.?

Jawab:
Abu Bakar ash – Shiddiq, ‘Ali ibn Abi Thalib, dan Zubair ibn Awwam.

4.Siapakah yang  pertama kali melakukan penyusunan al – Qur’an.?

Jawab:
Abu Bakar ash – Shiddiq.

5.Diketahui bahwa al – Qur’an yang ada hingga sekarang adalah menggunakan bahasa Arab Quraisy, pertanyaannya adalah, siapakah orang yang berjasa menjadikan bahasa Arab Quraisy sebagai bahasa resmi al – Qur’an dan apa sebabnya.?

Jawab:
Orang yang berjasa dalam menjadikan bahasa Arab Quraisy sebagai bahasa resmi al – Qur’an adalah Utsman ibn Affan.
Sebabnya adalah karena orang Arab pada masa Jahiliyyah mempunyai beberapa bahasa, macam-macam ejaan, dan beberapa macam bunyi dalam menyebut kalimat. Dan tujuan dari Utsman adalah menghidari perbedaan qira’at dan menghilangkan perselisihan yang mungkin terjadi lantaran perbedaan membaca dan menyebut itu.

Terima kasih untuk SOFYAN SUHERMAN yang telah bersedia artikelnya untuk dipublikasikan. Semoga bermanfaat untuk yang lain. 

30 Soal dan Jawaban Tentang Al-qur'an

al-qur'an

Karena Suatu Hal Yang Membuat Admin Ini Harus Membuat Blog Baru. Maka Dari Itu Mohon Maaf Dan Mohon Kerja Samanya. Bahwa Halaman Ini Akan Kami Redirect/Alihkan Ke Blog Lain. Namun, Isinya Akan Tetap Sama. 



Jadi Ini Bukan Coppas, Hanya Saja Admin Memindahkannya Ke Blog Lain. Terimkasih Atas Pengertiannya...

30 soal dan jawaban tentang al qur'an - didalam artikel ini membahas tentang masalah-masalah yang harus dipelajari dalam al-Quran Yang telah kita ketahui, bahwa al-qur'an adalah kitabnya umat islam. Kitab Al-qur'an wajib dipelajari oleh setiap umat islam. Untuk lebih lanjut mengenai soal dan jawabannya silahkan baca dan pahami penjelasan dibawah ini.

A. Pengertian Al-Quran Sebagai Wahyu

1. Jelaskan pengertian Al-Quran secara bahasa dan istilah!


Jawaban: Al-Quran secara berasal dari kata قرٲیقرٲ قراءةوقرٲنا yang berarti bacaan atau cara membacanya. Adapun secara istilah sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ali As-Shabuni Al-Quran adalah kalam Allah yang mengandung mu’jizat yang diturunkan kepada Rasul terakhir dengan perantara malaikat terpercaya, yaitu Jibril AS, tertulis dalam mushaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah yang dimuai dari surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas.

2. Jelaskan pengertian wahyu secara bahasa dan istilah!


Jawaban: Wahyu secara bahasa merupakan bentuk mashdar yaitu Al-Wahy yang berarti tersembunyi dan cepat, ada juga yang mengatakan wahyu merupakan bentuk maf’ul Al-Muha yang berarti yang diwahyukan. Secara istilah wahyu adalah pemberitahuan Allah kepada orang yang dipilih dari beberapa hambanya mengenai beberapa petunjuk dan ilmu pengetahuan yang hendak diberitahukannya  tetapi dengan cara yang tidak biasa, baik melalui perantaraan ataupun tidak.

3. Sebutkan tiga nama Al-Quran beserta dalilnya!

Jawaban:

  1. Al-Furqan artinya pembeda tercantum dalam surat Al-Furqan ayat 1
  2. Adz-Dzikr artinya pemberi peringatan tercantum dalam surat Al-Hijr ayat 9
  3. At-Tanzil artinya yang diturunkan tercantum dalam surat Asy-Syu’araa ayat 192


4. Jelaskan pengertian hadits qudsi dan hadits nabawi!


Jawaban: Hadits qudsi adalah khabar atau berita yang disampaikan Allah kepada Nabi-Nya melalui ilham atau mimpi kemudian Nabi menyampaikan ma’na dari khabar tersebut dengan redaksinya sendiri. Hadits nabawi adalah segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan ataupun sifat Nabi.

5. Jelaskan tiga perbedaan antara Al-Quran dan Hadits qudsi!


Jawaban:
Al-Quran dari Allah, baik lafadz maupun ma’nanya. Sedangkan hadits qudsi ma’nanya saja dari Allah, sedang redaksinya dari Nabi SAW.

Membaca Al-Quran merupakan ibadah dan memperoleh pahala dari Allah. Sedangkan hadits qudsi apabila dibaca bukan merupakan suatu ibadah dan tidak memperoeh pahala dari Allah.
Seluruh isi Al-Quran dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya sudah muthlaq qah’i ats-tsubut. Sedangkan hadits qudsi sebagian besar memiliki derajat ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan zhanni ats-tsubut.

(Baca juga: Latihan soal Al-quran )

B. Nuzul Al-Quran


1. Jelaskan arti kata Nuzul Al-Quran menurut Imam Ar-Raghib Al-Ashfihani dalam kitabnya Al-Mufradat!


Jawaban: Imam Ar-Raghib Al-Asfihani dalam kitabnya Al-Mufradaat, kata Nuzul itu mempunyai arti :Al-Inhidar min Uluwwin Ila Safalin (meluncur dari atas ke bawah, atau berarti turun).Dengan demikian Nuzul Al-Quran adalah turunnya Al-Quran.

2. Sebutkan tiga tahapan turunnya Al-Quran!


Jawaban:

  • Tahap pertama atau At-TanazzuluAl-Awwalu, terjadi secara jumlatan wahidatan atau menyeluruh yaitu diturunkan oleh Allah ke Lauhil Mahfudz.
  • Tahap kedua atau At-Tanazzulu Ats-Tsani, terjadi juga secara jumlatan wahidatan dari Lauhil Mahfudz diturunkan ke sebuah tempat di samaa’i ad-dunya atau langit dunia yang bernama Baitul ‘Izza.
  • Tahap ketiga atau At-Tanazzulu Ats-Tsalits yaitu dari Baitul ‘Izza melalui malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW  secara tadarruj yaitu berangsur-angsur atau munajjaman bittanjih yaitu sedikit demi sedikit.


3. Sebutkan hikmah diturunkannya Al-Quran secara berangsur-angsur!


Jawaban:
Menguatkan dan mengukuhkan hati Rasulullah SAW
Mudah dipahami dan dihafal
Sesuai dengan lalu lintas peristiwa atau kejadian
Orang-orang mu’min antusias dalam menerima Al-Quran dan giat mengamalkannya.

4. Ayat dan surat apa yang pertama kali dirurunkan kepada Nabi Muhammad?


Jawaban: Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat. Pertama, ada yang mengatakan bahwa surat yang pertama kali diturunkan adaah surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Kedua,ada yang mengatakan surat yang pertama kali diturunkan adalah surat Al-Mudatsir. Untuk memadukan dua pendapat yang berbeda ini, para ‘ulama mengatakan bahwa yang pertama kali turun untuk menyatakan kenabian adalah surat Al-Alaq ayat 1-5 sedangkan yang pertama kali turun untuk menyatakan kerasulan adalah surat Al-Mudatsir.Ketiga, ada yang mengatakan bahwa yang pertama kali turun adalah surat Al-Fatihah. Keempat, ada yang mengatakan bahwa yang pertama kali turun adalah bacaan Basmalah, karena bacaan basmalah selalu ikut turun mendahului setiap surat.

5. Ayat dan surat apa yang terakhir kali dirurunkan kepada Nabi Muhammad?


Jawaban:

  • Dikatakan bahwa ayat yang terakhir itu adalah ayat riba, yaitu surat Al-Baqarah ayat 278.
  • Dikatakan bahwa ayat yang terakhir itu adalah surat Al-Baqarah ayat 281.


Kedua riwayat itu bisa dipadukan, yaitu bahwa pihak kedua ayat tersebut diturunkan sekaligus seperti urutannya dalam mushaf. Ayat mengenai riba dan ayat mengenai hutang masih satu kisah.Maka kedua ayat ini tidak saling bertentangan.

  • Dikatakan bahwa ayat yang terakhir itu adalah surat Al-Maidah ayat 3.
  • Dikatakan bahwa ayat yang terakhir itu adalah surat At-Taubah ayat 128.


C. Makiyyah Madaniyyah


1. Sebutkan empat kriteria dalam mendefinisikan ayat/surat makiyyah dan madaniyyah!


Jawaban:

  • Menitik beratkan perhatiannya kepada tempat turunnya suatu ayat.
  • Menitik beratkan perhatiannya kepada khittab/seruan/panggilan dalam ayat itu.
  • Menitik beratkan perhatiannya kepada masa turunnya ayat.
  • Menitik beratkan perhatiannya kepada apa yang dikandung/isi dari ayat/surat tersebut


2. Sebutkan ciri-ciri khusus ayat makiyyah!


Jawaban:

  • Didalamnya terdapat ayat-ayat sajdah. Contoh surat Al-A’raf ayat 206. 
  • Didalamnya terdapat cerita-cerita para nabi dan umat terdahulu, kecuali surat Al-Baqarah dan Al-Maidah
  • Didalamnya berisi ajaran-ajaran tauhid atau aqidah mendasar tentang mengesakan Allah.
  • Kebanyakan surat dan ayatnya pendek-pendek, karena menggunakan bentuk i’jaz.


3. Sebutkan ciri-ciri khusus ayat madaniyyah!


Jawaban:

  • Didalamnya berisi hukum-hukum pidana.
  • Didalamnya berisi hukum-hukum faraidh atau ilmu waris.
  • Didalamnya berisi hukum-hukum ibadah. Seperti shalat, zakat, puasa, haji dsb.
  • Didalamnya berisi hukum-hukum mu’amalat. Seperti jual beli, sewa-menyewa, gadai dsb.


4. Sebutkan faidah mengetahui makiyyah dan madaniyyah!


Jawaban:
Dapat dijadikan alat bantu dalam menfsirkan Al-Quran
Dapat mengetahi uslub/gaya bahasa yang berbeda-beda, karena ayat-ayat itu ditujukan kepada golongan yang berbeda-beda.
Dapat mengetahui sejarah hukum islam dan tahapannya yang bijaksana secara umum.

5. Sebutkan jumlah pengelompokan surat makiyyah, madaniyyah menurut Abdullah Syahhatah!


Jawaban: Abdullah Syahhatah mengatakan bahwa surat yang disepakati ‘ulama sebagai surat makiyyah ada 82 dan yang disepakati surat madaniyyah ada 20, sedangkan yang 12 surat lagi masih diperselisihkan status makiyyah dan madaniyyahnya.

D. Asbab An-Nuzul


1. Sebutkan pengertian Asbab An-nuzul menurut Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqani dalam kitabnya Manahilul Irfan fii Ulumil Quran!


Jawaban: Sesuatu yang terjadi serta ada hubungannya dengan turunnya ayat Al-Quran sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.

2. Menurut Syekh Mana’ Khalil Al-Qathan ada dua hal yang melatar belakangi turunnya ayat Al-Quran, sebutkan dua hal tersebut!


Jawaban:  Pertama, karena ada suatu peristiwa yang membutuhkan penjelasan atau keputusan, maka turunlah ayat Al-Quran. Kedua, karena adanya pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW, maka turunlah ayat Al-Quran.

3. Sebutkan kegunaan adanya Asbab An-Nuzul:


Jawaban:
Membantu menghilangkan kesulitan-kesulitan dalam memahami suatu ayat
Membantu mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan ayat Al-Quran diturunkan.
Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat Al-Quran

4. Apakah setiap ayat atau surat mempunyai Asbab An-Nuzul?


Jawaban: Dalam buku yang disusun oleh syekh Mana’ Khalil Qathan disebutkan bahwa tidak semua ayat atau surat mempunyai Asbab An-Nuzul karena ada beberapa ayat yang tidak mempunyai Asbab An-Nuzul, yaitu ayat-ayat ibtida atau pendahuluan yang mencakup tentang akidah iman, kewajiban islam dan syari’at Allah.

5. Bagaimana cara mengetahui Asbab An-nuzul?


Jawaban: Dengan cara periwayatan yang benar atau naqlu ash-shahih dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung tentang turunnya Al-Quran. Dalam hal ini para sahabatlah yang dianggap paling mengetahui tentang turunnya ayat Al-Quran.

Baca juga sob: Soal-soal tentang Al-qur'an lainnya. Lengkap!!

E. Tehnik Penulisan, Pengumpulan dan Penyusunan Al-Quran


1. Sebutkan sahabat-sahabat nabi yang termasuk kedalam kuttab Al-Wahy!


Jawaban: Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khathab, Usman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, ‘Amr bin ‘Ash, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Yazid bin Sufyan, Mughirah bin Syu’bah, Zubair bin ‘Awwam, Khalid bin Walid, Al-A’la Al-Hadhrami, Muhammad bin Salamah, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Tsabit  bin Qais bin Syammas.

2. Jelaskan kondisi penulisan Al-Quran pada masa Rasulullah SAW!


Jawaban: Pada mulanya Rasulullah SAW tidak menyuruh untuk menulis Al-Quran, hanya menyuruh untuk menghafalnya saja. Karena tidak semua sahabat Rasul pandai menulis dan membaca. Namun seiring berjalannya waktu dan adanya kekhawatiran akan wafatnya para penghafal Al-Quran, maka Rasul mengambil sikap dengan memperbolehkan untuk menulis Al-Quran. Walaupun media yang dipakai untuk menulis masih sangat sederhana, Al-Quran hanya ditulis dipelepah pohon kurma, tulang-tulang unta, lempengan-lempengan batu dsb.Walaupun pada masa ini Al-Quran sudah mulai dituliskan tetapi belum sampai dibukukan dalam satu kitab/mushaf.

3. Pada masa siapa Al-Quran sudah mulai dibukukan kedalam satu mushaf?


Jawaban: Pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq.

4. Apa jasa dari khalifah Usman bin Affan dalam penulisan Al-Quran?


Jawaban: Beliau berjasa dalam menyatukan dan menyeragamkan bacaan Al-Quran yang berbeda dalam satu bacaan yang sama serta menyusun tertib urutan surat seperti apa yang dilihat sekarang ini.

5. Siapakah yang pertama kali memerintah dan diperintah untuk memberikan syakal-syakal pada Al-Quran?


Jawaban: Yang pertama kali memerintah untuk memberikan syakal adalah Zaid bin Abihi yang merupakan salah seorang pembesar daulah Bani Umayyah. Dan yang pertama kali diperintah untuk memberikan syakal adalah Abu Aswad Ad-Duali.

(Baca Juga: 30 Soal dan Jawaban Mengenai Masalah Al-quran)

F.Qashash/ Kisah-Kisah dalam Al-Quran


1. Jelaskan pengertian kisah secara bahasa dan istilah!


Jawaban: Secara bahasa Qashash (قصص) merupakan bentuk jamak dari kata (قصة) yang berarti berita, kisah, perkara dan keadaan. Secara istilah sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Mana’ Khali Al-Qtahan, qashash adalah pemberitaan Al-Quran tentang hal-ihwal umat yang telah lalu, kenabian yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.

2. Sebutkan macam-macam kisah yang terdapat dalam Al-Quran!


Jawaban:
Kisah para Nabi yang memuat dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang ada pada mereka, sikap para penentang, perkembangan dakwah dan akibat-akibat yang diterima orang-orang yang mendustakan para Nabi.
Kisah-kisah yang berkaitan dengan kejadian-kejadian umat-umat terdahulu dan tentang orang-orang yang tidak dapat dipastikan kenabiaanya, seperti kisah Thalut, Jalut, dua putra Adam, Ashahab al-Kahfi, Zulqarnain, Ashabul Ukhdud dsb.
Kisah-kisah yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah seperti perang badar, uhud, tabuk dan lain sebagainya.

3. Sebutkan faedah adanya kisah-kisah dalam Al-Quran!


Jawaban:

  • Meneguhkan hati Rasulullah dan umat Muhammad atas kebenaran agama Islam.
  • Membenarkan para nabi-nabi terdahulu karena kisahnya dimuat dalam Al-Quran.
  • Dapat mengambil contoh teladan dari orang-orang sebeum kita.


4. Sebutkan unsur-unsur kisah dalam Al-Quran!


Jawaban: Pertama, ada yang disebut Pelaku atau disebut Al-Fa’il. Kedua, ada yang disebut Peristiwa atau Al-Muhadatsah. Ketiga, ada yang disebut dengan Percakapan atau Al-Hiwar.Keempat adalah tujuan dari kisah tersebut.

5. Apa tujuan adanya kisah-kisah dalam Al-Quran?



Jawaban: Untuk memberikan pengertian tentang seuatu yang terjadi dengan sebenarnya dan agar dijadikan ibrah atau pelajaran untuk memperkokoh keimanan dan membimbing kearah perbuatan yang baik dan benar.

Terima Kasih Kepada AHMAD FACHRUROJI yang telah bersedia isi dari artikel ini di publikasikan. Untuk Kalian yang ingin tulisannya di publikasikan pada blog ini, silahkan klik Contact Me